Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Praktik Baik
,
Selamat datang di website KOTAKU.
Lombok Tengah, 12 Juni 2017
Karang Timbang: Dari Permukiman Pakumis Jadi Permukiman Teratur


Oleh:
Lalu Mohamad Mayadi
Askot CD Mandiri
Kabupaten Lombok Tengah
OSP 7 Provinsi Nusa Tenggara Barat
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Dusun Karang Timbang adalah salah satu dari 14 dusun di Desa Montong Terep, Kecamatan Praya, yang awalnya merupakan kawasan permukiman padat dan kumuh dengan jarak antarrumah kurang dari 1,5 meter. Kepadatan yang cukup tinggi ini masih diperparah dengan kondisi kandang ternak sapi yang berdempetan dengan rumah penduduk. Saat itu tumpukan kotoran ternak menjadi pemandangan yang biasa dijumpai di sudut-sudut rumah dan pekarangan rumah, diiringi bau tak sedap. Ketika sampah kotoran ternak mengering, warga akan membakar, menimbulkan asap di sana sini menjadi polusi udara di kawasan permukiman.

Mungkin bagi penduduk kebiasaan lingkungan hidup yang tidak sehat tersebut sudah biasa. Mereka biasa makan dan minum bersama sapi, biasa melihat sampah berserakan di sana-sini, biasa dengan sanitasi berkualitas rendah, dan air bersih terkontaminasi kotoran sapi. Belum lagi air di musim hujan menggenang di jalanan tanah liat yang becek, lengket dan bercampur dengan kotoran sapi. Bau tidak sedap pun merebak, sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Karang timbang. “Parah.” Begitu salah satu kalimat pertama keluar dari Tim Satker Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat meninjau langsung kondisi eksisting Dusun Karang Timbang.

Selain bermata pencaharian sebagai peternak, penduduk Dusun Karang Timbang juga menjadi petani penggarap dan buruh tani. Rerata penduduknya adalah masyarakat berpenghasilan rendah. “Untuk makan sehari-hari saja kami harus bekerja ekstra untuk mencukupinya, bagaimana mau memikirkan kondisi kampung kami.” Demikian salah satu alasan warga.  

Kontras kedengarannya, karena di sisi lain, kinerja Unit Pengelola Keuangan (UPK) sangat memadai, didukung status kinerja Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Desa Montong Terep. Hal ini berkat keberhasilan pendampingan tim fasilitator dalam status “Mandiri” masih tampak ada salah-satu dusunnya berpredikat terpencil, Padat, Kumuh dan Miskin (Pakumis).

Untuk itu pada tahun 2012 pengurus BKM Beriuk Maju mengajukan minat untuk mendapatkan Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK). “Alhamdulillah, tahun 2013 Dusun Karang Timbang mendapatkan Program PLPBK dengan dukungan dana sebesar Rp1 miliar, dan dipercaya kembali mengelola Rp1 miliar untuk lokasi prioritas 2 dalam Program PLPBK Lanjutan,” kata Koordinator BKM Beriuk Maju Muzakir.

Semua kekumuhan dan ketidakteraturan rumah penduduk di atas merupakan cerita masa lalu. Empat tahun lalu Dusun Karang Timbang memang seperti itu. Kini, semua cerita di atas sudah berubah. Jalan kampung, sanitasi masyarakat, air bersih, kandang kompleks untuk ternak, Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), sarana pendidikan dan ruang terbuka hijau sudah baik dan terpelihara sampai saat ini. “Kami seperti mendapat hadiah dari Tuhan melalui program PLPBK. Saya sangat bahagia bisa menyaksikan perubahan kampung saya dan bahkan menjadi bagian dari perubahan ini,” kata Haris, seorang relawan sekaligus KSM.

Pasca pembangunan dalam kurun kurang dari 4 tahun, ternak yang menyatu dengan rumah sudah tidak terlihat lagi. Permukiman pun steril dari ternak kecuali unggas dan satwa peliharaan. Manusia sebagai penghuni utamanya dapat leluasa beraktualisasi, hidup bersih dan sehat, dan memantapkan pendidikan anak-anak. Demi menunjangnya, Ruang Terbuka Hijau (RTH) pun dibangun terkoneksi dengan PAUD (dan Rumah Pintar) “Kasih Ibu” yang memungkinkan warga berkumpul, anak-anak bermain, dan masyarakat berinteraksi.

Tak disangkal Desa Montong Terep adalah desa yang sukses “melepaskan” peternakan sapi dari permukiman penduduk. Jika dahulu sapi diternakkan di rumah karena ada rasa tidak aman dan tidak nyaman tidur bila malam hari jauh dari tempat tinggal, kini seluruhnya telah disatukan dalam kandang komunal di kawasan prioritas RT 4. Seorang anggota BKM setempat Saalni mengatakan, sudah sekitar 60 ekor sapi diambil dari permukiman di Dusun Karang Timbang yang meliputi RT 1, 2, 3 dan 4. Seluruhnya ternak tersebut telah direlokasi ke kandang komunal atas kesadaran warga sendiri.

Dusun Karang Timbang juga berhasil memperbaiki sejumlah akses jalan setapak becek menjadi jalan lingkungan yang rapi. Jalan terbuat dari rabat beton cetak semacam paving berornamen batu coral artistik khas Lombok, yang kanan-kirinya dilengkapi dengan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) rumah tangga.

Selain menghubungkan antar-RT, jalan lingkungan itu juga terintegrasi dengan jalan arteri. Jalan arteri yang dimaksud adalah jalan tanah yang melingkari desa yang dahulunya dipenuhi genangan di sana-sini pada saat musim hujan dan berdebu pada saat kemarau. Namun kini, sejak dibangunnya kawasan prioritas Montong Terep, jalan arteri desa itu dinaikkan statusnya menjadi jalan skala kabupaten dan telah di-hotmix oleh Dinas PU Kabupaten Lombok Tengah sebagai bagian dari dukungan Pemda selain juga dukungan teknis.

Melalui PLPBK semuanya berubah menjadi lebih baik, masyarakat sangat antusias membuat perencanaan kampung sendiri melalui Tim Inti Perencanaan Partispatip (TIPP) dan BKM. BKM Beriuk Maju adalah salah satu BKM yang mampu memahami Program PLPBK yang tidak sekedar pembangunan prasarana infrastruktur berbasis masyarakat, tapi mampu merubah perilaku masyaakat dari kebiasaan kumuh menjadi kebiasaan teratur Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tiap pekarangan dan halaman rumah warga tampak bersih, indah, karena didukung adanya tanaman bunga, apotek hidup dan tanaman empon-empon yang dilengkapi bak-bak sampak di depan rumah warga.

Kini Dusun Karang Timbang menjadi sumber belajar bagi yang berminat melakukan penataan kawasan permukiman kumuh menjadi kawasan teratur berbasis masyarakat. Tidak sedikit BKM dari kabupaten/kota lain baik dari Provinsi NTB maupun dari luar Provinsi NTB mau belajar dengan Dusun Karang Timbang. Beberapa kali tamu dari Tim Bank Dunia sudah hadir, termasuk Direktur PKP Rina Farida, berdialog bersama warga dengan maksud melakukan studi di Dusun Karang Timbang. [NTB]

Dokumentasi lainnya:

Editor: Basuki Raharjo/Nina Razad

(dibaca 66)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 1507, akses halaman: 1643,
pengunjung online: 65, waktu akses: 0,008 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank