Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Praktik Baik
,
Selamat datang di website KOTAKU.
Kendari, 12 Juni 2017
Masyarakat Sanua Meraih Mimpi

Oleh:
Suyuti H. M. 
TA Pelatihan
OSP 8 Provinsi Sulawesi Tenggara  
PNPM Mandiri Perkotaan

Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) menitikberatkan bagaimana menciptakan permukiman layak huni dengan pendekatan SEL: Sosial, Ekonomi dan Lingkungan, yang menempatkan Pemda sebagai “nakhoda” dalam upaya menuntaskan kumuh yang berkelanjutan. Demikian halnya di Kelurahan Sanua, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, yang masuk sebagai kawasan padat permukiman, kumuh, rawan banjir, longsor, minim fasilitas infrastruktur, dan sanitasi tidak memadai. Tak heran, kawasan tersebut menjadi sasaran prioritas bebas kumuh guna memenuhi target Nasional “100-0-100” pada tahun 2019, yakni nol (zero) kumuh.

Sejalan dengan target pencapaian bebas kumuh, maka pelaksanaan Program KOTAKU yang dimotori oleh BKM Sanua Mandiri dengan melibatkan secara aktif partisipasi masyarakat mulai dari perencanaan, hingga pelaksanan dan mengawasan dengan mekanisme melalui rembuk warga. Kelurahan Sanua, dengan nama BKM Sanua Mandiri, adalah salah satu Kelurahan di Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, sebagai lokasi pelaksanaan Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK).

BKM Sanua Mandiri sendiri beranggotakan 13 orang, dengan coordinator seorang wanita bernama Andriani Endang. Sebagai seorang aktivis, Andriyani—yang biasa dipanggil Bu Ani—itu mempunyai jaringan yang luas, baik dengan lembaga pemerintah, swasta maupun perorangan.

Ketika ada intervensi kegiatan maka BKM melakukan seleksi beberapa kawasan di Kelurahan Sanua yang memiliki kelayakan dan kesiapan untuk dijadikan lokasi kegiatan. Seleksi lokasi dilaksanakan dengan rembuk warga. Dari hasil rembuk-rembuk itulah banyak ide dan gagasan yang dianggap bisa membantu mewujudkan mimpinya warga. Intinya warga memiliki impian agar kawasan permukimanya menjadi lebih baik. Lalu guna mewujudkan itu, dalam prosesnya, dibangunlah kesepakatan-kesepakatan melalui rembuk warga.

Setiap rembuk selalu melibatkan masyarakat dan pihak luar yang dianggap mengetahui pokok permasalahan atau mempunyai kompetensi mumpuni di bidangnya, di antaranya, yang terlibat antara lain Polri, TNI, BNPB, dinas kesehatan, dinas pariwisata, dinas PU, dinas kehutanan, Bappeda, BPM, Perindagkop, pihak kelurahan, camat, PDAM, perguruan tinggi termasuk beberapa perusahaan swasta seperti pegadaian. Bahkan, BKM Sanua Mandiri telah melakukan kerja sama dengan pihak kepolisian dalam satu forum yaitu Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM), dan menjadi satu satunya BKM di Indonesia yang bermitra langsung dengan pihak kepolisian.

Dari hasil penilaian kinerja kelembagaan, BKM Sanua Mandiri tercatat sebagai BKM kategori menuju madani. Penilaian kinerja ternyata bukan hanya catatan semu semata BKM Sanua Mandiri, tapi juga mampu mewujud-nyatakan kategori kemandirian BKM dalam berbagai kemitraan dengan pihak lain. Selain itu, BKM memiliki kantor (sekretariat) yang layak di salah ruangan di kantor Lurah Sanua. Sehingga, keberadaan BKM sangat dikenal oleh masyarakat kerena setiap warga yang berurusan di kantor lurah pasti melihat ruangan sekretariat BKM.

Dukungan pemerintah dan lembaga lainnya sangat membantu di BKM Mandiri Kelurahan Sanua, di antaranya Lurah Sanua yang ikut berpartisipasi langsung menghadiri dan memfasilitasi rembuk-rembuk bersama warga, bahkan ia menyediakan ruangan di kantor lurah untuk dijadikan Sekretariat BKM.

Dukungan juga datang dari Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM). Mengenai pengembangan kawasan wisata air terjun hutan lindung yang saat ini mulai ditata, dan sudah membangun kesepahaman awal dengan dinas pariwisata dan dinas kehutanan tentang konsep obyek wisata air terjun. Bentuk kemitraan dan dukungan lainnya adalah pengadaan bak sampah oleh Perum Pegadaian sebesar Rp20 juta.

Kawasan ini memiliki harapan dan cita-cita yang mulai terwujudkan. Kesepakatan-kesepakatan yang menjadi aturan bersama dalam kawasan rencananya akan diperluas ke RT-RW lainnya. Bahkan, akan diperluas penerapannya hingga tingkat kelurahan. Aturan bersama tersebut adalah mengenai sistem persampahan, sistem air bersih, sistem drainase dan sanitasi, karena saling keterkaitan, dan merupakan kebutuhan di antara kawasan. Sistem pengelolaan sudah membentuk kelompok pengelola kawasan dan sudah ada penanggung jawab untuk masing-masing bidang, semisal air bersih, sampah, jalan dan drainase. Integrasi dan harmonisasi di antara jenis kegiatan pembangunan saling mendukung, saling melengkapi, dan diramu dalam perencanaan yang terintegrasi.

Sumber air bersih kawasan ini berasal dari mata air gunung. Awalnya masing-masing rumah menggunakan selang untuk mendapatkan airnya. Bayangkan, ratusan rumah mengunakan air bersih, artinya ratusan selang berbagai jenis dan warna, semrawut dan kisruh. Itu yang paling bikin kumuh memenuhi saluran drainase dan badan jalan. Ketika hujan besar, banjir bisa terjadi. Selain itu, biaya pembelian selang juga relatif mahal. Belum kalau airnya macet, harus periksa dari ujung ke ujung selang.

Sekarang sudah ada bak penampung air besar di permukiman, dengan satu jaringan pipa utama di saluran drainase jalan yang tertutup dan aman. Sedangkan untuk ke rumah-rumah dipasang pipa yang lebih kecil menuju rumah, menginduk ke pipa utama. Cukup dengan membayar Rp5.000 per bulan untuk biaya pemeliharaan.

Kelurahan Sanua sangat spesial karna hasil pekerjaannya yang memuaskan, bahkan melebihi dari kontraktualnya. Kawasan Sanua pun sudah berubah menjadi kawasan yang bersih, rapi, bahkan di malam hari kawasan ini tak ubahnya seperti kawasan wisata, dengan deretan lampu hias terpasang di masing-masing rumah, dilengkapi dengan kentongan yang dibagikan dari kepolisian sebagai alat komunikasi bagi warga bila ada kumpul, atau bahaya yang mengancam lingkungan.

Begitupun di ujung gang jalan kawasan ini, ada ruang terbuka hijau yang dilengkapi dengan fasilitas tempat duduk warna warni, dilengkapi meja yang biasanya digunakan warga utk bersantai karena kawasan ini juga menjadi pintu masuk kawasan wisata air terjun hutan lindung yang saat ini mulai ditata.

Semua warga khususnya di RT 1 RW 1 berkontribusi pada suksesnya program BKM Sanua Mandiri. Namun ada beberapa orang/tokoh yang bisa dianggap sebagai penggerak nya. Di antaranya, Bu Ani, sang koordinator BKM. Kemampuannya menggerakan partisipasi warga, membangun jejaring kolaborasi dengan pihak Pemda dan lembaga strategis lainnya di tingkat kota. Dialah salah satu orang yang tak kenal lelah, militan, konsisten, ide dan gagasanya juga selalu segar untuk membangun Sanua.

Ada juga tokoh dari pihak kepolisian yaitu Asep, anggota kepolisian Polda Sulawesi Tenggara, pengerak FKPM. Beberapa ide dan gagasannya dilaksanakan langsung oleh warga, seperti desain drainase tertutup, jaringan instalasi air bersih dan fasilitasi pengadaan kentongan.

Peran dan fungsi fasilitator yang bertugas mendampingi BKM Sanua Mandiri juga tak kalah strategisnya. Tim fasilitator membuka ruang diskusi terhadap BKM, bahkan dengan warga/relawan. [Sultra]

Dokumentasi lainnya:

Editor: Nina Razad

(dibaca 57)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 1492, akses halaman: 1628,
pengunjung online: 51, waktu akses: 0,016 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank