Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Praktik Baik
,
Selamat datang di website KOTAKU.
Yogyakarta, 13 Juni 2017
Karangwaru dalam Diskursus Madani


Oleh:
Nanang Priyana
Team Leader
KMW OSP 5 Provinsi DI Yogyakarta
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)   

Karangwaru telah menjadi trade mark kelembagaan dalam skala nasional, yang tidak mengenal batas intervensi institusi, mulai dari Faskel hingga menteri, dari masyarakat proletar hingga kaum bangsawan. Modal sosial menjadi kunci yang dikembangkan dan lestari, hingga muncul program “Karangwaru Bergerak” yang diketuai oleh Suandi Hamid, mantan Ketua Forum Rektor Universitas Islam Indonesia.

Hal ini dikarekankan kelebihan Kelurahan Karangwaru, antara lain, pertama, ada tim solid dan militan yang selalu koordinasi, konsolidasi secara intensif untuk menemukan potensi, mencari solusi terhadap berbagai persoalan kemiskinan dan kekumuhan di wilayahnya yaitu adanya “Tri Pilar” (Lurah, BKM, LPMK) saling mendukung, kerja sama dalam semua kegiatan.

Kedua, adanya keyakinan kuat konsep Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yang mendorong ikhtiar secara kontinyu dari pengurus untuk selalu bersosialisasi dan bersilaturahmi di komunitas dan momentum yang ada.

Ketiga, pembuktian BKM untuk tidak “Jarkoni”—iso ujar ora iso nglakoni (bisa menasihati, tapi tak bisa menjalankan) dengan wujud keaktifan dalam setiap karya kegiatan.

Keempat, legalisasi sosial dan legalisasi institusi terhadap transparansi diakui.

Kelima, Karangwaru telah menjadi persemaian orang-orang elit yang berjiwa sosial, sehingga merasa asing jika tidak berkolaborasi, berpartisipasi dalam komunitasnya (Karangwaru Riverside).

Keenam, prinsip beramal dan berkarya telah dibangun dan dilestarikan dalam jargon Karangwaru Riverside.

Ketujuh, mewujudkan inklusifitas Karangwaru, Karangwaru milik bersama, milik semua, bukan milik kelompok orang BKM atau lurah.

Kedelapan, banyak potensi yang terlibat khususnya SDM.

Kesembilan, gotong royong sangat baik.

Kesepuluh, hasil pembangunan yang dapat menjadi percontohan.

Kesebelas, pemberdayaan yang baik.

Kedua belas, mandiri untuk melakukan kemitraan dengan pihak luar.

Ketiga belas, adanya masyarakat yang terus menerus melakukan penguatan di masyarakat dan menjadi penggerak secara terus menerus tanpa rasa putus asa.

Keempat belas, adanya tokoh masyarakat yang disegani.

Kelima belas, kesadaran masyarakat di bantaran Kali Buntung untuk ditata tanpa meminta imbalan atau pengganti lahan.

Keenam belas, menggandeng lembaga lain.

Mengapa bisa baik? Karena sudah adanya kesadaran dan kepedulian dari masyarakat, adanya pembagian peran dan tugas dalam kegiatan, adanya komunikasi yang baik dengan semua pihak, adanya dukungan dari pemerintah kelurahan dan lembaga sosial, serta pelaku tidak berorientasi finansial.

Adapun yang terlibat dalam penataan dan pengelolaan Karangwaru, antara lain, Lurah Karangwaru Suhardi, staf kelurahan, tokoh masyarakat, BKM, LPMK, lembaga sosial tingkat kelurahan (Tasgana, Linmas, Karang Taruna), masyarakat, lembaga pendidikan—seperti Akademi Maritim Yogyakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi AAN Yogyakarta, Atma Jaya, UTY, AKAKOM Yogyakarta, SMU Muhammadiyah 1, SMU 4, serta kalangan dunia usaha setempat.

Ini didukung dengan kondisi BKM dan relawan setempat. Dalam hal ini, BKM dalam kondisi baik karena kelembagaan sudah berjalan cukup baik, sudah ada pembagian tugas di Pimpinan Kolektif BKM dan unit pengelola. Selain itu juga dalam hal dana perguliran, dinilai sangat baik karena tingkat pengembalian setiap bulan lebih dari 90%. Relawan yang mendukung kegiatan juga baik. Setiap ada kegiatan atau event yang melibatkan masyarakat, kehadiran mereka sangat membantu. Setelah pembagunan segmen 1 selesai, dibentuk komunitas Karangwaru Riverside yang menampung semua elemen masyarakat di bantaran Sungai Buntung. Saat ini meluncurkan gerakan sosial bersama (Guyub Rukun) Gumanti Esti Rahayuning Kartana (Karangwaru Bergerak).

Begitu pula dukungan pemerintah dan lembaga lain, khususnya pemerintah kelurahan sangat baik, walau dukungan tersebut bersifat tenaga, dan pikiran. Sedangkan dari lembaga lain cukup baik, selain dukungan tenaga dan pikiran, dukungan pendanaan juga diberikan oleh mereka.

Hingga kini hasil pembangunan bisa terpelihara karena mewujudkan “pembangunan berkelanjutan” yang terlahir dari kesadaran dari masyarakat sekitar. Di sisi lain, ada relawan yang senantiasa setia memelihara hasil pembangunan. Selain itu, dilakukan pula kerja bakti rutin, dan menyelenggarakan event rutin bulanan “Minggu Guyub” di setiap minggu ketiga. Namun yang paling kentara adalah pola pikir masyarakat yang sudah berubah, inilah yang membuat hasil pembangunan lestari. Adapun penggerak utama dalam hal pemeliharaan hasil pembangunan adalah Komunitas Karangwaru Riverside (KRS) yang dimotori Gatot Suprihadi, Subandono, Rihadiyanto, dan Cahyo Tri Hastomo.

Dari sisi konsultan, upaya yang dilakukan oleh Korkot, Askot dan fasilitator, antara lain, (a) mendorong BKM melakukan kemitraan, (b) mendorong intensitas lobi dan silaturahmi ke tokoh-tokoh, perusahaan, Pemda sebagai bagian membangun kolaborasi, (c) melakukan kemitraan di semua kesempatan kepada pemerintah, (d) memasukkan dokumen perencanaan ke dalam perencanaan tingkat kelurahan, kecamatan, Pemerintah Kota Yogyakarta dan sebagainya, (e) memberikan penguatan kepada BKM, lurah dan masyarakat. [DIY]

Editor: Nina Razad

(dibaca 585)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 2133, akses halaman: 2296,
pengunjung online: 171, waktu akses: 0,014 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank