Pengaduan On-Line

Genangan Air jalan Komp. VBR

Sischa_nalle Nov 4,2010
Kepada Yth, Bapak/Ibu Yang Berwenang Di Tempat Bersama ini kami selaku warga Negara Tangerang Selatan Villa Bintaro Regency Jl. Riau III Blok J6. Pondok Aren Pondok Kacang Timur, merasa ketidakadilan yang diakibatkan: • Sekitar Awal Oktober kami warga J6 No1,2,3 Rt 11 dan 1 warga Rt 12 melakukan perataan jalan yang telah mendapatkan ijin secara verbal dari ketua Rt 11 Bpk. Koen (saat ini mengundurkan diri karena masalah ini). Perataan itu dilakukan karena tempat kami selalu mendapatkan genangan air apabila hujan sampai dada atau bawah leher orang dewasa. Kami mengira hal ini adalah biasa karena warga Blok I juga melakukan peninggian jalan dan tidak ijin kepada warga Blok J yang mengakibatkan debit air akan bertambah lebih banyak ke daerah kami. Perataan jalan ini sudah separo jalan dengan biaya dari Pak Basri (yang nantinya kami memberikan urunan dana semampu kami) sekitar Rp. 14.000.000,- • Sebenarnya untuk warga Rt 11 tidak mempermasalahkan karena beberapa warga baik ibu-ibu dan bapak2 memberi dukungan dengan datang ke rumah Kel. Mamo. Karena mereka tahu kami adalah karyawan yang bekerja seharian dan meninggalkan 2 anak balita. Karena setiap hujan jalan depan kami selalu tergenang hingga sedengkul orang dewasa, tetapi jalan lurusan kami masih kering. Tetapi jika jalan depan kami sedada atau seleher orang dewasa, pastinya rumah kami terkena banjir dan seluruh blok J mengalami banjir sampai masuk ke area rumah, hal ini juga masuk ke rumah kami sampai dengkul. • Dan pada bulan oktober 2010 dimana jalan depan kami belum diratakan dan hujan deras yang mengakibatkan tergenang air hingga dengkul sehingga orang rumah kami (pembantu dan 2 anak balita) telat menyuruh orang mengeluarkan mobil kami karena kami sedang bekerja. Dan debit air semakin banyak sehingga masuk rumah hingga dengkul.dan depan kami sedada orang dewasa. Anak-anak kami terjebak banjir (terjadi dari pukul 16.00 tergenang air, 17.30 memasuki rumah)dan tidak bisa keluar dan menunggu kami orang tuanya(pukul 19.30) untuk mengeluarkan mereka dengan menggendong dipundak ayahnya karena saya sebagai ibunya tidak bisa masuk ke rumah karena air begitu tinggi mencapai dada Bpk. Mamo.Kerugian tidak hanya psikis karena mengkhawatirkan anak-anak kami yang terjebak banjir tanpa ada yang menolong (kejadian ini sudah berulang kali), selain itu materi karena mobil kami kerendam karena terlambat untuk mengeluarkan sedangkan jalan lurusan kami masih kering tetapi jalan depan kami sudah setinggi lutut orang dewasa. Untuk Rumah J6 No. 1 Kel. Pak Basri akan mengalami lebih parah lagi dimana mereka tidak bisa keluar karena genangan air tersebut, dimana mereka mempunyai anak balita dan bayi. Apabila sudah waktu hujan kami tidak bisa melakukan aktifitas karena genangan air. Kadang kami sebagai bahan tontonan karena tempat kami banjir local dan tempat mereka tidak.(hal ini dirasakan oleh Ibu Mamo dan Ibu Amen) • Wacana untuk perataan jalan sudah ada dari 3 tahun lalu, tetapi baru terealisasi Okober. Kami memang tidak memberitahukan warga Rt 12 atau warga depan kami karena rumah tersebut akan dijual, dan sebenarnya kami sudah mengantisipasi jika jalan depan rumah orang tersebut tidak lebih tinggi dibandingkan rumahnya, dan akan kami berikan jalan agar air tidak masuk kerumahnya. Sebenarnya rumah beliau basah diakibatkan air dari dalam bukan dari luar (karena ini sudah terbukti dimana pada saat itu jalan depan kami sudah diratakan, kami mempunyai bukti foto). • Hal ini kami lakukan karena tanggul pintu air baru sangat tinggi, air baru bisa keluar melalui pintu air tersebut apabila tempat kami sudah tergenang sekitar dengkul dan paha orang dewasa. “Yang kami inginkan mendapatkan hak yang sama dengan warga lain dimana mereka kering kami juga kering, pada saat mereka banjir tempat kamilah yang banjir terlebih dahulu”(kami mempunyai bukti foto) • Setelah kami melakukan perataan tanah baru 50% salah satu warga Rt 12 Bpk. Sardjono dengan mengatasnamakan warga tidak setuju dan mengintimidasi kami untuk tidak melakukan hal tersebut (terjadi sms yang bersifat intimidasi, sehingga orang tersebut mengganti No. HP). Mengerahkan warga Rt 12 untuk tidak setuju sehingga keadaan memanas (Membuat Ketua Rt 11 mengundurkan diri).Mengatakan apabila dilakukan perataan jalan air akan balik arah dan membuat warga lain terkena banjir (hal ini sudah terbukti dengan foto tidak terjadi seperti awal kami katakan tempat mereka banjir tempat kami lebih banjir). • Sudah ada musyawarah RT 12 dengan diketuai ketua RT 12 Bpk. Baba (beliau tidak memberikan solusi tetapi menekan Bpk. Mamo) dengan mengundang warga yang tergenang (Bpk. Basri, Bpk Tito, Bpk Mamo, Bpk. Sesko, Bpk. Amen) saat itu yang datang adalah Bpk. Mamo (Ibu Diah sedang diluar kota) dan Bpk. Amen. Saat itu kami ditekan oleh warga Rt 12. Ada beberapa Rt 11 yang ada ditempat tersebut tetapi tidak sengaja disana (saat itu mau ke tempat ex Ketua RT 11 Bpk Koen), warga RT 12 dan keluarga Bu Arief memberikan perintah proyek tersebut dan mengeluarkan material dari rumah Bu Arief (hal ini kami salah karena tidak memberitahukan kepada beliau untuk memakai pekarangannya untuk material dan banyak tukang). Tetapi untuk paving blok yang berada disamping taman menurut kami adalah fasilitas umum yang merupakan milik developer (tetapi menurut beliau adalah tanah milik dia karena sudah ijin RT dan RW). Pada saat itu Pak Ridwan yang diberi wewenang untuk membersihkan (sudah dibersihkan oleh tukang kami) tetapi paving tidak karena menurut Pak Ridwan dan warga lain taman tersebut adalah Fasum. Setelah itu Mandor kami Mas Doel diancam oleh Bpk Sardjono (untuk tidak melanjutkan proyek tersebut atau……) • Mengalami jalan buntu meminta bantuan Ketua RW. 12 Bpk. Candra dengan membawa orang teknik. Tidak mengalami solusi akhirnya beliau meminta bantuan bapak Camat. Dan mengeluarkan keputusan dari RW dengan mengatasnamakan Camat untuk melarang proyek tersebut. Dan menyerahkan wewenang penanggulangan banjir ke Tim Banjir.Sebelumnya rapat di rumah Bpk. Ridwan akan dibelikan untuk pompa air untuk penanggulangan genangan air (tidak ada dana, dan akan ditalangi oleh RW dengan janji akan dikembalikan dana tersebut oleh RT).Musyawarah tersebut memanas dengan adanya Bpk. Candra Congor (RT 12) yang emosi mengatakan seakan-akan kami warga baru yang mencari keributan dengan “Saya akan membela sampai mati Ibu ini (Ibu Arief)”. Sebelumnya Ibu Arief mengancam akan melaporkan ke polisi dan menuntut Bpk. Mamo via pengacaranya dirumah Ketua RT 11 Bpk Koen.Kami menghormati Ibu Arief yang sedang sakit jantung, tetapi yang ingin kami tanyakan sebagai warga yang mengatakan Bu Arief tidak pernah mencari ribut dengan tetangga bisa ditanyakan dengan tetangga sebelah dan warga sekitarnya bagaimana perilaku beliau sebagai tetangga yang ”baik” apalagi perlakuan terhadap orang kecil.Terus terang kami warga RT 11 tidak pernah mengeluarkan kata-kata emosi atau mengedepankan otot daripada otak. Bpk Eddy/RT 11 (Tim Banjir)juga sudah emosi karena Ibu Diah (RT 11) mengatakan “Kita sudah bayar lunas Rp. 3.000.000, untuk tanggul tapi tidak ada perubahan” (Hal ini terbukti tempat kami masih banjir dan tergenang air baik tanggul itu sudah benar tetap saja rumah kami masuk hingga dengkul tidak berubah)”. • Bpk. Basri menulis surat ke Camat dengan tembusan Polsek dan DPRD. Agar mendapatkan solusi dimana yang hanya kami inginkan apabila perataan jalan tidak diperbolehkan kami mendapatkan solusi mengenai genangan air karena dari semua solusi hanya dilarang untuk proyek tersebut tetapi tidak ada solusi untuk genangan air. Sampai saat tersebut Ancaman masih dilakukan oleh Bpk Sardjono ke Mas Doel. • Selama menunggu keputusan camat pada hari Sabtu, 30 Oktober 2010 terjadi beberapa warga 12 bapak-bapak dan ibu-ibu yang diketuai Bu Sardjono (sekitar belasan warga yang tidak semua kami kenal), serta Bpk. Eddy ke rumah Bpk. Basri untuk menanyakan kapan dibereskan jalan depan rumah kami. Pada saat itu Kel. Bpk Basri dan Ibu Diah (depan rumahnya sedang mengangkut barang ke mobil, dan tidak notice dengan huru hara yang ditimbulkan oleh warga Rt 12). Dimana saat itu terjadi omongan keras dan initimidasi dan lebih kearah anarkis yang dilakukan oleh Bpk. Sardjono, Bpk Chandra Congor, Bpk Eddy, Bpk yang tidak saya ketahui namanya (Rumahnya berada disebelah Ketua RT 12 Bp. Baba) dan Bpk Johny well (Bendahara Tim Banjir) kepada keluarga Bpk. Basri. Ibu- ibu warga Rt 12 yang dibawa untuk mengantisipasi apabila Ibu Diah berbicara. Dan Bpk Basri meminta supaya Bpk. Mamo untuk menghadapi warga RT 12, tetapi Bpk Mamo sedang mandi dan sholat duha sehingga warga pergi begitu saja. • Perlu diketahui dari awal Bpk. Sardjono seorang PNS (selalu mengatakan Komandan)sebagai warga 12 dan mengatasnamakan warga yang peduli banjir sangat tidak setuju terjadi proyek tersebut. Apabila warga RT 12 yang melakukan intimidasi dan mengatakan kita warga baru yang mengadu domba, adalah warga peduli banjir kenapa dari urunan warga untuk perbaikan tanggul yang terkumpul yang terbanyak adalah sumbangan dari warga RT 11 (dimana mereka tidak mempermasalahkan proyek tersebut). Dan warga yang mengintimidasi tersebut beberapa belum lunas untuk urunan Rp. 3.000.000 dan beberapa tidak ikut andil untuk membuat pintu air baru Rp. 1.000.000. “Apakah suara mereka yang selalu didengar karena mereka warga lama”. • Pada saat itu polisi Camat mendatangi kediaman Bpk Basri untuk tidak membuat keributan (yang membuat keributan kami atau warga RT 12). Pada hari tersebut Calon Bupati Ibu Airin bersama dengan camat H. Apendi S.Sos, Msi, Bpk RW Chandra meresmikan rumah yatim di komplek kami Villa Bintaro Regency. Apabila Ibu Airin seorang wanita dan mengerti kesulitan saya sebagai seorang ibu dan wanita, seharusnya mengerti ketidakadilan dari warganya khususnya wanita yang diintimidasi oleh seorang warga pria akibat dari permasalahan ini. • Pada tanggal 3 November kami diundang untuk rapat pada hari itu juga, dimana surat tersebut tertanggal ! November 2010, Keluarga Mamo baru menerima menjelang siang hari dimana Bpk Mamo sudah pergi kerja dari pukul. 06.30 setiap harinya, dan Ibu Diah sedang keluar kota, yang datang hanya Bpk. Basri dan Bpk Candra Congor dan Bpk. Sardjono.Rapat tersebut dihadiri oleh Bpk. Camat H. Apendi dan beberapa staf tata kota. Yang menghasilkan keputusan secara sepihak untuk tidak melanjutkan proyek tersebut tetapi tidak memberikan solusi genangan air tersebut. Kerugian kami tidak hanya Rp. 14.000.000 siapa yang akan menanggung dan kami akan selamanya tergenang air dan aktifitas kami akan terganggu dan akan banyak serangga seperti kecoak naik ke carport kami apabila tergenang, anak-anak kami harus diangkat/digendong untuk keluar dari genangan air tersebut untuk ke sekolah atau TPA, kami harus cepat-cepat mengeluarkan kendaraan kami agar tidak terjebak air, kami harus menggulung celana dan rok serta menenteng sepatu untuk pergi kerja apabila terjadi hujan pada pagi hari. • Setelah kejadian kendaraan kami terendam, pada saat kami kerja kendaraan kami selalu dititipkan di pos satpam depan gerbang, dan baru akan dimasukkan pada saat weekend dimana kami berada dirumah. Kami selalu was-was apabila hujan karena disaat kami kerja kami meninggalkan anak-anak kami (ketakutan mereka terjebak didalam tidak ada yang menolong). Tetapi beberapa warga RT 11 dan 2 orang warga RT 12 (jalanan tidak tergenang)sekarang sudah menawarkan anak-anak kami dititipkan ke mereka apabila tergenang air. Apabila Bpk. Apendi yang terhormat sebagai Camat, Bpk. Chandra sebagai Ketua RW hanya mementingkan warga lama dan tanpa melihat bukti foto otentik kami, menghasilkan keputusan yang sangat merugikan kami. Dan mengapa undangan dilakukan pada hari kerja dan surat diberikan pada hari yang sama sekitar pukul 08.00 dimana kami sudah kerja. Kami selaku warga merasa tidak diperhatikan karena rapat dilakukan pada saat warga yang terkena imbas genangan tidak hadir semua, dan tidak diberi kesempatan untuk berbicara.Dimanakah keadilan itu agar kami mempunyai hak yang sama agar dapat beraktifitas seperti yang lainnya. Kami disuruh untuk membersihkan jalanan tersebut tapi pompa air yang dijanjikan tidak terealisasi. Kenapa Tim Banjir tidak dituntut karena gagal sudah 2 tahun tidak ada kemajuan. Dan Kenapa warga Blok I melakukan peniggian jalan sehingga air akan masuk ke blok kami sehingga menambah tinggi genangan air. Dan Kenapa kami yang ditekan untuk mengikuti keinginan mereka. Keluarga Mamo menginginkan Urunan Rp. 3.000.000,- untuk dikembalikan oleh Tim Banjir melalui Bpk. Johny Wel selaku Bendahara Tim banjir karena masih banyak warga yang tidak bayar dan belum lunas tetapi mereka tidak terkena banjir dan diuntungkan dengan tanggul baru. Terus terang uang sebesar itu adalah hasil kerja keras kami berdua, dan untuk mendapatkannya tidak mudah harus pergi pagi dan pulang malam dengan asumsi meninggalkan kedua anak kami dirumah kami yang “aman dan nyaman”. Tetapi Kel. Mamo merasa dirugikan karena sebelum terjadi perbaikan dan sesudah perbaikan apabila banjir air tetap masuk kedalam rumah mencapai sedengkul orang dewasa. Kel. Mamo akan membayar apabila kami tidak terkena banjir dan tergenang air. Demikian keluhan kami selaku warga RT 11 dan RT 12 yang terkena genangan air. Apalagi kami harus dibebankan untuk menutup dan membuka pintu air karena kadang satpam suka terlambat (dimana posisi area kami banyak pekerja dan yang dirumah adalah pembantu rumah tangga, ibu RT, dan anak-anak kecil). Dan Keluarga Mamo memperkerjakan orang untuk selalu siaga menghadapi genangan air, banjir, dan menutup dan buka pintu air. Biasanya Bpk. Amen akan siap membantu untuk pintu air tetapi dikarenakan perataan jalan tidak diperbolehkan maka beliau tidak akan membantu lagi karena yang diuntungkan adalah warga yang mengintimidasi kami. Sebenarnya kami hanya perlu bukti bukan janji yaitu realisasi agar jalan kami tidak tergenang air dan tidak banjir lagi. Kami ingin orang yang berwenang untuk membantu kami mendapatkan solusi agar kami mempunyai hak yang sama sebagai warga.Dan tidak ada intimidasi dan teror yang dilakukan pada weekend (waktu yang sangat berharga bagi saya seorang ibu dan istri untuk melakukan aktifitas dengan keluarga). Sangat mengganggu kehidupan keluarga kami sehingga tidak nyaman berada dirumah kami sendiri. Sebagai seorang perempuan mengalami ketakutan akan rasa tidak aman meninggalkan keluarga khususnya 2 anak balita dan rasa khawatir karena suami ditekan oleh warga RT 12 (sehingga mengalami penurunan kualitas kerja yang dapat mengganggu keuangan kami).Seharusnya Ibu Airin yang terhormat peka akan kesulitan warga yang minoritas khususnya saya sebagai ibu yang hanya ingin melindungi anak-anaknya.Dan dapat menganalisa permasalahan tersebut. Apabila Pemda melakukan perbaikan jalan dan jalan tersebut lebih tinggi dari rumah warga atau property warga tidak ada masalah tetapi kami melakukan perbaikan jalan ketinggian tidak melebihi rumah warganya dan menggunakan dana kami sendiri dipermasalahkan, Jadi kami minta tolong untuk Pemda membantu untuk memperbaiki jalanan kami agar tidak tergenang tanpa harus mengatasnamakan “Fasilitas Umum” Note: - Saya sebagai warga yang awam akan hukum dan tidak mengetahui peraturan daerah, yang hanya sebagai seorang ibu yang ingin melindungi anaknya akan bahaya air (karena apabila keluar pada saat tergenang anak kami bisa tenggelam), sudah mengikuti aturan dengan lapor ke RT 11 (sebagai warga RT 11) dan meminta bantuan beliau untuk menyelesaikan, kemudian RW 12 (Bpk. Chandra) dan tingkat Camat. Mengalami jalan buntu menurut kami karena solusi jalan tergenang tidak kita dapat. - Setelah saya konsultasi dengan orang yang mengerti hukum, apabila mereka tidak bisa menyelesaikan keluhan kami, Pemda yang seharusnya turun tangan memperbaiki jalan kami agar tidak tergenang. Karena Developer kami sudah tidak ada dan sesuai surat RW yang diberikan ke kami bahwa jalan tersebut milik Pemda Tangerang dan perbaikan adalah diberikan ke Tim Banjir (hal ini tidak terealisasi dan kami masih tergenang). - Camat (Bpk. H. Apendi S.Sos, Msi) juga memberikan solusi agar jalan tersebut dikembalikan seperti semula tanpa memberikan solusi jalan yang selalu tergenang air. - Jika kami harus membongkar jalan tersebut alangkah bijaknya apabila Ketua RW 12 dan Camat juga membongkar peninggian jalan yang membuat air akan lari ketempat kami. - Dan untuk warga RT 12 khususnya sebaiknya juga menuntut Tim Banjir Blok J agar bisa menanggulangi banjir yang sudah semakin sering apalagi uang warga setiap KK dikenai Rp. 3.000.000,- dan tidak ada hasilnya ditempat kami (seperti yang saya jelaskan diatas). Karena kami memperbaiki jalan kami tidak menggunakan uang dari Warga RT 12 yang menuntut. - Jadi saya hanya menginginkan agar pihak yang lebih berwenang dan lebih bijak memberikan solusi permasalahan kami yaitu jalan tergenang air dapat teratasi. Sebelumnya saya mohon maaf apabila saya salah, tetapi saya tidak tahu harus mengadu dan meminta pertolongan kepada siapa, dan dari hati saya yang terdalam saya tidak ingin bersiteru dengan tetangga, yang saya inginkan rasa aman dan mendapatkan solusi yang memihak ke kami. Demikian permohonan kami untuk meminta bantuan agar dapat mengerti kesulitan Kami dan memberikan win win solution.Karena Jumat, 5 November 2010 kami yang merasa dirugikan dari segi material dan psikis sudah harus memasang Paving didepan jalan kami (dengan biaya swadaya dari kami sendiri dan pihak penuntut RT 12 tidak memberikan dana untuk membantu) dengan asumsi akan tergenang selamanya apabila hujan dan debit air meningkat. Hormat kami,:) Kel. Mamo Arief Soedharmono & Diah Avianti Soedharmono (021-93350813) Kel. Basri Kel. Amen Kel. Tito Warga Villa Bintaro Regency Blok J6 No.1-3 Warga yang tergenang air setiap hujan datang.

Tanggapan 1

Posted by |Nov 11, 2010|
  1. Kepada Yth, Ibu Diah Avianti Sudharmono di Tempat Terima kasih telah menggunakan media pengaduan online. Untuk diketahui, media pengaduan online ini diperuntukan bagi pengaduan-pengaduan yang berkenaan dengan pelaksanaan PNPM-Mandiri Perkotaan, sehubungan dengan pengaduan yang Ibu sampaikan, untuk lebih jelasnya silahkan menghubungi Pemerintah Kota Tangerang Selatan yang salah satu medianya melalui email : info@tangerangselatankota.go.id. Kami mohon maaf tidak dapat merespon pengaduan Ibu seperti yang diharapkan, karena diluar kewenangan kami. Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Salam, PPM-PNPM Mandiri Perkotaan

Pengaduan Online

    Pengaduan Online dipergunakan untuk menyampaikan informasi yang bersifat pengaduan tentang pelaksanaan KOTAKU. Tidak diperkenankan mengirimkan pengaduan yang berupa fitnah, hasutan, penghinaan, pelecehan, pornografi, narkoba, pendapat yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan), iklan (advertising) dan bernuansa politik apapun bentuknya secara Online. Pergunakan bahasa yang sopan dan berkaidah.

    PPM Pusat akan memfasilitasi setiap pengaduan yang masuk di pengaduan on-line bila :
    1). Menyebutkan lokasi kejadian yang diadukan secara lengkap (ada nama Kel/Desa, Kecamatan, Kab/Kota dan Provinsi)
    2). Isi pengaduan (substansi) terkait dengan pelaksanaan KOTAKU.
    3). Disertai dengan bukti-bukti pendukung terhadap permasalahan yang diadukan untuk menghindari terjadinya fitnah.

    Jika Anda berkeinginan untuk menuliskan pesan/tulisan yang bersifat "pengaduan KOTAKU" mohon gunakan fasilitas Pengaduan online.