Beranda Warta Berita Kelemahan PS di Lapang sebagai Proses Belajar

Kelemahan PS di Lapang sebagai Proses Belajar

Comments (0) View (1345)

P

PEMETAAN SWADAYA (PS) merupakan siklus P2KP yang kental dengan nuansa menggugah partisipasi warga dan sarana pembelajaran bersama, terutama bagi masyarakat miskin yang dulu relatif dikesampingkan suaranya dalam arah kebijakan pembangunan minimal pada level pemerintahan terendah yakni kelurahan/desa. Berikut ini, informasi lapang dari para pelaku di wilayah KMW 2 (1/2) dengan lokasi sasaran Kota dan Kabupaten Serang, Kota dan Kabupaten Cilegon serta Kota Tangerang.

Suhartini, seorang Faskel yang mendampingi wilayah Cilegon mengatakan bahwa pemetaaan swadaya merupakan bukti bahwa masyarakat khususnya orang-orang miskin di dalam siklus P2KP punya hak dalam berpartisipasi guna menentukan arah kebijakan pembangunan khususnya di level kelurahan, dan ini merupakan suatu pencerahan. Selain itu, Suhartini juga menceritakan pengalaman lapangnya saat mendampingi PS. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam PS sebetulnya sangat tinggi, ditambah dengan tingkat kerelawanan yang bagus. “Rata-rata Tim PS mau bekerja secara sukarela,” ujarnya.

Meski begitu, Suhartini juga mengakui pelaksanaan PS ini bukan tanpa kendala. “Satu contoh, ada juga anggota Tim PS yang menanyakan imbalan akan misi yang dilakukannya itu, walau ini tidak banyak,” ungkap Suhartini. Hal ini diakui Suhartini bukan semata-mata kesalahan warga. “Mungkin masih ada pandangan lama, bahwa yang dulu-dulu seperti itu,” lanjutnya. “Akan tetapi setelah diberi pengarahan kepada warga lewat pendekatan yang baik, toh mereka bisa mengerti kok,” ujarnya. Namun, sebagai pelaku lapang, Suhartini mengakui masih ada tingkat ketidakmengertian warga terutama berkaitana dengan PJM Pronangkis. “Banyak warga yang mempertanyakan untuk apa dibuat program atau apakah program ini bisa realisasi, dsb” ujarnya. “Ya saya sih menganggap hal itu wajar sebab mereka dulu sedikit sekali dilibatkan untuk membuat kebijakan semacam ini,”ungkapnya. “Maka, tidak mudah juga menjadi Faskel karena harus sabar, ulet, pandai-pandai melakukan pendekatan dan komunikasi ke masyarakat, tidak menggurui atau mendikte,” lanjutnya.

Hampir senada, Abdul Jalal seorang Faskel yang mendampingi Kecamatan Serang Timur mengatakan masalah utama yang dihadapi dalam PS adalah akibat masih terimbasnya ‘stigma’ lama dimana warga masih cenderung berpikir materialistis. “Rata-rata warga dan Tim PS masih mempertanyakan kalau PS sudah selesai, bantuan apa lagi yang bisa didapat,” ujarnya. “Tapi, warga itu pokoknya diberi penjelasan yang baik dan masuk akal, terutama tentang nilai kerelawanan, umumnya mereka bisa mengerti,” ungkapnya. “Selain itu kendalanya juga ada di faktor SDM, walau ini tidak penting mengingat justru melalui proses PS lah masyarakat bisa belajar,” lanjutnya.

Team Leader KMW 2 (1/2), Ir. Herman Sudirdja mengatakan bahwa PS dan PJM Pronangkis adalah sarana pembelajaran masyarakat dalam menentukan kebijakan pembangunan khususnya di kampungnya sendiri. “Seperti apa yang kita lihat, sebelum diadakan PS, warga dikumpulkan dulu dalam FGD refleksi kemiskinan termasuk juga pelibatan warga miskin mulai tingkat RT hingga desa atau kelurahan,” jelas Herman. “Dalam proses itu, mereka disuruh dan diajak ngomong soal kemiskinan yang mereka alami, maka dengan dilibatkan, warga akan gembira serta antusias karena dalam program sebelumnya belum pernah diajak bicara seperti ini,” lanjut Herman.

Sementara itu, STL 1 KMW 2 (1/2) yang membawahi Kabupaten Serang dan Kota Cilegon, Rio Sodarpo mengatakan bahwa PS yang nantinya akan dituangkan dalam PJM Pronangkis merupakan cerminan proses belajar masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan di wilayahnya. “Nah, dalam proses belajar melalui PS ini, jika terjadi kekurangan, tentunya ya harus bisa dimaklumi,” ujarnya. “Jangankan masyarakat, Faskel dan Konsultan pun masih juga dalam tahap belajar bersama, jadi adanya kekurangan harus dimaklumi oleh semua pihak,” lanjut Rio mengakhiri. (SM; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.