Beranda Warta Berita Menanam Manfaat, BKM Fasilitasi Program MBS

Menanam Manfaat, BKM Fasilitasi Program MBS

Comments (0) View (1779)

M

MENYAMBUT gayung partisipatif, pada 27 Desember 2004 hingga 1 Januari 2005 lalu diadakan pelatihan Training Of Trainer (TOT) untuk program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di BKM Paguyuban Warga Desa Tamansari, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Program MBS ini merupakan wujud dari keterlibatan masyarakat dalam proses belajar mengajar di sekolah terhadap anak didik, yang sebelumnya sempat dipacu dengan keberadaan BP3 yang kemudian diganti dengan Komite Sekolah (KS).

Sejumlah 35 orang peserta TOT berasal dari lima desa/kelurahan penerima ‘block grant’ dari Depdiknas, termasuk didalamnya 10 orang Pimpinan Kolektif BKM. Kelima desa/kelurahan sasaran sebagai ‘pilot project’ program MBS ini adalah wilayah sasaran P2KP 1 tahap 2. Dengan berbagai pertimbangan dari Depdiknas serta pihak terkait lainnya, Pimpinan Kolektif BKM diberi peran menonjol dalam program ini, akibat keberadaan BKM sebagai perwakilan warga sekaligus wadah fasilitasi kepentingan warga.

Program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ini dirasakan sinkron dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang saat ini sedang dan akan dilaksanakan (tinggal menunggu pengesahannya) sebagai kebijakan Depdiknas. Kurikulum KBK sendiri sudah dilaksanakan lebih dulu di beberapa kelas yaitu kelas 1 dan kelas 4 di Kabupaten Bogor. “Kami memberanikan diri menerapkannya karena memang telah mendapat penataran,” ujar Aos Supriatna (57), Kepala Sekolah SDN 04 Tarikolot yang juga salah seorang peserta TOT. “Dan secara bertahap, program ini akan dilakukan pada kelas-kelas lainnya, tentunya setelah guru yang bersangkutan mendapat penataran terlebih dulu,” lanjutnya.

Menurut Aos Supriatna, TOT program MBS ini sangat menunjang KBK dalam proses belajar mengajar, sehingga anak didik diharapkan dapat menjadi kreatif. “Pada metode sebelumnya, dirasa lebih menekankan keaktifan guru, sedangkan psikomotor (ketrampilan dan kreatifitas) dari anak didik belum tergarap,” jelasnya sembari menerangkan bahwa dalam proses belajar mengajar ada tiga aspek yang perlu diperhatikan yakni kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) serta psikomotorik (ketrampilan).

Masih menurut Aos, keterlibatan masyarakat pada program ini akan lebih besar kapasitasnya. Karenanya, melalui pelibatan semacam ini, diharapkan keberhasilan proses belajar mengajar akan lebih nyata. “Tanpa keterlibatan mereka, sistem pendidikan kita akan berjalan alot, sehingga kami sangat mendukung program MBS ini,” tegasnya bersemangat. Aos juga mengungkapkan bahwa untuk mempersiapkan metode pengajaran disekolahnya, alat bantu peraga menjadi media bantu yang penting. “Untuk SD akan disiapkan pihak sekolah yang keberadaannya tidak harus membeli, bisa memanfaatkan dari lingkungan sekitar seperti hasil pemanfaatan limbah dan sebagainya,” ujarnya. “Proses belajar pun tidak harus melulu di sekolah, bisa dilakukan di rumah atau tempat lainnya,” tambahnya.

Ke depan, program MBS akan dilaksanakan di semua kelas mulai kelas 1 hingga kelas 6. Pelibatan warga termasuk orang tua murid juga akan dimaksimalkan melalui Rukun Kelas yang diketuai oleh orang tua murid. Para Rukun Kelas terlibat penuh dalam proses belajar mengajar dan ikut bertanggung jawab pada kelasnya masing-masing. Dari mulai penyiapan sarana dan prasarana hingga menyangkut pembiayaan. Disamping itu, para orang tua murid juga akan bahu membahu mengatasinya melalui musyawarah. “Orang tua murid yang berpotensi akan dapat dimanfaatkan seperti memberi les Bahasa Inggris, yang tentunya tanpa dipungut bayaran,” ungkap Aos. “Hal ini semata-mata sebagai tanggung jawab masyarakat atas perannya di dunia pendidikan,” lanjutnya.

Sebagai seorang guru, Aos mengakui selama hampir 38 tahun bergelut di dunia pendidikan, baru kali ini dirasakan bahwa kurikulum dan program MBS adalah yang paling tepat. “Bila system ini berhasil, rasanya menjelang masa akhir tugas, saya akan dapat tersenyum puas, karena jerih payah selama ini menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi generasi penerus,” ujarnya.

Pada kesempatan ini Aos Supriatna atas nama sesama pendidik juga mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada semua pihak terkait utamanya kepada BKM yang telah  ikut memfasilitasi program MBS ini di masyarakat. “Sungguh tak disangka, sebuah kelembagaan lokal yang belum lama terbentuk ini (BKM--red), sudah mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Aos mengakhiri. (Heroe; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.