Beranda Warta Berita Banjir di Barito Utara: Antara Berkah dan Musibah

Banjir di Barito Utara: Antara Berkah dan Musibah

Comments (0) View (1442)

S

SEJAK November 2004 lalu, musim hujan mengguyur hampir tiap sudut dan pelosok Kabupaten Barito Utara yang menyebabkan banjir terutama di wilayah Kecamatan Teweh Tengah. Disinyalir, selain berasal dari luapan sungai Barito (meluapnya ribuan riam ‘anak sungai’ Barito Utara--red), banjir juga ditambah dengan ‘air kiriman’ akibat hujan yang terus menerus dari Puruk Cahu (dataran yang lebih tinggi yang berada di kabupaten Murung Raya yang berbatasan dengan kabupaten Barito Utara--red).

Awal tahun baru 2005 ini saja, air hujan yang berwarna kecoklatan tersebut sudah menggenangi bahkan merendam sebagian besar rumah penduduk, lahan pertanian dan sarana umum lainnya seperti rumah peribadatan, pasar serta sekolah-sekolah di sekitar DAS Barito Utara. Kabarnya, menurut masyarakat setempat, banjir tahun ini adalah banjir kedua yang terparah sejak 47 tahun silam karena memiliki ketinggian air berkisar 1 hingga 3 meter lebih. Padahal sebelumnya, masyarakat Barito Utara sempat dibanjiri dengan ‘hujan durian’ yang berbeda dengan banjir air hujan, ‘banjir durian’ ini sangat dinantikan masyarakat Barito Utara karena tidak menyengsarakan serta dapat dinikmati.

Banjir hujan dengan ketinggian air yang biasanya dapat menimbulkan banyak kerusakan dan korban jiwa, namun tidak demikian yang terjadi disini. Banjir Barito Utara ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Ini disebabkan karena masyarakatnya telah terbiasa mengantisipasi banjir musiman tersebut dengan membuat rumah bertingkat di atap dan mengungsi ke dataran yang lebih tinggi ke tempat sanak saudara mereka.

Dan uniknya, ada pula sebagian masyarakat yang justru menganggap banjir ini bukan musibah melainkan sarana mencari nafkah dan tempat hiburan. Tersebutlah tukang ojek sungai yang memberikan jasa penyeberangan untuk penduduk dalam bentuk gerobak di beberapa jalan utama Barito, atau keberadaan KM 06 Jalan Negara menuju Banjarmasin yang dengan rata-rata penghasilan yang terbilang lebih baik dari penghasilan sebelum banjir (karena di samping mengangkut orang, juga bisa mengangkut barang atau kendaraan berat, seperti motor--red). Banjir juga seperti menjadi kesenangan tersendiri bagi anak-anak. Banjir di tengah Jalan Raya menjadi tempat berenang anak-anak bahkan orang dewasa. Selain itu juga kerap menjadi tempat mencuci kendaraan dari truk hingga motor yang kebetulan lewat di jalan tersebut.

Tampaknya masyarakat Barito Utara telah mengenal istilah ‘Manajemen Banjir’ yang bagi segelintir masyarakat, banjir mungkin memang menjadi ‘berkah’ tersendiri. Namun, kita juga tidak bisa menafikan begitu saja berbagai kerusakan yang ditimbulkan akibat banjir tersebut. Diantara yang sangat menonjol yaitu menyebarnya penyakit muntaber dan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) serta sempat terhambatnya aktifitas pendidikan dan pemberdayaan masyarakat seperti Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP).

Aktivitas P2KP menjadi sempat terhambat akibat banjir yang menggenangi ruas jalan-jalan dan wilayah sasaran P2KP seperti Kelurahan Melayu, Kelurahan Lanjas yang juga lokasi tempat kantor KMW 3 P2KP berada, Kelurahan Jambu, Kelurahan Jingah, Desa Pendreh, Desa Lemo I, Desa Bintang Ninggi I, Desa Bintang Ninggi II , Desa Butong, Desa Buntok Baru, Desa Hajak, Desa Malawaken, Desa Trahean, Desa Liang Naga serta Desa Tawan Jaya. Masyarakat pun hanya bisa pasrah menunggu sampai banjir tersebut surut.

Namun, meski berada dalam kondisi sulit, ternyata antusias masyarakat--sambil menunggu banjir surut, tidak serta merta menjadi reda, hanya tertunda untuk sementara. Kegiatan Focus Group Discussion Refleksi Kemiskinan (FGD RK) yang merupakan upaya untuk melakukan penjajagan sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan (isu) kemiskinan di lokasi kelurahan/desa sasaran P2KP berdasarkan persepsi dan aspirasi dari masyarakat (khususnya masyarakat miskin setempat), sempat tertunda karena sebagian besar wilayahnya terendam banjir.

Berdasarkan Laporan Koordinator Kota Barito Utara Bulan Desember 2004 lalu, FGD RK pada kelompok-kelompok masyarakat dan rembug warga RK di tingkat kelurahan/desa, telah selesai dilaksanakan di 5 kelurahan/desa yaitu Kelurahan Jingah, Desa Pendreh, Malawaken, Tawan Jaya dan Lemo I. Sedangkan wilayah K lainnya masih dalam proses pelaksanaan FGD RK yakni Desa Bintang Ninggi II, Buntok Baru, Pir Trans Butong, Trahean, Hajak, Kelurahan Jambu, Lemo II dan Liang Naga.

Sedangkan untuk kegiatan Pemetaan Swadaya (PS) sebagai usaha untuk memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat (khususnya masyarakat miskin) untuk mengenali persoalannya, mampu merumuskan kebutuhannya, memahami potensi yang dimilikinya dan bersama-sama memiliki kesadaran untuk memecahkan persoalan dengan potensi yang dimilikinya, seperti yang terjadi di Kelurahan Jambu juga sempat tertunda karena terendam banjir. Kegiatan PS yang tertunda disebabkan karena tidak bisa terjangkaunya semua tempat untuk dilakukan wawancara dengan warga miskin.

Setidaknya, dampak bencana banjir terutama dalam hubungannya dengan pendampingan masyarakat P2KP dijelaskan sebagai berikut: (1) Sempat tertundanya beberapa kegiatan P2KP seperti kegiatan FGD RK dan PS akibat sulitnya menjangkau wilayah atau kawasan yang terkena banjir sehingga tingkat intensitas maupun koordinasi dengan masyarakat menjadi kurang; (2) Biaya transportasi menjadi lebih tinggi akibat menggunakan tambahan biaya jasa pengangkutan air untuk menuju tempat atau wilayah sasaran pendampingan P2KP. Semoga kondisi banjir di Barito Utara ini cepat berakhir sehingga masyarakat dapat kembali melakukan aktifitasnya secara normal. (AE/Laporan Korkot Barito Utara-Muara Teweh; edit: Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.