Kunjungan Pejabat Konawe ke Depok: Belajar dari Realitas dan Saling Berbagi

Comments (0) View (1432)

K

KABUPATEN KONAWE memang belum banyak dikenal. Tetapi bila disebut Kendari, tentu pikiran akan kita langsung menuju pada sebuah wilayah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Konawe termasuk kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Kendari yang menjadi salah satu dari 59 kabupaten/kota lokasi P2KP 2 tahap I. Seperti diketahui, P2KP 2/1 yang dimulai bulan Oktober 2004 lalu, berada di wilayah Kalimantan, Sulawesi dan NTB dengan jangkauan lokasi meliputi 1.131 desa/kelurahan dalam 147 Kecamatan.

Untuk wilayah Kabupaten Konawe, saat ini proses P2KP berada dalam tahap Pemetaan Swadaya yang dilakukan oleh Relawan dengan fasilitasi Tim Faskel. Langkah berikutnya adalah mulainya dilakukan persiapan membangun BKM sebagai organisasi representasi warga dengan kepemimpinan kolektifnya. Proses Pemetaan Swadaya akan berlangsung bulan Januari 2005 dan persiapan membangun BKM akan dilaksanakan pada bulan Febuari 2005.

Perkembangan pelaksanaan P2KP inilah yang mendorong Drs. Muh. Yasin Togala, MPA, Kepala Bappeda; Ir. Adiwarsyah, T. M.Si, Kabid Fispra Bappeda; Ir. Boy Ichwansyah, MTP, Kasubdit Kimpraswil dan Muhamad Pam Suhanda, SE , Pimpro P2KP Kabupaten Konawe; untuk melakukan  kunjungan lapangan di BKM Bina Budi Mulya di Kelurahan Pancoran Mas Kota Depok. Hasil kunjungan ini diharapkan akan memberi bekal bagi Tim P2KP dengan semakin siap memberikan dukungan. Kunjungan berlangsung 6 Januari 2005 yang lalu didampingi oleh Hasnah Widayani, Tenaga Ahli Sosialisasi KMP. Sebelum kunjungan lapangan, Tim dari Kabupaten Konawe juga berdialog dengan Drs. Kurniawan Zulkarnain, Team Leader KMP dan  Ir. Muhammad Maulana, Co Team Leader bertempat di kantor KMP P2KP.

Belajar dari Realitas

Muhammad Yasin Togala selaku Kepala Bappeda Konawe memberikan komentar menarik tentang pelaksanaan P2KP di lapang. “Sangat mengagumkan, benar-benar terwujud dalam praktek bahwa BKM mampu menjadi wadah penanggulangan kemiskinan, tidak hanya di konsep saja.” ujarnya. Komentar bernada sama dikemukakan pula oleh Kabid Fispra Bappeda, Adiwarsyah. “Semua BKM pasti punya kelemahan, tetapi BKM Bina Budi Mulya berbeda. Semua personil di BKM dan UPK menguasai tugasnya dan sifat kerelawanannya sangat menonjol, administrasi lengkap, koordinasi matang yang kesemuanya tetap dilakukan dengan ikhlas,” ungkap kekagumannya. “Walau ada insentif untuk pengelola dan UPK, namun tidak diambil,” lanjut Adiwarsyah.

BKM Bina Budi Mulya berdiri pada bulan September 2003 dengan memperoleh BLM Rp. 500 juta. Dari BLM tersebut, sejumlah Rp. 305 juta dialokasikan untuk dana bergulir bagi pengembangan ekonomi rumah tangga. Sebesar Rp. 185 juta lainnya digunakan untuk kegiatan layanan sosial dan peningkatan kualitas lingkungan dengan masing-masing Rp. 30 juta untuk bidang sosial dan Rp. 155 juta untuk lingkungan. Untuk layanan dana bergulir, telah dimanfaatkan oleh 162 KSM dengan anggota lebih 800 orang. “Sebanyak 40 KSM telah memanfaatkan pinjaman dari pengembalian angsuran pokok dan jasa bunga,” ujar Soetjipto, Koordinator BKM Bina Budi Mulya. Soetjipto juga menjelaskan bahwa akumulasi jasa hinga saat ini belum banyak, baru sekitar Rp. 8 juta, akibat saat layanan pertama dulu hanya dengan bunga 0,5% sebulan/flate dan kemudian pada realisasi BLM ke-3, jasa bunga baru dinaikkan menjadi 1% bulan/flate. Awal bulan Januari 2005 ini, tercatat 33 KSM dengan rata-rata anggota 5 orang, telah antri menunggu pinjaman.

Kelurahan Pancoran Mas sendiri termasuk padat dengan penduduk lebih 32.000 jiwa  dengan 10.856 KK, tersebar di 20 RW dengan 161 RT. Dari jumlah penduduk tersebut tercatat 12.764 adalah penduduk miskin. Selaku Koordinator dari pimpinan kolektif BKM, Soetjipto adalah pensiunan Library of Congress, kedutaan Amerika, di Jakarta yang didukung oleh Manager UPK yang pensiunan Pertamina, H. Sujiahat. Sementara untuk Kasir dipercayakan pada H. Suhardjo, mantan pegawai BPK.

Dialog dengan Koordinator BKM dan Pengelola UPK di BKM ini, semakin mendorong keyakinan Aparat Pemda Kabupaten Konawe. Boy Ichwansyah misalnya, memberikan penekanan atas pola pikir dan nilai yang berkembang di Kelurahan Pancoran Mas ini agar dapat dikembangkan di Konawe, terutama semangat keswadayaan dan tidak tergantung pada pihak lain. Lebih jauh, Pimpro P2KP Kabupaten Konawe, Muh. Pam Suwanda juga merencanakan akan mengundang 1 atau 2 orang dari BKM ini untuk melatih BKM di Konawe. “Pemerintah Kabupaten Konawe akan menanggung transportasi dan menyediakan fasilitas lain yang diperlukan,” Boy menambahkan. “Ini telah terbukti dan masyarakat Konawe akan lebih percaya lagi,” lanjutnya.

Siap Berbagi Pengalaman

Selaku Koordinator BKM, Soetjipto (66 tahun) dengan 4 cucu, berharap akan dapat meningkatkan efektifitas layanan dana bergulir bagi masyarakat yang membutuhkan di wilayahnya. Dirinya juga berharap akan dapat membuat sistem ‘data based’ dan komputerisasi layanan dana bergulir. “Dengan sistem ini setiap hari kita dapat melihat KSM yang jatuh tempo, telat dan mungkin juga ada yang nakal,” ungkapnya. “Dan sejak awal, BKM juga menampung simpanan yang disetorkan oleh KSM saat membayar angsuran pokok dan bunga. Keseluruhan simpanan anggota ini telah mencapai Rp. 10 juta dan disimpan pada tabungan khusus di bank,” lanjutnya. 

Soetjipto juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan dengan senang hati membagi pengalaman kepada siapapun. “Bahkan Agustus 2004 lalu, BKM ini telah dikunjungi tamu dari Bangladesh bersama dengan BRI pusat, malah pengalaman BKM ini sedang diteliti oleh seorang mahasiswa S-2 Universitas Indonesia untuk disertasinya,” ungkap Soetjipto. “Kami juga siap dan menunggu undangan Pemda Kabupaten Konawe untuk membagi pengalaman di sana,” tambah Soetjipto. (Muchtar Bahar, bahan dari Hasnah Widayani dan dialog dengan Soetjipto; edit: Yanti)

0 Komentar