Beranda Warta Berita Uji Petik P2KP di Jakut: BKM Masih ‘Utang Utangan’ ?

Uji Petik P2KP di Jakut: BKM Masih ‘Utang Utangan’ ?

Comments (0) View (1317)

U

UJI PETIK yang dilakukan pihak Proyek P2KP dimaksudkan untuk melakukan cross check data atas penilaian yang pernah dilakukan oleh jajaran Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) 2 dan KMW 3 P2KP 1/2. Uji Petik ini dilakukan oleh Tim Uji Petik pada 2 BKM di Jakarta Utara yakni BKM Sukapura Kecamatan Cilincing dan BKM Pegangsaan II Kecamatan Kelapa Gading.

Salah satu hasil Uji Petik menyangkut masalah transparansi dimana pihak BKM kurang dalam meng-up date data para penerima manfaat, dan yang dipasang di papan baliho masih data peminjam tahun 2000 lalu. Ketika hal ini ditanyakan kepada Ketua BKM, H. Nurcolish dan UPK, Ratna, mereka hanya menjawab bahwa untuk data para penerima manfaat, hingga kini baru data-data tersebut yang sempat dibuat.

Begitu pula dari hasil pengecekan papan nama BKM atau P2KP yang seharusnya dipampang di depan kelurahan, ternyata tidak ada. Menurut penjelasan Ratna bahwa andai papan itu dipasang, hampir dipastikan masyarakat Sukapura akan menyerbu BKM untuk meminjam uang. Uji Petik berkaitan dengan keikutsertaan BKM pada pelatihan BRI menunjukkan bahwa BKM Sukapura mengirim Ratna selaku UPK dalam pelatihan tersebut, hanya Ratna sendiri mengakui bahwa dirinya tidak bisa mengikuti agenda pelatihan secara penuh sebagaimana terjadwal.

Melihat hal demikian, Tim Uji Petik dari Proyek P2KP, Wisid dan Ugra, sempat menyayangkan sikap pengurus BKM dan mengkhawatirkan akan menghembuskan opini di tingkat masyarakat tentang keberadaan lembaga ini sebagai lembaga ‘utang-utangan’ saja, padahal BKM tidaklah didesain demikian.

Salah seorang warga yang juga penerima manfaat P2KP, Asdi Batubara mengatakan bahwa sebagai masyarakat, dirinya sangat mengharapkan BKM untuk berkiprah. Asdi juga mengatakan bahwa kehadiran lembaga ini sebenarnya cukup membantu warga didalam mengembangkan usahanya di sekitar Kawasan Berikat Nusantara Cakung, termasuk dirinya yang telah mendapat pinjaman BKM sebesar Rp. 5 juta. Kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat sangat mengharapkan BKM dan kepengurusannya solid, sungguh-sungguh dan tidak menjalankan BKM dengan apa adanya.

Berdasar data UPK, BKM ini menerima BLM awal sebesar Rp. 750 juta yang sebagian dana dipergunakan untuk dana hibah dan BOP, sehingga dana bergulir yang dicairkan ke warga sekitar Rp. 600 juta yang dikemudian, perkembangan guliran ini pun kurang begitu menggembirakan. Angka kemacetan mencapai Rp. 713 juta dalam kurun 5 tahun ini. Sedang setoran yang masuk tiap bulannya hanya Rp. 3 juta dan sisa uang BLM masih tersimpan di bank sebesar Rp. 60 juta.

Selaku UPK, Ratna dan Yuli juga menjelaskan bahwa pihaknya memang mengalami kesulitan dalam upaya penyelamatan dana yang kemacetannya semakin membengak di masyarakat, walau UPK dan BKM telah berupaya melakukan tindakan, namun kemacetan tetap tidak terkurangi. Belajar dari pengalaman tersebut, maka UPK dan BKM kini menerapkan prinsip kehati-hatian di dalam menggulirkan dana, minimalnya, BKM hanya mau memberikan pinjaman kepada kelompok yang dianggap bagus saja. (Sarim; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.