Beranda Warta Berita BRI: Kami Tidak Mau Bangkrut

BRI: Kami Tidak Mau Bangkrut

Comments (0) View (1578)

S

SENIN, 24 Januari 2005 lalu, Pusinfo mendapat kesempatan bertemu dengan Kepala Divisi Kredit BRI, Siti Sundari Nasution. Di sela-sela pelatihan BRI yang digelar di Bandung, Siti Sundari Nasution menjelaskan klarifikasi PT. BRI, Tbk menyangkut kesiapan BRI untuk memberikan kredit kepada kelompok pemanfaat BKM (KSM), berdasarkan hasil rapat pada awal Januari 2005 lalu di Kantor Menko Kesra serta mengingat banyaknya pertanyaan dari UPK-BKM tentang masalah ini.

Dalam penjelasannya, Siti Sundari Nasution mengatakan, nantinya setelah hasil penilaian dari P2KP terhadap 800 UPK-BKM menjadi 300 UPK-BKM yang lolos seleksi kelar, maka pihaknya akan ‘komit’ untuk menyalurkan kredit kepada KSM. “Mereka yang jumlahnya 300-an itu, akan mendapat pembinaan terlebih dahulu oleh pihak kami selama setahun, yang dalam masa pembinaan tersebut, akan kami nilai untuk di seleksi kembali, UPK-BKM mana yang layak mendapat kredit dan tidak,” jelas Siti Sundari. “UPK-BKM juga harus dapat diukur dengan jelas setelah masa pembinaan, mana yang dapat berkembang. Jaminan kelayakan usaha dari UPK-BKM merupakan yang utama, sedangkan agunan atau lainnya bisa menjadi pertimbangan selanjutnya,” papar Sundari.

Ketika ditanya soal penetapan bunga pinjaman, Siti Sundari mengatakan bahwa menurut perkiraannya, akan ditetapkan sekitar 15 persen per-tahun seperti yang sudah dilakukan di waktu lalu terhadap usaha kecil. “Untuk itu, bila pihak Menko Kesra/Komite Penanggulangan Kemiskinan tetap menetapkan bunga 12 persen per-tahun, kami terpaksa menyerah,” ungkapnya. “Karena biaya ‘over-head’ kami tidak mampu ditutupi dengan besaran bunga yang hanya seperti itu,” tambah Sundari.

Lebih jauh Sundari mengatakan, sama seperti beberapa bank besar lainnya, BRI sudah sejak lama menjadi bank yang ‘go publik’, sehingga menjadi suatu keharusan untuk mempertanggungjawabkannya kepada pemegang saham, termasuk masyarakat didalamnya. “Sejak ‘go publik’, sudah tidak ada lagi bantuan pemerintah, semua diupayakan sendiri,” ujar Sundari.

Tentang persoalan ini, menurut Sundari, pihak BRI bukan tidak mau membantu program pemerintah (P2KP--red), namun lebih pada pertimbangan keuntungan maupun kerugian harus dipertanggungjawabkan kepada para pemegang saham. “Ya mau tidak mau, kami harus memperoleh keuntungan, kalau tidak, bisa bangkrut kan?” ujar Sundari. “Disamping itu, hingga kini jumlah karyawan BRI di seluruh Indonesia mencapai 40 ribu-an orang, dari mana dapat membayar gajinya kalau bukan dari perolehan keuntungan?” tegasnya.

Ketika ditanya soal kesiapan 2 bank besar lainnya, Sundari menegaskan bahwa kalau mereka sanggup dengan menerapkan suku bunga sebesar (hanya) 12 persen, pihak BRI mempersilahkannya. “Ya silahkan saja, mudah-mudahan kesanggupan mereka bukan hanya sebagai sebuah teori saja,” imbuhnya.

Sementara itu, saat pelatihan BRI di Malang, koordinator sekaligus instruktur pelatihan BRI, H. Lutfi mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah berusaha membantu pemerintah yang dibuktikan dengan mampu dan mau melaksanakan pelatihan bagi UPK-BKM ini. “Bila dibandingkan dengan biaya pelatihan oleh BRI untuk instansi/lembaga/badan lainnya, biaya untuk pelatihan ini sangat jauh berbeda,” ujar Lutfi. “Kami hanya melaksanakan kegiatan pelatihan, sedangkan masalah yang menyangkut kewenangan lainnya, menjadi kebijakan ‘pihak atas’, yaitu pimpinan BRI dan pimpinan eks. Depkimpraswil,” lanjutnya. (Heroe; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.