Beranda Warta Berita Membangun Kebersamaan dan Proses Pembauran Keturunan

Membangun Kebersamaan dan Proses Pembauran Keturunan

Comments (0) View (2005)
JIKA kita melihat kondisi wilayah Kelurahan Pekojan,Kecamatan Tambora, Jakarta Barat maka apa yang akan terbayang dalam benak kita pertama kita melihat bahwa wilayah itu akrab dengan kekumuhan, kedua kita melihat wilayah itu sangat lekat dengan wilayah pecinaan, ketiga orang bilang wilayah ini termasuk kota tua tempat mangkalnya para pedagang besar dahulunya yang berasal dari Persia,Cina, Arab dan Gujarat alasannya karena lokasi wilayah ini dekat dengan pelabuhan Sunda Kelapa kini pasar ikan sehingga memungkinkan para saudagar dan pedagang untuk menetap dan mampir ke Pekojan. Dan perlu diketahui bahwa disitu ada gedung peninggalan sejarah, sebuah masjid tua yang masih tegar berdiri dan tidak lapuk ditelan zaman. Berikutnya kita melihat bahwa wilayah yang dekat dengan pantai dan pergudangan biasanya banyak di huni oleh etnis Banten. Cerita ini sebenarnya hanya melatarbelakangi soal tesis pembauran yang ada di wilayah Pekojan Jika kita berbicara soal pembauran antar etnis dan akulturasi budaya di Pekojan ini sebenarnya bukan hanya yang baru, sejak berabad –abad cerita itu sudah ada dan kita tahu bahwa para saudagar dagang ke sini tidak hanya menawarkan dagangan tapi juga ada interkasi positif terutama soal akulturasi budaya melalui perkawinan. Paparan diatas ini kita coba untuk mengkaitkan proses pembauran yang terjadi sekarang ini merupakan benang merah (linkage) dengan masa silam. Namun ada hal yang menarik untuk kita kaji disini bahwa semenjak ada kehadiran P2KP yang sudah berjalan 4 tahun lebih bisa kita tarik nilai positifnya, kenapa? Kita tahu bahwa dalam P2KP ini ada konsep kebersamaan, keberagamaan dan tidak mengenal etnis dan suku dan dominasi kelompok lain yang paling penting adalah bagaimana kita (masyarakat) bisa menanggulangi kemiskinan secara bersama-sama. Rupanya kita melihat disini ada konsep yang menyentuh kepada pembauran. Menurut Ketua BKM Hardiman dan salah seorang warga yang secara kebetulan keturunan etnis Cina ditengah –tengah acara aksi sosial fogging (penyemprotan demam berdarah) beberapa hari lalu mengatakan bahwa kehadiran BKM sangat dirasakan positif manfaatnya bukan hanya oleh penduduk setempat, tapi juga oleh Cina keturunan. Ditambahkan oleh Hardiman dan warga tadi mereka disini semata –mata tidak hanya ingin memanafaatkan BKM sebagai ajang untuk meminjam duit untuk modal usaha, akan tetapi ada nilai yang dirasakan manfaatnya begitu banyak terutama untuk melebur sikap eksklusivisme menjadi infklusifisme. Kedatangan mereka ke BKM jangan kita lihat setiap mau nyetor dan meminjam uang, tapi lebih dari itu mereka nongkrong semata –mata ingin berbaur dan berkomunikasi dan mencairkan kebekuan yang selama ini, maka layak mereka harus kita respon secara positif. Berdasarkan hasil pengamatan Tim Pusinfo P2KP Divisi Web Site ketika diadakan aksi fogging yang tersebar di 12 Rukun Warga terlihat bahwa mereka saling berkomunikasi dengan penduduk setempat dan saling bahu membahu didalam menghadapi persolaan yang ada di wilayahnya seperti tragedi demam berdarah yang terjadi saat ini. Keterkaitan Masa Silam Semoga Menjadi Kenyataan Sisi lain kita melihat bahwa kumpul –kumpul yang dimotori oleh BKM tidak hanya berbicara soal uang an-sich, tapi lebih dari itu mereka juga ikut terlibat dalam membangun solidaritas sosial dan kebersamaan dan kebanyakan orang –orang yang nimbrung di BKM itu adalah para pengusaha home industry yang tinggal radiusnya tidak jauh dari sekretariat BKM. Dengan terbangunnya hal tersebut rupanya BKM pun punya inisiatif lagi didalam rangka membangun komunikasi antar komunitas yang berbeda itu salah satunya saat ini akan direncanakan semacam kumpulan sosial untuk membantu orang –orang yang tengah dilanda duka cita alias meninggal dunia dengan tanpa membedakan asal orang itu dari etnik mana. Semoga pengembangan wacana yang diprakarsai oleh BKM akan menjadi kenyataan. Selanjutnya kita melihat usai di adakan penyemprotan fogging masyarakat dari lorong ke lorong berkumpul dan saling berkomunikasi untuk membahas kepentingan bersama mengingat memang saat ini kita tengah dihadapkan bencana demam berdarah dan terlihat pula diantara masyarakat setempat dengan keturunan saling bahu membahu dan membantu dalam gelar acara fogging ini yang berlangsung dua hari. Pada kesempatan lain Hardiman mengatakan ada beberapa aksi sosial yang dilakukan oleh BKM mulai dari kampanye anti narkoba dengan memasang spanduk atas anjuran Kapolsek setempat,pemberian santunan kepada warga yang kurang beruntung, fogging demam berdarah sampai memprakarsai pendirian organisasi kematian tentunya diharapkan akan mampu menggugah kesadaran warga keturunan yang belum berbaur meski tidak secara otomatis bukan mustahil kelak akan mencair akan sikap ekskusifisme nya ini,ujar Hardiman. Sebab di BKM ini tidak sedikit orang keturunan yang memanfaatkan kelembagaan ini tidak semata–mata dilihat dari interest semata, akan tetapi ada nilai tambah didalam rangka mencairkan kebekuan diantara kemajemukan masyarakat yang tinggal disana,ujarnya. (Sarim/Heroe/MZ)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.