Beranda Warta Berita Ditunda, RKM RW 03 Padasuka Sempat Ditolak

Ditunda, RKM RW 03 Padasuka Sempat Ditolak

Comments (0) View (1116)

R

REMBUG Kesiapan Masyarakat (RKM) dilaksanakan di RW 03 Desa Padasuka Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak pada 2 Februari 2005 lalu. RKM ini dihadiri oleh wakil-wakil masyarakat meliputi Ketua RW, Ketua-ketua RT dan perwakilan masyarakat dari masing-masing RT. Acara diawali dengan materi sosialisasi P2KP yang memaparkan konsep dasar, siklus dan pendekatan P2KP dalam upaya pemberdayaan masyarakat.

Fasilitator Kelurahan nampak berupaya memberikan penjelasan kepada masyarakat dengan cukup berhati-hati. Menurut Fasilitator, P2KP berupaya menumbuhkan kesadaran kritis bagi masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan di lingkungan desanya dan keberadaan dana BLM P2KP bukanlah tujuan utama dari program ini.

Masyarakat juga diberikan pemahaman yang mendalam bahwa kemiskinan yang ada adalah tanggung jawab bersama untuk menanggulanginya, dan masyarakat dilibatkan secara penuh sebagai subjek dari pelaksanaan P2KP untuk belajar bersama. Maka, berhasil tidaknya P2KP, akan ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat ini sendiri.

Setelah Fasilitator memaparkan materi sosialisasi awal, acara dilanjutkan dengan pelaksanaan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM) yang merupakan langkah kesiapan awal yang harus dilaksanakan oleh masyarakat dalam mengikuti P2KP. Dalam memfasilitasinya, Fasilitator mencoba memberikan rangsangan berpikir kepada peserta yang hadir untuk dapat mengkritisi arti dari pelaksanaan proses P2KP sehingga dapat memahami rangkaian siklusnya, termasuk peran utama masyarakat dan pelaku lainnya.

Dari pemahaman mendasar ini, selanjutnya masyarakat dapat memberikan keputusan dari proses berpikirnya, untuk dapat menerima atau menolak P2KP di wilayah tersebut, berikut seluruh konsekuensinya. Bila masyarakat menerima P2KP maka diharapkan mereka memilih perwakilan warganya untuk mengikuti RKM di tingkat desa dan mendaftarkan Relawan dari masing-masing RT-nya.

Hal yang menarik terjadi dalam proses berpikir peserta pada saat pelaksanaan diskusi (menerima atau menolak P2KP) di wilayah ini, suara yang menolak P2KP ternyata lebih keras dan dominan serta banyak dilontarkan oleh tokoh masyarakat. Dalam pandangan mereka, muncul ketidakyakinan untuk dapat mengikuti proses P2KP secara penuh dan benar.

Trauma pengalaman proyek yang terdahulu merupakan hal yang sulit warga Desa Padasuka dan belum bisa dilupakan. Rata-rata, warga memberikan perbandingan bahwasanya sangat berat untuk melaksanakan P2KP bila masih ada proyek yang berdampingan dengan P2KP namun prosesnya tidak sama dengan apa yang dilakukan di P2KP. Hal itu, menurut pandangan warga, akan menimbulkan proses yang kontradiktif hingga akan muncul pandangan P2KP justru ekslusif dan menjemukan. Selain itu, juga muncul kekhawatiran bahwa keberhasilan P2KP hanya sebatas kurun waktu pendampingan proyek saja. Dan setelah pendampingan proyek berakhir, maka kegiatan P2KP pun berakhir.

Munculnya sikap kritis tokoh masyarakat dalam menyikapi kehadiran P2KP ini, bisa dipahami terutama akibat kegagalan dan trauma pada program/proyek terdahulu. Banyaknya kemacetan dalam pengembalian kredit usaha kecil/mikro dan penyimpangan/penyelewengan dana program/proyek yang terdahulu (seperti IDT, KUT, dll), menyebabkan mereka berkeinginan agar dana P2KP nantinya lebih dialokasikan kepada kegiatan fisik saja seperti perbaikan jalan lingkungan kampung, MCK umum dan lain sebagainya.

Sekian banyak pendapat/alasan dari warga yang muncul dan hadir pada saat itu berintikan kecenderungan menolak P2KP, maka Fasilitator berkesimpulan bahwa warga belum paham konsep dasar P2KP dan secara tergesa-gesa segera menyatakan bahwa P2KP sulit dilaksanakan. Selain itu disinyalir, hanya para tokoh masyarakat saja yang berbicara dan mendominasi diskusi itu dengan mengklaimnya sebagai perwakilan suara masyarakat, padahal, bisa jadi hanya ungkapan dan pandangan dari pribadi-pribadi.

Alotnya keputusan menerima atau menolak P2KP menyebabkan keputusan hasil RKM di RW 03 Desa Padasuka, untuk sementara ditunda dengan maksud agar lebih dibicarakan secara mendalam dan menyeluruh dengan seluruh komponen masyarakat di tingkat RT. Fasilitator akan menindaklanjuti dengan upaya sosialisasi terus menerus di RW tersebut, sampai ada pernyataan kesepakatan warga untuk bersama-sama berperan aktif dalam menanggulangi kemiskinan serta bersedia menjalani tahapan/siklus P2KP. (Dari catatan lapang Ahmad Slamet Rahayu, Faskel Tim Fasilitator 7 Korkot 2 Lebak, KMW 11 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.