Beranda Warta Berita PS di Banjar Serasan, Bersama Merencanakan Program

PS di Banjar Serasan, Bersama Merencanakan Program

Comments (0) View (1292)

M

MENYUSUL Kelurahan Tambelan Sampit dan Parit Mayor, mulai 14 Februari 2005 lalu, warga di Kelurahan Banjar Serasan bersama-sama Tim Pemetaan mulai memetakan lingkungannya. Kegiatan memetakan lingkungan atau Pemetaan Swadaya (PS) adalah salah satu kegiatan di dalam Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) yang dilaksanakan di Kecamatan Pontianak Timur yang dalam pelaksanaannya, Tim PS bersama-sama warga akan melakukan beberapa kajian mengenai kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan RT/RW masing-masing serta dilanjutkan dengan wawancara terhadap warga (KK) miskin.

Menurut Dinno Zulfikar Waluyan, koordinator Fasilitator P2KP yang temui di sela-sela acara pertemuan warga RW 03 Kelurahan Banjar Serasan, kegiatan ini dimaksudkan agar warga dapat terlibat dalam menemukenali permasalahan yang ada di lingkungan mereka, mengenali potensi diri yang ada serta turut memikirkan peluang atau solusi apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi permasalahan tersebut, maka didesain suatu kegiatan yang disebut Pemetaan Swadaya (PS) yang merupakan bagian dari perencanaan partisipatif.

Dalam kegiatan PS, selain diajak untuk membuat peta lingkungan di RT/RW-nya masing-masing, warga juga diharapkan mampu untuk menentukan profil KK miskin di lingkungannya yang merupakan sasaran utama dari program P2KP. Penentuan profil KK miskin sendiri berdasarkan ciri-ciri kemiskinan yang telah didapat dari kegiatan Refleksi Kemiskinan (RK) yang telah dilaksanakan sebelumnya di RT/RW masing-masing.

Menyinggung masalah dana, kembali Dinno mengingatkan bahwa dana yang dialokasikan pemerintah ke Kecamatan Pontianak Timur sebesar Rp. 1,65 milyar adalah merupakan dana pinjaman pemerintah kepada Bank Dunia yang disalurkan kepada warga berupa dana publik yang  bersifat wakaf, serta harus dimanfaatkan bagi kepentingan perbaikan kesejahteraan warga miskin di lingkungannya.

Kemudian, PS menjadi sangat penting dilaksanakan karena paradigma pembangunan pada masa lalu masih menggunakan pendekatan pembangunan dari atas ke bawah (top down) di mana program atau proyek yang dikembangkan di masyarakat, direncanakan dan ditentukan oleh ‘pihak luar’, baik oleh pemerintah atau lembaga-lembaga lainnya yang bergerak dalam bidang  pembangunan kepada pelaksana serta masyarakat.

Walaupun program semacam itu didasarkan pada proses ‘penjajagan kebutuhan’ masyarakat, tetapi penjajagan yang dilakukan hanyalah berdasarkan suatu survei atau penelitian akademis yang tidak melibatkan masyarakat atau warga penerima bantuan secara berarti. Padahal apabila masyarakat atau warga dapat dilibatkan secara berarti dalam keseluruhan pengkajian masalah/kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi, maka program atau proyek yang dikembangkan akan menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan mendasar masyarakat.

Apabila hal tersebut bisa dilakukan, maka rasa kepemilikan masyarakat terhadap program menjadi tinggi, juga keterampilan-keterampilan analisis pengkajian masalah/kebutuhan tersebut dapat ‘ditularkan’ kepada masyarakat atau warga penerima program. Dengan demikian di masa yang akan datang, diharapkan ketergantungan masyarakat terhadap ‘pihak luar’ dalam pengambilan prakarsa dan perumusan proyek atau program, secara bertahap dapat dikurangi sehingga diharapkan program dapat berkelanjutan.

Pemetaan Swadaya dalam konteks P2KP tidak hanya sekedar ‘metode survey atau metode penelitian oleh masyarakat’ sebagai alat kajian atau penggalian informasi saja. Namun, penerapan metode ini di dalamnya terkandung nilai-nilai pemampuan masyarakat atau warga, dimana warga diajak untuk sampai pada tahap kesadaran kritis agar menyadari/paham dengan kondisi masyarakat dan lingkungannya yang pada akhirnya mampu secara swadaya merumuskan langkah-langkah pembangunan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan upaya penanggulangan kemiskinan di lingkungannya.

Masih menurut Dinno, ada banyak teknik-teknik Pemetaan Swadaya (PS) dan jenis informasi yang dapat digali melalui serangkaian kajian-kajian. Pemilihan teknik dan jenis informasi yang diinginkan akan sangat tergantung dengan karakteristik warga serta waktu yang tersedia, mengingat bahwa pertemuan warga lebih sering dilaksanakan pada malam hari, sehingga hal yang terpenting di dalam pelaksanaan PS yaitu prinsip pemberdayaan masyarakat tidak terabaikan.

Sementara itu di tempat terpisah, Darmawi selaku Koordinator Tim Pemetaan di lingkungan RW 01 Kelurahan Banjar Serasan menyatakan sangat mendukung kegiatan ini karena selama ini warga sangat jarang dilibatkan dalam perencanaan pembangunan di lingkungannya. Warga Banjar Serasan yang juga adalah PNS di lingkungan Deperindag ini berharap, agar ke depan P2KP dapat dilaksanakan secara transparan dalam semua hal termasuk dalam pencairan dananya nanti. Hanya saja, Darmawi mengingatkan bahwa kegiatan-kegiatan dalam P2KP agar jangan terlalu lama dilaksanakan karena dikhawatirkan warga menjadi bosan menunggu-nunggu. (@beng.com, dari penulisan partisipatif Tim Faskel 1 Korkot 1 KMW 2 (2/1); Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.