Beranda Warta Berita International Years of Microcredit 2005, Berimbas Pencerahan?

International Years of Microcredit 2005, Berimbas Pencerahan?

Comments (0) View (994)

L

LAYANAN kredit kecil, nampaknya telah memberikan manfaat dalam pengembangan usaha keluarga dan peningkatan kesejahteraan mereka. Berbagai model layanan kredit kecil yang sering juga disebut dengan ‘microcredit’ telah menjadi salah satu intervensi berbagai program penanggulangan kemiskinan di tanah air. Kita kenal berbagai pendekatan layanan untuk individual atau berkelompok dengan skim jasa yang juga berbeda. Mulai dengan pola jasa bunga konvensional, pola bagi hasil dengan pengembalian yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan pemanfaat.

Tahun 2005 ini, telah dicanangkan sebagai tahun ‘microcredit. Dikemas dengan 'International Years of Microcredit', program ini di launching pada Nopember 2004 lalu dan diawali oleh mahasiswa dari Harvard University Business School. Kampanye program ini dilatar belakangi oleh masih banyaknya masyarakat miskin di berbagai belahan dunia yang belum dapat mengakses sumber permodalan, lembaga perbankan maupun lembaga keuangan masyarakat serta sumber permodalan lain. Bahkan, Anggun C. Sasmi, penyanyi Indonesia yang bermukim di Paris, ikut sebagai duta yang mengkampanyekan 'International Years of Microcredit 2005' ini, bersama musisi lainnya.

Realitas yang melatar belakangi kegiatan ini juga ditemui di sekitar kita. Masyarakat kecil dengan usaha keluarga yang tergolong sangat mikro, sulit untuk mendapatkan layanan permodalan. Kalaupun ada, masih terbatas melalui proyek penanggulangan kemiskinan skala nasional, inisiatif pemerintah daerah, rintisan Lembaga Swasaya Masyarakat ataupun upaya kepedulian oleh sekelompok masyarakat yang konsen. Sementara mereka yang tergolong kelompok masyarakat miskin, tidak juga kunjung berkurang. Bahkan dalam laporan Bank Dunia (Kompas, 24 Januari 2005), tercatat masih sebanyak 110 juta penduduk Indonesia tergolong miskin yaitu mereka yang berpendapatan di bawah 2 dolar Amerika atau Rp. 18.310,- per-hari.

Fenomena kontroversial lain adalah laporan pemerintah tentang layanan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang semakin meningkat bila dibandingkan tahun sebelumnya. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Maulana Ibrahim menjelaskan, ekspansi UMKM sepanjang 2004 telah mencapai 72,03 triliun atau 187% dari rencana bisnis perbankan sebesar 38,5 triliun. Kinerja ini lebih baik dibandingkan layanan UMKM 2003 sebesar 26,99 triliun atau 63,8% dari total bisnis perbankan sebesar 42,3 trilliun (Kompas. 19 Februari 2005). Pertanyaan yang muncul adalah apakah ini benar ataukah hanya sekedar basa-basi untuk konsumsi politik dan kepentingan mitra pemberi bantuan pinjaman?

Persoalan klasik

Laporan Bank Indonesia yang mengemukakan bahwa porsi layanan kredit bagi UKM yang demikian besar, sah saja dan mungkin benar. Namun pertanyaannya, UKM yang mana dulu? Hingga saat ini, belum disepakati batasan usaha mikro. Misalnya kesepakatan antara Bank Indonesia dengan Komite Penanggulangan Kemiskinan bahwa Kredit Usaha Mikro adalah maksimal 50 juta. Rancangan Undang-Undang Keuangan Mikro yang sekarang tidak jelas lagi dimana dan sejauh mana proses pembahasannya, juga dengan batasan yang sama.

Akhirnya, porsi kredit dengan pagu dibawah 50 juta, termasuk kategori layanan kredit mikro. Sehingga layanan kartu kredit bagi kelompok masyarakat menengah atas senilai 50 juta, termasuk dalam porsi layanan kredit mikro ini sebagaimana yang mungkin dikemukakan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia di atas.

Ironisnya, kelompok masyarakat kecil dengan pagu layanan kredit di bawah 5 juta, masih saja dengan himpitan persoalan dan sulit menembus layanan perbankan. Pertanyaan besarnya, akankah 'International Year of Microcredit 2005' ini berimbas dan membawa perubahan di tanah air kita? Semoga. (Muchtar Bahar; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.