Beranda Warta Berita Konsen Mengawal PJM, Himpunan BKM Kota Surabaya Dideklarasikan

Konsen Mengawal PJM, Himpunan BKM Kota Surabaya Dideklarasikan

Comments (0) View (1398)

S

SETELAH tertunda kurang lebih 3 bulan, akhirnya Himpunan Badan Keswadayaan Masyarakat Kota Surabaya (HBKM) dideklarasikan pada Minggu, 20 Februari 2005 lalu di gedung pertemuan Bappeprov Jawa Timur. Deklarasi tersebut dihadiri oleh dinas/instansi provinsi seperti Dinas Permukiman dan Badan Pemberdayaan Masyarakat, maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surabaya serta 43 BKM di Kota Surabaya.

Menurut Ketua HBKM Surabaya, A. Jumadi, mengatakan bahwa motivasi utama berdirinya lembaga ini adalah untuk mengawal PJM Pronangkis yang telah dibuat oleh BKM baik dari P2KP 1/1 yang menerima program Exit Strategy maupun P2KP tahap 1/2. Disadari bahwa dalam penyusunan PJM Pronangkis tersebut telah terlalu banyak ‘energi’ yang dikeluarkan baik dari masyarakat berupa waktu dan tenaga yang digunakan untuk mengindentifikasi penyebab kemiskinan melalui FGD maupun Pemetaan Swadaya (PS) sampai lokakarya, maupun dari yang lainnya termasuk biaya yang dikeluarkan untuk membayar Fasilitator Kelurahan sebagai pendamping. Maka, dokumen PJM Pronangkis ini akan menjadi tidak bermanfaaat bila tidak ditindaklanjuti dengan kegiatan riil sebagaimana tertuang di dalamnya.

Lebih lanjut, A. Jumadi yang juga Ketua BKM Perak Timur ini mengatakan, untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat yang tertuang dalam dokumen tersebut, BKM dihadapkan pada berbagai kendala tentang lemahnya akses, baik SDM, peralatan maupun sumber pembiayaan. Kendala yang dihadapi BKM serta kebutuhan untuk mengisi PJM-Pronangkis inilah yang diharapkan dapat di fasilitasi oleh ‘himpunan’ melalui upaya membangun kemitraan dengan Pemerintah maupun lembaga lain seperti perbankan.

Sebagai wakil dari KMP P2KP, Rikawanto yang pada saat itu hadir mengatakan bahwa HBKM jangan seperti ‘balon udara’ yang semakin besar justru makin jauh meninggalkan bumi. Menurut Rikawanto, dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah diperlukan kesiapan anggota HBKM, karena yang akan dilakukan ke depan masih besar, masih banyak tantangan, hambatan bahkan ‘iming-iming’ yang dapat melemahkan perjuangan HBKM. Rikawanto juga mengharapkan akan terjadinya integrasi antar masyarakat, BKM, HBKM dan Pemerintah, dimana dalam integrasi tersebut, HBKM mempunyai peran mengawal kebijakan Pemerintah Daerah sekaligus aspirasi anggotanya.

Pada session bincang BKM, dipaparkan ‘best story’ dari BKM Kali Kedinding dan BKM Kapasan Sejahtera. Dari BKM Kali Kedinding diwakili oleh Suwandono menjelaskan, pada saat pelaksanaan P2KP berjalan, BKM yang dipimpinnya sudah mencoba menjalin kerjasama dengan Pemeritah Daerah dan Perbankan, walaupun saat itu P2KP cenderung ‘enggan’ dengan adanya kemitraan tersebut. Namun dengan komunikasi yang intens dengan warga, Faskel dan Pemerintah Daerah, akhirnya BKM Kali Kedinding mampu membangun pasar dengan fasilitas dari Pemerintah Kota Surabaya dan Bank Jatim.

Selain itu, ada juga paparan yang disampaikan Chairul dari BKM Kapasan Sejahtera yang menyangkut keberhasilan BKM dalam  mendapatkan kepercayaan dari Bank Mandiri untuk memberikan pinjaman kepada KSM tanpa memakai jaminan. Pada awalnya, Chairul juga ragu untuk menerima tawaran kredit kepada anggota KSM dari Bank Mandiri cabang Veteran mengingat selama ini, bank selalu mensyaratkan adanya anggunan.

Setelah melakukan penjajakan kemungkinan dengan pihak bank serta mengindentifikasikan anggota KSM yang mempunyai kredibilitas angsuran yang baik, maka dicoba mengajukan 5 anggota KSM kepada Bank Mandiri untuk memperoleh pinjaman yang besarnya antara 2 juta sampai 5 juta. Usulan yang bersifat coba-coba ini, ternyata mendapat tanggapan yang positif dari bank serta langsung dilakukan survei ke lapangan. Tenggat waktu tidak sampai 10 hari, akhirnya Bank Mandiri mengucurkan 150 juta kepada anggota KSM dengan pagu pinjaman berkisar antara 2 juta hingga 5 juta per-anggota. Persyaratan yang diajukan Bank Mandiri ini pun relatif mudah serta tidak memakai angsuran.

Paparan yang disampaikan BKM Kapasan Sejahtera tersebut ternyata mengundang antusias dari pengurus BKM lainya dalam bermitra dengan bank, sehingga memunculkan ide dari HBKM yang dalam waktu dekat ini akan mencoba memfasilitasi pertemuan pengurus-pengurus BKM dengan Bank Mandiri.

Lain lagi dengan penjelasan yang disampaikan Ustman dari BKM Pacar Keling Aman. Ustman yang juga merupakan salah satu Ketua BPH BKM, mengajak pengurus BKM yang hadir dalam acara tersebut untuk membuat kegiatan sosial bersama-sama. Adapun kegiatan yang ditawarkan adalah ‘nikah massal’ yang diperuntukan bagi pasangan warga miskin yang telah berumah tangga namun belum mempunyai surat resmi dari KUA.

Tawaran ini diajukan Ustman karena BKM-nya pada tahun 2003 pernah melakukan kegiatan tersebut yang diikuti oleh 40 pasangan. Dan dalam jangka waktu dekat, BKM Pacar Keling juga akan mengadakan kegiatan tersebut untuk yang kedua kalinya. Tawaran HBKM untuk mengadakan kegiatan nikah massal bagi warga miskin ini disambut baik oleh BKM, khususnya BKM dari Kelurahan Wonokusumo yang mengatakan bahwa di wilayahnya juga banyak pasangan yang belum memiliki surat nikah.

Menyinggung adanya permintaaan dari peserta agar HBKM dan FKA-BKM dapat melakukan dialog untuk menyelesaikan persoalan adanya 2 kelembagaan di Surabaya ini, Ketua HBKM mengharapkan agar KMP mau memfasilitasinya. Walaupun, menurut Jery dari BKM Airlangga yang bertindak selaku Ketua Panitia, sebelum pelaksanaan deklarasi ini, telah dilakukan pertemuan antar pengurus HBKM dan pengurus FKA yang salah satu kesepakatannya adalah bahwa FKA-BKM lebih berupaya untuk memperjuangkan sisa pagu dana sebesar 5 milyar lebih dari BKM yang belum tercairkan, sedangkan HBKM lebih berorientasi pada hal yang ‘kecil-kecil’ seperti mengawal PJM Pronangkis serta memfasilitasi kerja sama antar BKM.

Selanjutnya menurut Jery, tidak seluruh BKM di Kota Surabaya diundang untuk mengikuti deklarasi HBKM tersebut. BKM yang diundang adalah BKM yang telah menerima program Exit Strategi. Dan menurut data KMP, BKM yang mengikuti program Exit Strategi ini hanya sekitar 65 BKM. Peserta dari BKM yang hadir mencapai 43 BKM yang sebenarnya telah melebihi target yang diharapkan. (Kontribusi penulisan: Surya Wijaya; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.