Beranda Warta Berita Rusnadi: Offline Bisa Lebih Cepat, Nadjib: Mantapkan Online

Rusnadi: Offline Bisa Lebih Cepat, Nadjib: Mantapkan Online

Comments (0) View (1252)

P

PELATIHAN SIM Online-Offline yang berlangsung di Kota Makassar, merupakan penggabungan 2 SWK yang berdekatan yakni KMW 7 dan KMW 8. Pelatihan ini sendiri bertempat di Kampus Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar tepatnya di Laboratorium Komputer Pusat Informasi Universitas (PIU) Unhas, yang berlangsung selama 2 hari sejak 6 hingga 7 Maret 2005.

PIU Unhas merupakan laboratorium komputer berkapasitas 300 PC, yang pada kesempatan pelatihan tersebut, digunakan 1 kelas dengan kapasitas 50 komputer. Dengan fasilitas semacam ini, peserta yang terdiri dari 18 orang Faskel serta 5 orang Asmandat dari masing-masing KMW ini, memiliki keleluasaan untuk menggunakan komputer dengan 1 orang 1 PC.

Pelatihan ini sendiri dibuka oleh Muhammad Maulana, Co TL 3 Divisi Pengelolaan Data dan Informasi KMP P2KP, dengan dihadiri oleh Tim Pelatih SIM KMP yakni Dedi Yuliarto dan Syaiful Anwar, RM 5 Sulawesi, Dwia A. Tina, serta dari jajaran KMW 8 dan KMW 7 yang terdiri dari TL KMW, TA dan Korkot, Asmandat serta Tim Faskel.

Ada hal menarik yang diungkapkan Dr. Ir. Rusnadi Padjung, M.Sc, TL KMW 8 (2/1) tentang pelatihan di Makassar ini yaitu berkumpulnya Faskel, Asmandat dan Korkot dalam sebuah ruangan yang baru, dengan AC, berkarpet dan berteknologi. “Meskipun P2KP kental dengan nuansa kemiskinan, ternyata kita bisa berkumpul dalam suasana dan ruang yang serba berteknologi, jadi tidak seperti di warnet,” ungkap Rusnadi tentang fasilitas dari Unhas ini.

Ketika ditanya tentang kendala yang dihadapi peserta saat pelatihan, Rusnadi mengungkapkan tentang persoalan server yang demikian lambat serta tingkat pemahaman beberapa Faskel tentang internet yang belum begitu baik. “Hanya, servernya begitu lambat, apa ini dipengaruhi karena secara serentak dipakai itu,” ujarnya. Selain itu, Rusnadi juga mengungkapkan, saat pelatihan, ada SF atau Tim Faskel yang belum memiliki password. “Tapi ini telah dapat diselesaikan oleh Tim Pelatih,” lanjutnya.

Ditanya tentang materi pelatihan SIM, Rusnadi mengatakan, sebetulnya materinya relatif mudah/simple, hanya bila tuntutan up-date data online-nya 2 mingguan, Rusnadi memandang bahwa dengan quick status yang telah dilakukan rutin mingguan oleh KMW selama ini, bisa jadi akan lebih cepat. “Online itu kan masalah ‘real time’, lha kalau dengan offline bisa lebih cepat, kenapa tidak ini yang dilakukan?,” ujar Rusnadi.

Berbicara tentang online, offline dan quick status, TL KMW 8 ini dengan panjang lebar menjelaskan tentangnya. “Katakan ada 15 data yang dientri dengan masing-masing 1-2 digit, berarti ada 30 karakter per-desa, atau total per-Tim dengan 120 karakter yang harus dientri tiap 2 minggu. Kalau hanya semacam ini, sebetulnya SF tidak perlu dilengkapi dengan fasilitas online/warnet ataupun penyediaan sarana pendukungnya, karena ini bisa diinput oleh Asmandat, dan SF cukup datang ke kantor Korkot saja,” ungkap Rusnadi. “Dengan kata lain, bisa jadi online yang input 2 mingguan, tidak lebih cepat dari offline yang langsung dikirim ke KMP per-minggu,” papar Rusnadi.

Lain halnya dengan yang diungkapkan TL KMW 7 (2/1), Ir. M. Nadjib Noor, MS. Menurutnya, dengan model aplikasi online-offline yang dikembangkan saat ini, terdapat perubahan yang berarti dalam hal penyederhanaan glossary dan aplikasi. “Ya, semoga, dengan penyederhanaan ini, bisa segera menjawab berjalan atau tidaknya sistem online ini,” ujar Nadjib Noor.

Menurut keterangan Nadjib Noor selaku TL, ditingkatan Faskel dan Asmandat rata-rata memandang bahwa sistem sekarang relatif lebih ‘aplicable’. Nadjib juga menambahkan, relatif tidak ada kendala terhadap tingkat pemahaman Faskel dan Asmandat akan sistem online-offline ini. “Jangan kuatir, rata-rata mereka bisa mengerti dengan baik,” tambahnya.

Hanya, untuk online, Nadjib Noor juga masih memikirkan tentang kendala riil akan akses internet yang dijumpai terutama untuk Tim Faskel yang berada di lokasi jauh. Selain itu, apabila dipaksa, Nadjib juga khawatir online akan berpengaruh pada terganggunya kegiatan lapang Faskel. “Meski kami mengakui sistem ini lebih baik, tapi harus dipikirkan juga tentang strategi penerapannya, terutama untuk kondisi Tim Faskel yang berada di daerah remote,” ujarnya.

Untuk itu, Nadjib mulai berfikir, akan lebih baik agar senantiasa mengarahkan Faskel untuk datang ke kantor Korkot guna entri data. “Artinya, daripada kesulitan mencari akses internet/warnet, lebih baik Tim Faskel datang ke kantor Korkot untuk bersama-sama Asmandat dilakukan pendampingan dalam online data,” papar Nadjib Noor.

Tentang kemungkinan kecepatan up-dating data online di tingkat lapang, Nadjib Noor berpendapat bahwa online tetap dipandang penting. “Paling tidak, online harus dimantapkan, selain untuk pembelajaran bagi Faskel/pelaku lapang. Dan yang juga penting, dalam waktu yang sama, harus di-mix dengan offline,” ungkapnya. “Kalau semua data diserahkan Asmandat untuk dientri, selain tidak ada pembelajaran bagi Faskel, juga menghilangkan hak pelaku lapang untuk memberikan data,” tambah Nadjib Noor mengakhiri pembicaraan. (Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.