Beranda Warta Artikel Komunitas Belajar Perkotaan, Untuk Apa?

Komunitas Belajar Perkotaan, Untuk Apa?

Comments (0) View (2392)

A

ADA hal yang menarik saat misi Supervisi Bersama Tim P2KP Pusat yang terdiri dari unsur dari Bank dunia, Eks. Departemen Kimpraswil, Bappenas dan Depdagri, mengunjungi Kabupaten Magelang pada tanggal 23 dan 24 Januari 2004 lalu. Pada saat Tim Supervisi mendapat kesempatan berdialog langsung dengan alumni Lokalatih Pemda dan stakeholder P2KP Kabupaten Magelang (sebagai embrio KBP) bertempat di rumah salah satu alumni Bapak Habib, terlontar pertanyaan sederhana tentang ‘akan kemanakah arah dari embrio KBP ini?’

Memang tidak mudah menjawab pertanyaan semacam ini, bahkan alumni Lokalatih yang terdiri dari unsur Pemda, TKPP, KPKD, Perguruan Tinggi dan LSM yang dulu hanya berjumlah 29 orang dan kemudian berkembang menjadi sekitar 32 orang, menjawabnya dengan pernyataan yang bervariasi. Bahwa memang, dari semula, KMW 13 dalam hal ini Korkot 1 Magelang dan Banyumas, tidak pernah berkehendak ‘merekayasa’ pembentukan KBP dan tidak berani melakukan ‘klaim’ bahwa alumni Lokalatih adalah KBP itu sendiri, yang justru akan kontraproduktif terhadap ide dasar dari adanya KBP di P2KP 2/2.

Jika menyimak dari apa yang menjadi ide dasar KBP, sebenarnya tidak terlepas dari ide perlunya orang baik dalam membangkitkan kembali nilai-nilai luhur kemanusiaan dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Dan bahwa suatu kebijakan yang baik hanya akan lahir dari institusi yang baik dan institusi yang baik hanya akan tercipta jika individu-individu yang mengelola institusi tersebut adalah orang baik pula.
Orang-orang baik dan peduli inilah yang perlu dihimpun agar mereka mendapat ruang dan memiliki kekuatan dan keteguhan bathin untuk melestarikan dan memelihara nilai-nilai kebaikan pada diri mereka dengan harapan nilai-nilai kebaikan itu juga mampu mempengaruhi dan melahirkan kebijakan-kebijakan yang lebih baik dan “pro-poor’ di institusi mereka masing-masing.

Persoalannya adalah keinginan untuk berkumpul, berinteraksi, bersinergi dan kemudian dihimpun dalam sebuah komunitas memang tidak bisa dipaksakan, yang mestinya itu lahir dari kebutuhan mereka sendiri bukan kepentingan proyek atau siapapun. Karena prasyarat mutlak sebuah komunitas itu adalah sebagaimana Aristoteles menegaskan bahwa orang-orang dapat bersama-sama dalam sebuah komunitas untuk sebuah kesenangan bersama yang saling menguntungkan (‘enjoyment of mutual association’), atau pemenuhan kebutuhan dasar, dan untuk menemukan arti hidup.

Filosof Thomas Hobber di sisi lain mengatakan komunitas sebagai sebuah proses natural dari orang-orang yang bersama-sama memaksimalkan interest mereka sendiri (‘self interest’). Hobbes merasakan bahwa ‘self interest’ dapat menjadi kepuasan terbaik dalam ‘setting’ kelompok. Hillery (1955) dan Willis (1977) mempunyai kesimpulan yang semua literatur menyarankan empat komponen untuk mendefinisikan konsep tentang komunitas, yaitu yang utama sebuah komunitas terdiri dari orang-orang;  Ada sedikit perdebatan tentang elemen ini.

Beberapa penulis membantah bahwa ‘tempat’ (Place) atau ‘teritorial’ (Territory) bisa merupakan sebuah elemen dari komunitas (Hillery, 1955). Dan juga tidak semua penulis memasukan teritorial, tanah dan batas geografis dalam definisi komunitas menurut mereka. Tetapi Wilkinson (bab 15) memberi catatan bahwa ‘Community Development’ bukan tempat, tetapi proses yang terjadi pada sebuah tempat atau lokalitas.

James  A Christenson and Jerry W Robinson, JR (1994) dalam bukunya ‘Community Development in Perspective’ berfikir bahwa batas-batas spasial merupakan bagian integral dari sebuah komunitas dan banyak interaksi sosial menjadi lebih berarti dalam batas-batas spasial. Konsekuensinya tempat atau teritorial dipertimbangkan sebagai komponen kedua dari Definisi kita tentang komunitas.

Interaksi sosial (Social Interaction) adalah komponen ketiga dari Komunitas (Kaufman 1959; Wilkinson 1972, 1979, 1986). Banyak beda pendapat mengenai ini, tetapi elemen keempat dari komunitas adalah ide atas ‘the idea of common attachment of or Psychological identification with community’.

Berangkat dari pemikiran di atas maka tentu rasanya kita harus melakukan refleksi atas pemikiran kita terhadap visi pembentukan KBP dalam P2KP 2/2. Apakah tidak terlalu dini jika kita belum apa-apa mengklaim bahwa KBP dibentuk dan telah terbentuk oleh P2KP, kalau itu terjadi maka berarti kita mengulang kesalahan lama yang fatal membuat sebuah komunitas instan yang hanya dibentuk untuk kepentingan proyek semata-mata sebagai bagian dari ritualitas pemberdayaan, dan akhirnya hilang tanpa jejak. Serta jauh dari prinsip-prinsip ‘sustainable’.

Strategi yang paling awal dan fair adalah dengan membangun kesadaran akan pentingnya mengorganisasi kebaikan dan membangun ikatan-ikatan psikologis di antara mereka terlebih dahulu. Dengan menggunakan siklus P2KP dan KBP itu sendiri sebagai alat belajar, maka proseslah yang kemudian lebih berhak mengklaim apakah komunitas yang kita fasilitasi pembangunannya benar-benar menjadi komunitas atau tidak. Jika pada tahap awal sudah terbangun dua hal tersebut diatas, maka sebenarnya kita sudah separuh berhasil membangun komunitas belajar yang kita cita-citakan tersebut.

Perkara kemudian komunitas berhasil mendorong terciptanya SPKD yang lebih pro-poor dan Revitalisasi KPKD itu soal nanti, percaya saja bahwa dengan pemahaman yang lebih atas daerahnya, kepedulian, kebaikan dan kebijaksanaan yang mereka miliki mereka akan lebih mampu berbuat lebih banyak dalam hal pembangunan maupun penanggulangan kemiskinan di daerahnya daripada hanya sekedar secarik kertas SPKD dan SK KPKD, yang tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tidak disertai dengan tindakan yang lebih nyata. Dan itu datangnya dari individu individu yang berada di komunitas yang juga berada di institusi yang berbeda-beda. Wallahu a’lam bisawab…

(Penulis: Dikdik Herdiana, Korkot 1 Kab. Magelang dan Banyumas, KMW 13 P2KP 2/2 Jawa Selatan; edit: Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.