Beranda Warta Artikel Citra Diri Konsultan P2KP dan Tuntutan Menjadi Pelaku Nilai

Citra Diri Konsultan P2KP dan Tuntutan Menjadi Pelaku Nilai

Comments (0) View (2521)

<

Dunia membentuk pandangannya, tentang anda terutama dari pendapat yang anda miliki mengenai anda sendiri. (Walter Doyle Staples)

P2KP akan lebih efektif jika dapat dilakukkan oleh masyarakat dan pemerintah daerah secara mandiri dan berkelanjutan. Kemandirian dan tatanan pembangunan berkelanjutan tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan kapasitas masing-masing pelaku dan kemitraan antara keduanya, yang bertumpu pada nilai-nilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Dengan kata lain, P2KP menuntut nilai-nilai dan prinsip-prinsip tersebut tidak berhenti pada tataran teori, namun harus diaplikasikan yang mewujud dalam sikap dan perilaku pelaku utamanya (masyarakat), dan pemerintah daerah, juga swasta/kelompok peduli. 

Kita semua (personil konsultan yang berada di Bank Dunia, Tim Advisory, KMP Pusat sampai yang dikantor RM, KMW dari TL sampai Faskel, juga Manajemen Perusahaan), dituntut mampu berperan sebagai agen perubahan/pembaharu, dengan berperan sebagai Fasilitator, sehingga masyarakat dan Pemerintah Daerah mampu mentransformasi P2KP dari ‘Skema Proyek’ menjadi ‘Skema Program’ dan ‘Skema Gerakan Bersama’.

Dalam kaitan ini, citra diri konsultan P2KP di semua level, semakin penting artinya. Sebagai agen pembaruan, dalam menjalankan praktek fasilitasi kita juga dituntut sebagai pelaku nilai-nilai dan prinsip-prinsip P2KP. Citra diri konsultan P2KP akan berpengaruh terhadap kualitas dan efektivitas komunikasi. Baik komunikasi internal secara berjenjang dan timbal baik dalam tubuh konsultan P2KP, ataupun dengan stakeholder lainnya, baik masyarakat, pemerintah daerah maupun kelompok peduli. Selanjutnya, kadar kualitas dan efektivitas komunikasi akan berpengaruh terhadap proses transformasi itu sendiri. Pertanyaannya adalah, seperti apa atau seberapa besar kadar citra diri kita sebagai pelaku nilai dan prinsip P2KP?     

Sistem Sukses Komputer Mekanis, ‘Komputer Manusia’ dan Citra Diri

Tentunya, kita sama-sama memahami bagaimana bekerjanya sebuah PC (komputer mekanis). Sekalipun komputer itu sanggup mengerjakan banyak hal yang hebat, kita tahu bahwa mesin tersebut tidak dapat memberikan masukan bagi dirinya sendiri. Ia tetap tergantung pada sang operator manusia.

Hampir setiap hari kita mengalami, bagaimana bekerjanya pemroses kata. Pertama, kita mengetik naskah yang akan dicetak sesuai jenis programnya. Kemudian kita menekan tombol print dan segera printer mulai mencetak naskah itu. Kini tergetarlah sebuah gejala menarik: mutu naskah yang dicetak sebagai ‘hasil akhir’ langsung berkaitan dengan mutu data yang tadi dimasukkan sebagai ‘input’. Dengan kata lain, kalau kita keliru mengetik, mesin itu akan mencetak kesalahan yang sama tadi.

‘Kekeliruan-kekeliruan yang masuk’ akan menghasilkan ‘kesalahan-kesalahan pada keluarannya’. Sebagai contoh, sang operator sebenarnya ingin mengetik kalimat ‘Saya tidak ingin membiarkan masyarakat gagal membangun kemandirian’. Tanpa sadar operator terlewatkan dalam mengetik kata ‘tidak’ dalam rangkaian kalimat tersebut. Maka, komputer mekanis akan memproses kata dan mencetak naskah dengan hasil akhir: ‘Saya ingin membiarkan masyarakat gagal membangun kemandirian’. Singkat kata, sebuah komputer mekanis ‘tidak berkehendak’, ‘tidak dapat belajar’, ‘tidak kreatif’, tidak mempunyai ‘pikiran’-nya sendiri. Ia hanya mempunyai sistem sukses yang melaksanakan instruksi-instruksi khusus yang telah diberikan kepadanya.

Berbeda dengan ‘komputer manusia’, yang terdiri dari otak dan sistem syaraf, disamping jauh lebih canggih, juga menghasilkan masukannya sendiri. Indera kita ada di dalam terpadu dengan keseluruhan ‘mesin kita’ (otak dan sistem syaraf). Keabsahan masukannya, seperti halnya pemroses kata itu, langsung mempengaruhi mutu hasil akhir kita. Pencerapan indera dan proses-proses pikiran yang mengikutinya, dan cara kita berpikir memandang sebuah persoalan, akan menentukan apa yang kita ‘lihat’. Pikiran-pikiran atau bayangan-bayangan pikiran, selalu merupakan masukan utama bagi sistem sukses bawaan kita, dan hasil-hasilnya melalui unjuk kerja kita masing-masing, selalu merupakan keluaran yang utama.

Dengan kata lain, sistem kendali otomatis dalam diri kita bekerja sebagai sebuah mekanisme sukses menyangkut segala akibatnya, tergantung pada gambaran mental yang kita perhatikan dan kita pegang kuat-kuat dalam pikiran. Pikiran positif akan mendatangkan hasil-hasil positif manakala gambaran sasarannya di otak bersifat positif dan sesuai dengan konsep diri dan citra diri kita. Tetapi, kita tidak dapat memaksakan sebuah hasil sukses pada sistem tersebut, jika kita tidak dapat dengan sadar mulai, sebuah tugas berharap berhasil, sementara kita membayangkan hal-hal yang negatif yang pada akhirnya dapat membentuk citra diri yang negatif pula. Karena otak pun tidak dapat memusatkan perhatian pada sebuah gagasan yang berlawanan.

Dalam konteks contoh kalimat diatas, kita tidak dapat berkata, ‘Saya tidak ingin membiarkan masyarakat gagal membangun kemandirian,’ bila kita ingin masyarakat berhasil, sebab otak akan memusatkan perhatian pada segi ‘kegagalan masyarakat’ dalam gagasan itu. Pikiran tersebut harus bersifat positif guna menggapai sukses, misalnya: “Saya melihat masyarakat akan dapat membangun kemandirian, saya pernah melakukan pendampingan masyarakat dengan berhasil sebelumnya, dan saya optimis dapat melakukannya lagi’, kalau ini merupakan hal yang ingin kita wujudkan.

Jadi, secara singkat dapat dikatakan bahwa citra diri positif akan menghasilkan hal-hal yang positif. Dan, sebaliknya citra diri negatif akan menghasilkan hal-hal yang negatif pula.

Konsep Diri dan Citra Diri

Menurut William D. Brook, yang dikutip Jalaluddin Rakhmat (dalam buku Psikologi Komuniksi,1989), konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini bisa bersifat psikologi, sosial dan fisis. Bayangkan kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut pada diri sendiri: (1) Bagaimana watak saya sebenarnya?; (2) Bagaimana orang lain memandang saya?; (3) Bagaimana pandangan saya tentang penampilan saya?

Jawaban atas pertanyaan pertama menunjukkan persepsi psikologis tentang diri kita; jawaban atas pertanyaan kedua, persepsi sosial tentang diri kita; dan jawapan pada pertanyaan terakhir, persepsi fisis tentang diri kita. Selanjutnya, kunci perubahan kepribadian serta unjuk kerja bukanlah terletak pada perubahan wajah fisis seseorang; kunci itu terletak dalam perubahan wajah ‘mental atau psikologi’ seseorang, cermin batinnya, atau cara dia ‘melihat’ dirinya sendiri. 

Jadi, konsep diri bukanlah sekadar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian kita tentang diri kita. Konsep diri, meliputi apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan tentang diri kita. Menurut Jalaluddin Rakhmat (1989) ada 2 komponen konsep diri yakni komponen kognitif (kemampuan) dan komponen afektif (sikap). Boleh jadi salah satu komponen kognitif kita berupa ‘Saya ini otoriter’ dan komponen afektifnya berkata ‘Saya senang diri saya otoriter, ini lebih baik bagi saya’. Atau bisa saja komponen afektifnya berbunyi ‘Saya malu menjadi orang otoriter, karena tidak sesuai dengan sikap dan perilaku yang dituntut dalam P2KP.’ Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra diri dan komponen afektif disebut harga diri. Dimana keduanya (citra diri dan harga diri) berpengaruh besar pada pola komunikasi interpersonal, ataupun pola komunikasi kita dengan kelompok.

Sejalan dengan itu, Walter Doyle Staples (dalam bukunya Berpikir Sebagai Pemenang, 1994) menyatakan bahwa, konsep diri merujuk pada keyakinan-keyakinan yang telah kita terima yang langsung berhubungan dengan kita serta merujuk pada hubungan kita dengan dunia luar. Konsep diri kita menentukan cara kita berpikir, cara kita berperilaku dan cara kita menjalankan setiap kegiatan dan berkomunikasi dengan pihak lain. Dengan demikian, kita perlu lebih memahami dan menyadari, bahwa kita memerlukan konsep diri positif guna mendukung tingkat efektivitas komunikasi yang kita lakukan.

Walter Doyle Staples (1989) menyebutkan bahwa citra diri adalah ‘Sistem keyakinan yang telah kita terima mengenai diri kita sendiri dan bayangan-bayangan pemikiran setara yang dihasilkannya.’  Lebih lanjut dikatakan bahwa, pengembangan citra diri sebagai sarana untuk memperbaiki unjuk kerja pribadi. Bahwa orang gagal karena citra diri yang berorientasi pada kegagalan, bukan karena kurang mampu. Dicontohkan  bagaimana harapan-harapan keyakinan negatif sebelumnya membangun ‘hambatan mental,’ dengan meyakinkan orang terlebih dahulu bahwa mustahil bagi mereka dengan ‘keterbatasan-keterbatasan’ mereka, untuk berhasil.

Misalnya, bila kita beranggapan bahwa berbicara di depan sebuah pertemuan untuk meyakinkan manfaat proses panjang pembelajaran melalui siklus P2KP bagi masyarakat sehingga mereka menerima dengan kesadaran kritis kehadiran proyek tersebut merupakan hal sulit atau bahkan mustahil, citra diri kita akan berjuang habis-habisan untuk meyakinkan bahwa kita itu ‘berhasil’ pada saat kita memasuki ruang pertemuan, kita mencari segala macam isyarat-isyarat luar untuk mengganggu konsentrasi, mengurangi keyakinan-keyakinan, dan meningkatkan keresahan semuanya untuk ‘memungkinkan diri kita gagal’ kemudian kita melangkah terus untuk berhasil, yaitu untuk gagal. Kita menjadi begitu terkungkung pikirannya dan risau akan kegagalan, dan memang akhirnya diwujudkan.

Citra diri merupakan kunci kepribadian seseorang dan tingkah laku seseorang. Dan, lebih dari itu, citra diri mematok batas-batas prestasi seseorang. Citra diri merumuskan apa yang dapat dan yang tidak dapat kita lakukan. Oleh karena itu kita perlu memperluas citra diri sehingga kita bisa memperluas kemungkinan-kemungkinan baru, yang dapat mengubah kegagalan menjadi sukses. Kita perlu berlatih mengarahkan proses-proses pikiran mental kita secara efektif ke arah yang kita kehendaki. Kita dapat ‘menghidupkan’ volume pesan-pesan positif yang kita kehendaki, dan ‘mengecilkan’ volume hal-hal negatif yang tidak kita kehendaki. Jika kita sering berlatih seperti itu, pada saatnya kita akan menemukan bahwa kita menyusun di pikiran kita gambaran baru setiap kali kita memikirkan siapakah kita itu sesungguhnya. Dan kita akan memperhatikan dalam hidup kita, bahwa orang-orang lain mulai melihat kita sebagaimana kita melihat diri kita sendiri.

Kenyataannya ialah, kita terutama bertanggung jawab atas bagaimana kita diterima oleh orang-orang lain. Bukan sebaliknya, secara keliru memusingkan mengenai pikiran orang lain tentang mereka, seraya tidak menyadari bahwa dunia menyusun pendapatnya mengenai kita terutama berdasarkan pendapat yang kita miliki tentang diri kita sendiri. Dengan kata lain, cermin batin kita itu tembus pandang karena orang-orang lain melihat tingkah laku dan unjuk kerja kita, yang merupakan ungkapan jasmani citra diri kita. Dari sini, mereka menyusun sebuah pendapat siapakah kita itu menurut diri kita. Jadi yang menentukan bagaimana citra diri kita dimata orang lain adalah diri kita sendiri.

Mengembangkan Citra Diri, Menuju dan Menjadi Pelaku Nilai dan Prinsip P2KP

Dari uraian di atas, kalau kita sependapat, masing-masing dari kita perlu melakukan introspeksi diri. Apakah kita telah penjadi pelaku nilai dan prinsip P2KP dengan baik, sehingga citra diri kita juga positip dimata orang lain? Bagaimana kita bisa merubah/mengembangkan citra diri, kalau kita sendiri merasa bahwa citra diri kita sudah positif? Memang ini bukan hal yang mudah, karena melihat kekurangan diri sendiri jauh lebih sulit dibandingkan melihat kelemahan orang lain. Namun, bukan berarti tidak mungkin. Jika kita menyadari bahwa setiap orang memiliki kelemahan, termasuk diri kita sendiri, itu berarti kita telah memiliki modal awal untuk memperbaiki citra diri kita. Jadi, yang terpenting adalah adanya kesadaran itu, kejujuran terhadap diri sendiri serta kemauan kuat untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi.

Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengkutbahi teman-teman sejawat, karena penulis pun sadar tidak tahu persis tentang citra dirinya dimata orang lain. Penulis sekedar mengajak merenung, dan masing-masing dari kita bertanya pada diri sendiri ‘Seperti apakah kira-kira citra diri kita saat ini?’. Dan, kemudian mencoba merumuskan kembali ‘Seperti apakah idealnya citra diri baru kita’ sesuai tuntutan untuk menjadi pelaku nilai universal kemanusiaan dan prinsip kemasyarakatan?

Oleh karena itu penting bagi kita untuk mencoba memperbandingkan antara kenyataan sikap dan perilaku kita sehari-hari baik sebagai individu atau pun dalam menjalankan tugas sebagai konsultan P2KP, dengan nilai-nilai universal kemanusiaan dan prinsip kemasyarakatan, seperti: Apakah kita selama ini bersikap dan perperilaku jujur? (selalu, sering, kadang-kadang, jarang); Apakah kita selama ini bersikap dan berperilaku adil? (selalu, sering, kadang-kadang, jarang); Apakah kita selama ini bersikap dan berperilaku ikhlas? (selalu, sering, kadang-kadang, jarang); Apakah sikap dan berperilaku kita dapat dipercaya orang lain? (selalu, sering, kadang-kadang, jarang); Apakah selama ini sikap dan perilaku kita menempatkan kesetaraan dalam pengambilan keputusan? (selalu, sering, kadang-kadang, jarang); Apakah selama ini kita mengedepankan kebersamaan dalam keragaman? (selalu, sering, kadang-kadang, jarang); Apakah selama ini kita cenderung bersikap dan berperilaku demokratis atau otoriter?; Apakah selama ini sikap dan perilaku kita cenderung menumbuhkan iklim partisipasi atau sebaliknya justru membunuh partisipasi?; Apakah selama ini sikap dan perilaku kita cenderung transparan dan akuntabel atau sebaliknya?

Tentunya kita sepakat, tidak ada kata terlambat untuk terus berusaha menjadi pelaku nilai dan prinsip P2KP. Dan, kalau kita sudah sampai pada tataran sebagai pelaku yang baik, manifestasinya adalah kita selalu menempatkan orang lain sebagai subjek, setara dengan diri kita. Dan, proses dialogis pun terjadi dengan seimbang, sehingga masing-masing bisa menjalankan tugas, peran dan fungsinya dengan nyaman, gembira (meskipun masing-masing sangat sibuk), tidak ada yang merasa tertindas dan memang benar-benar tidak ada yang berperilaku menindas. Sebab, kata Paulo Freire, ‘Penindasan’ apa pun alasan dan bentuknya adalah tidak manusiawi. Sesuatu yang tidak manusiawi bisa menghasilkan produk ketidaksadaran, ketidakberdayaan, ketergantungan, dominasi, keterpaksaan, kepatuhan semu, sikap ABS bahkan penolakan/pemberontakan.

Singkat kata, disamping harus menguasai substansi dan proses, menjadi konsultan P2KP sekaligus dituntut pula untuk mampu menjadi pelaku nilai. Kalau tidak, kita akan dibilang, bisanya ‘omong doang’ atau ‘bapandir saja’ kata orang Banjar. (Banjarmasin, 26 Januari 2005)

(Penulis: Faisol; Team Leader KMW 4 Kalimantan Selatan; edit: Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.