Beranda Warta Artikel Kerelawanan Bukanlah Impian

Kerelawanan Bukanlah Impian

Comments (0) View (1763)

W

WAJAR apabila banyak pihak merasa ‘kaget’ begitu P2KP hadir dengan segala konsepnya dan dianggap lain dari yang lain, njlimet (rumit), maunya macam-macam, terlalu menggurui dan berbagai komentar lain yang bernada miring. Itulah kesan pertama yang bisa ditangkap dalam masa lobi-lobi, sosialisasi/orientasi serta serangkaian pertemuan awal pada level kabupaten maupun kecamatan di Kabupaten Blitar dan Lumajang. Hal ini mungkin, terjadi pula di semua lokasi sasaran P2KP yang notabene baru mendengar sesuatu yang ‘aneh’ ini.

Kami pun sangat mahfum. Siapa yang tidak tersentak kaget begitu tersampaikan tentang betapa panjangnya siklus proyek, banyaknya rapat dan rembug, belum lagi segudang wacana tentang konsep kerelawanan yang sengaja dihembuskan sebagai ‘senjata’ (baca: strategi dan ajakan beribadah), demi menggali nilai-nilai fitrah kebaikan hakiki yang sebenarnya sudah dimiliki setiap insan manusia sejak lahir. Memang, apa yang selama ini berlaku dan berjalan, mungkin tidak sesempurna P2KP.

Di balik semua itu, ternyata masih ada beberapa orang yang begitu bijak dalam menyikapi ungkapan tentang jiwa kerelawanan, keihlasan dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Paham dan sadar sepenuhnya, bahwa hanya dengan modal kebaikan dan keihlasan serta memberi tauladan yang baik, kemiskinan dengan berbagai masalahnya dapat tertanggulangi. Apalagi jika semua pihak dapat menginternalisasikan nilai-nilai luhur ini sesuai fungsi dan keberadaannya, terutama para petinggi yang ‘bertahta’ di pusat kekuasaan, para penentu kebijakan, bisa memberikan tauladan dalam mengamalkan apa-apa yang mereka tuangkan dalam prinsip dan nilai P2KP.

Kalau kita sadari, betapa berharganya nilai kebersamaan, kejujuran, kerelawanan dan keikhlasan dalam mencapai tujuan bersama, mungkin tidak akan lama kita akan keluar dari jeratan kemiskinan. Kalau kita sadari, betapa mulianya di saat kita dapat berbagi tentang apa yang kita miliki, kemudian dirasakan manfaatnya bagi orang lain.

Maka dengan berbekal keyakinan itu, kami bersyukur, ketika sebagian besar bahkan semua dari alumni peserta Lokalatih Dasar Aparat Dinas/Instansi, TKPP P2KP, dan beberapa kelompok peduli lainnya di Kabupaten Blitar dan Lumajang sepakat ‘berkorban’ waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi untuk dapat sedikit berbagi dengan P2KP dalam membangun komunitas Relawan tingkat kabupaten demi menyiarkan dan mengkampanyekan kebaikan.

Berakar dan berawal dari budaya cangkruk-an yang kami tawarkan sebagai alternatif menjalin silaturahmi pada suasana yang sangat santai dan informal pada beberapa pertemuan, terbangunlah komitmen untuk bersama membangun Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) sebagai wadah bertukar pikiran dan menyatukan visi dalam menggapai tujuan bersama khususnya penanggulangan kemiskinan.

Ada sesuatu yang patut kami banggakan dalam jalinan cerita lahirnya KBP di Blitar dan Lumajang yakni keterlibatan aktif beberapa birokrat, aktifis LSM dan kelompok peduli lainnya. Sebut saja beberapa nama di Blitar antara lain Ir. SP Soerjadi, MM, seorang Kabid yang juga Sekretaris TKPP di Bappeda Kab. Blitar; Asmaningayu Dewi Lintangsari, seorang staf di Bappeda Blitar yang juga Koordinator KBP Blitar; Drs.  Soenjoto, M. Si, Dosen Luar Biasa UNM yang diperbantukan di STKIP Blitar; seorang aktifis dan Koordinator FP2KB (Forum Perencanaan Partisipatif Kab. Blitar) Safruddin, LSM yang juga Wakil Koordinator KBP Blitar; Mujiyanto (LSM) dan masih banyak lagi nama lain.

Di Lumajang, ada Ir. Chairil Diani, Kabid Sosbud Bappekab Lumajang; Nugraha Yudha, SE, M. Si, Sekretaris KPKD Lumajang; Drs. Sulsum Wahyudi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang; Ibu Dra. Sri Suliantini, seorang dosen, aktifis advokasi bagi buruh dan perempuan; Muhammad Taufiq, akademisi, pengacara buruh, aktifis FLP, dan masih banyak lagi nama-nama Relawan lainnya. Mereka adalah ‘pioneer’ dalam merealisasikan keberadaan KBP ‘Blitar’ di Blitar dan KBP ‘Semeru Agung’ di Lumajang.

Tentunya tidak berlebihan apabila kami (baca: Kru Korkot 2 KMW 16 Jawa Timur) membanggakan dan mensyukuri peran aktif dan kerelawanan mereka telah memberikan nuansa lain dalam mengawal proses pembelajaran yang sangat berharga di masyarakat dengan langkah awal ‘memberi contoh dan berjalan pada barisan terdepan’.

Terlihat betapa yakin dan percaya diri di saat beberapa dari mereka hadir sebagai narasumber pada even-even Lokakarya kecamatan, talk show P2KP di media elektronik, dan pada momen lain yang tentunya sangat strategis untuk mengundang semakin banyak orang yang akan bergabung dengan beliau-beliau ini. Teringat pula di saat mereka harus saling bertemu pada malam hari, mengorbankan jam istirahat berkumpul dengan keluarga, menembus gelapnya malam, menerobos dinginnya hujan, hanya untuk saling berbagi dalam menyusun rencana kerja, menjadwalkan kunjungan lapang dan berbagai kegiatan lain yang menunggu kedermawanan hati mereka. 

Di balik rasa bangga dan bersyukur, sebenarnya kami menyimpan kegundahan yang tidak lebih merupakan introspeksi bagi kami sebagai pembawa panji-panji P2KP, ‘apa yang mereka dapat?’ ‘Apa yang ada dalam hati mereka’. Jawabnya, tanpa diragukan, tanpa mereka ikrarkan, kami tahu pasti, mereka hanya orang-orang yang ingin ‘berbuat’ saja, ‘tanpa paksaan’, ‘tanpa pamrih’, ‘tanpa interest’, ‘tanpa tendensi’, ‘mengalir seperti air’, ‘natural’, ‘alamiah’, ‘panggilan jiwa’ dan yang pasti: ‘mereka bukanlah kami’. 

Jadi sebenarnya, kita-lah yang harus bertanya pada diri kita, ‘akankah kita dapat mengikuti jejak mereka?’ ‘kapan?’ Karena, sekali lagi, ‘kita bukan mereka’, dan ‘mereka bukanlah kita’, hanya ‘hati’ yang dapat menyatukan ‘kita dan mereka’. Semoga.

(Penulis: Rif’an, Asisten Korkot 2 KMW 16 (2/2) Jawa Timur; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.