Beranda Warta Artikel Refleksi Aceh: Hikmah untuk Pembelajaran Kolektif

Refleksi Aceh: Hikmah untuk Pembelajaran Kolektif

Comments (0) View (1881)

M

MINGGU, 26 Desember 2004, pada jam 07.58 dan jam 08.48 WIB, merupakan ‘titi-mangsa’ yang akan terpatri dalam ingatan kolektif bukan saja masyarakat Aceh dan Indonesia tapi juga masyarakat internasional. Kita menyaksikan bersama bahwa pada ‘titi-mangsa’ itu terjadi suatu ‘mini kiamat’ atau gempa tektonik berkekuatan 8,9 Skala Richter yang berpusat di 149 km sebelah selatan Meulaboh, Aceh Barat, yang disusul gempa kedua yang telah mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 10 meter.

Gempa dan Tsunami di Nagroe Aceh Darusssalam (NAD) dan sebagian wilayah Sumatra Utara telah menelan ‘korban’ yang untuk perhitungan sementara sebanyak 250.000 orang. Bahkan, untuk menggambarkan kedahsyatan peristiwa tersebut, ada pihak yang berspekulasi bahwa tsunami dan gempa di Aceh merupakan peristiwa trans-sejarah setelah 3,5 miliar tahun yang lalu, terjadi sebuah gempa yang memisahkan dunia menjadi beberapa benua seperti yang kita kenal selama ini.

Peristiwa tersebut telah membangkitkan solidaritas kemanusiaan dan kerelawanan, mulai dari masyarakat setempat sampai dengan masyarakat internasional dalam bentuk mengalirnya bantuan dan Relawan serta terselenggaranya ‘Tsunami Summit’ di Jakarta pada 6 Januari 2005 lalu.

Disamping reaksi yang bersifat fisik berupa mengalirnya berbagai bantuan dan Relawan ke Aceh dan Sumut serta kesibukan melakukan program tanggap darurat dan merancang program rehabilitasi dan rekonstruksi, terdapat juga reaksi yang berupa pertanyaan bersifat reflektif yakni sebuah pertanyaan yang menyentuh tentang apakah bencana Aceh ini merupakan hukuman atau ujian (baca: pembelajaran)?

Dalam hubungan ini, mengingatkan saya pada sebuah buku yang ditulis Prof. Dr. Harun Nasution. Menurut beliau, dalam wacana Filsafat Agama, terdapat 2 aliran utama yakni aliran jabariah atau fatalistik yang dan aliran qadariah atau kehendak bebas manusia atau ‘free will’.

Menurut aliran jabariah atau fatalistik menyatakan bahwa manusia dan mahluk lainnya di dunia ini, persis seperti wayang tanpa kuasa. Tuhanlah yang menggerakkan seluruh kejadian di muka bumi termasuk segala bencana. Dengan begitu, maka Tuhan digambarkan kejam dan buas, dimana pandangan ini membawa kita pada pandangan menyalahkan Tuhan (‘blaming God’).

Sementara itu, aliran qadariah memberi penekanan bahwa manusia memiliki kehendak bebas (‘free will’), dan Tuhan menciptakan dunia serta segala isinya dilengkapi  dengan hukum alam (sunatullah). Dalam pandangan aliran ini, manusia memiliki tanggungjawab untuk mengelola dunia dan segala isinya. Dan setiap penyimpangan (seperti perusakan lingkungan, eksploitasi alam yang berlebihan, dll) dari koridor yang ditetapkan Tuhan, merupakan pengingkaran pada kekuasaan-Nya. Dalam pandangan ini, tak pelak membawa kita untuk menyalahkan korban, dalam hal ini manusia (‘blaming the victims’). 

Pembahasan tentang bencana yang cenderung menyalahkan korban membawa konsekuensi pada hukuman kepada masyarakat Aceh yang seolah-olah penuh dosa dan tidak ta’at pada agamanya, dan tentu saja tidak adil. Bukankah di Jakarta,  Bandung atau di Pangandaran, Jawa Barat--sekedar untuk menyebut tempat--tidak lebih baik ketimbang Aceh dan Sumatra Utara?

Sementara pembahasan bencana yang menyalahkan Tuhan, akan menyeret kita pada diskusi yang tanpa akhir dan akan tergelincir pada sikap meragukan eksistensi Tuhan itu sendiri. Dalam hubungan ini, saya lebih cenderung untuk mengikuti saran Goenawan Mohammad (mantan Pemred Majalah Tempo--pen): “Akhirnya, kalau kita merenung kembali, saya kira, posisi dan sikap yang betul tentang Tuhan itu ditunjukkan oleh sekelompok orang yang terkenal sekali, yaitu The Beatles. The Beatles mengatakan, God is a concept by which we measure our pain, atau semacam itulah. Jadi, Tuhan itu dalam pengertian mereka adalah untuk mengukur, meletakkan rasa pedih kita.” Dimana, Tuhan dalam hubungan tersebut diletakkan dalam kehadirannya secara positif dan intens pada setiap diri sehingga memberikan kedamaian dan kehangatan ketika kesulitan dan kepedihan menimpa.

Seiring dengan pandangan The Beatles tersebut, persis setahun sebelum tsunami dan Gempa di Aceh yaitu pada 26 Desember 2003, terjadi gempa yang juga dahsyat di Kota Bam, Iran yang menewaskan 41.000 orang. Para pemimpinnya telah menunjukan sikap dewasa dalam menghadapi bencana gempa tersebut dan memberikan penjelasan bahwa bencana itu merupakan ujian dari Tuhan yang karenanya agar bersabar dalam menghadapinya.

Pandangan positip tersebut menurut saya perlu dipegang tanpa harus menyalahkan korban (‘blaming the victims’) dan menyalahkan Tuhan (‘blaming God’) serta sekaligus merupakan cerminan keseimbangan dan kedewasaan dalam beragama.

Saya berpendapat, yang terpenting dalam konteks Aceh adalah sejauh mungkin menjadikan bencana sebagai pembelajaran kolektif sebagaimana ditunjukan masyarakat Jepang dalam menghadapi berbagai bencana gempa dan topan dalam bentuk perancangan kota yang memudahkan evakuasi bila terjadi gempa, perancangan rumah tahan gempa dan perilaku tertib dan disiplin dalam kehidupan sehari-hari yakni sebelum pergi bekerja dan sekolah mereka menyimak tata-cara menyelamatkan diri bila terjadi gempa serta membangun ‘early warning system’ yang terpadu di antero negeri dalam mengantipasi dan menjinakkan bencana gempa.

Bencana Tsunami dan Gempa di Aceh telah banyak memberikan isyarat-isyarat untuk dapat dijadikan bahan pembelajaran kolektif bagi kita yang ditinggalkan mulai bagaimana cara bersikap terhadap para Relawan dan masyarakat internasional, cara  berkoordinasi, menyusun rencana, mengelola lingkungan dan mengembangkan hubungan yang egaliter antar sesama anak bangsa dan lain sebagainya.

Sementara bagi mereka (terutama anak-anak, perempuan dan orang tua jompo) yang diambil oleh pemiliknya, Tuhan Maha Pengasih, kita berkeyakinan bahwa mereka telah diselamatkan dan dibebaskan oleh Tuhan dari keharusan menghadapi ujian, sebagaimana yang harus kita hadapi. Semoga bermanfa’at.

(Penulis: Kurniawan Zoelkarnaen, Team Leader KMP P2KP; Sebuah Refleksi, Bendungan Jatiluhur, 14 Februari 2005; Edit: Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.