Beranda Warta Artikel Degaga Do’ina

Degaga Do’ina

Comments (0) View (1291)

P

PROBLEM yang dihadapi oleh Fasilitator tentunya sangatlah kompleks. Saking banyaknya permasalahan, ada teman Fasilitator yang suka bercanda, “Apa kepanjangan P2KP.” “Ah gampang itu pi…, tentunya Fasilitator di seluruh Indonesia bisa,” ujar yang lain. Si pembuat pertanyaan tahu apa yang dimaksud dengan pertanyaan itu. “Boleh tahu? Ini kepanjangannya: ‘naurusui tau kasiasi’E,” ungkap Sang pembuat pertanyaan. “Nah, itu jawabannya, berarti Fasilitator seluruh Indonesia nggak bisa, kan, karena yang membuat pertanyaan orang Bugis Makassar, ha..ha..ha…,” ujarnya berseloroh.

Di KMW 8, ada teman dari Jawa dan mereka sering nyeletuk “degaga do’ina’. Mereka hanya mengerti dengan kata-kata itu, karena hampir setiap pertemuan di masyarakat, kata-kata itu yang sering terlontar. Ada kecenderungan di masyarakat bahwa proyek P2KP sama dengan proyek yang lalu, akibatnya, sebagian cara pandang masyarakat terhadap proyek adalah “do’ina do’ina do’ina”, sehingga kita sering berpikir pada permasalahan ini, apakah sosialisasi yang kita laksanakan di masyarakat sudah berhasil atau tidak, karena tidak mudah untuk membaca cara berpikir masyarakat.

Ada kalanya, sebenarnya masyarakat mengerti dengan kedatangan kita sebagai seorang Fasilitator yang bertugas mentransformasikan program P2KP. Tetapi yang menjadi beban pikiran kita, bagaimana masyarakat akan mengerti alur dari proyek ini, sedangkan yang dipikirkan hanya “do’ina, do’ina kapan turun.” Padahal yang kita tahu, dari setiap siklus P2KP, ada makna yang tersirat di dalamnya. Contoh yang paling nyata dalam sosialisasi awal, kita akan memperkenalkan P2KP, disamping sebagai Fasilitator, kita juga mengenalkan wilayah yang akan digarap. Ada makna yang dapat kita ambil darinya, seperti, kita akan tahu adat istiadat wilayah tersebut, sehingga ke depannya kita lebih mengenal kondisi dan demografi wilayah dampingan.

Pada masyarakat marginal, kita sering menemukan problem lingkungan yang sangat kompleks, karena disinilah garapan kita sebenarnya, menggali dan mengenali permasalahan yang sangat carut marut. Mulai dari akhir semuanya, yang pasti Pemda akan mengusirnya karena tidak sesuai dengan master plan kota. Proyek P2KP dalam pelaksanaannya akan selalu menggandeng pemerintah lokal, sehingga peran Pemda sebagai ujung tombak bersama dengan Fasilitator, akan bersinergi untuk melakukan penanggulangan kemiskinan.

(Penulis: Muh. Muhson, Faskel Ujungbulu, KMW 8 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.