Beranda Warta Artikel Menemukan Relawan

Menemukan Relawan

Comments (0) View (1110)

S

SULITKAH menemukan Relawan? Namun, sebelum sampai ke permasalahan sulit atau tidaknya, kita harus menyepakati dulu tentang apa makna Relawan.

Spontan Merespon Amal Sholih

Saya sendiri masih berkeyakinan bahwa Relawan adalah wujud dari orang yang spontan merespon panggilan untuk beramal sholeh, yang mana, Tuhan tidak pernah bosan-bosannya untuk setiap waktu (setiap menit, jam, hari), mengirimkan sinyal-sinyal panggilan yang berupa peluang amal sholeh itu, baik secara langsung maupun tidak. Tinggal, bagaimana setiap insan itu sendiri yang diberi kemerdekaan, meresponnya atau tidak, melalui modal fitrah ciptaannya bahwa manusia sudah diberi kecenderungan untuk hanif (memilih dan membela kebenaran dan kebaikan). Hanya nafsu saja yang sering menghalangi fitrah seseorang.

Secara filosofis, manusia akan selalu mencari titik kesetimbangan dalam hidup dan kehidupannya, sehingga koridor-koridor kosmologis yang dia yakini, akan memberikan arah hidup yang lebih baik yang akan disikapinya sebagai konsistensi jalan hidup yang akan dia tempuh. Inipun hanya berlaku bagi manusia yang berusaha hidup, bukan manusia yang sedang dalam status putus asa.

Keyakinan agama, penghormatan pada tradisi dan norma, taat pada peraturan bersama, merupakan tingkatan-tingkatan hierarkhis nilai yang menjadikan manusia teratur dan benar dalam menyikapi kehidupannya.

Tentang Relawan, apa memang perlu ditemukan, saya kira tidak. Kita harus yakin bahwa Relawan akan datang dengan sendirinya (dalam bahasa P2KP adalah mereka yang mendaftarkan diri atau lebih tepat lagi, mereka yang menyatakan kepeduliannya dengan cara yang paling santun untuk ditangkap orang lain--kita).

Asumsi kita, berdasarkan keyakinan, seharusnya, manusia pada dasarnya adalah baik (itu iya), dan tidak usah diperdebatkan karena dari penciptaannya saja, modal awalnya sudah berpotensi itu, yakni akan fitrahnya yang hanif pada kebaikan dan kebenaran.

Bahwa mencari Relawan, pada dasarnya tidak perlu. Kita hanya perlu merespon balik atas kepedulian mereka yang halus dan santun (supaya tidak disalahpersepsikan). Bahwa ada tidaknya Relawan tidak perlu diragukan lagi, karena setiap hari, bahkan setiap waktu, Tuhan mengirimkan peluang-peluang untuk beramal sholih. Dan orang yang mampu merespon peluang, itulah Relawan.

Kondisi kerelawanan seseorang bisa bertingkat-tingkat. Bagi yang spontanitasnya rendah, berarti kerelawanannya juga rendah atau mungkin masih belajar menjadi Relawan. Sementara yang spontanitasnya tinggi, itulah Relawan yang sesungguhnya, yang sudah sangat yakin akan memegang keyakinannya tentang hikmah-hikmah Tuhan menjadikan kehidupun dirinya dan lingkungannya semakin baik serta terus akan memberikan keberkahan. Bahasa kerennya adalah Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofuur (Mencitakan Negeri yang makmur yang dilimpahi Ampunan Tuhan Semesta Alam)

Apa Sikap Kita?

Yang perlu kita siapkan, bukan Relawannya karena dia pasti akan muncul dan kita mesti peka merespon sinyal mereka. Tapi yang justru terus disiapkan adalah bagaimana format P2KP ini dalam wujudnya harus menjadi gambaran amal sholeh buat mereka, dan itu justru yang penting. Hal-hal yang selama ini kurang sempurna harus makin kita sempurnakan.

Saya yakin, P2KP ini merupakan salah satu amal sholih yang ditakdirkan Tuhan untuk dapat diyakini oleh manusia. Bentuknya bukan program agama tapi merupakan implementasi dari misi agama itu sendiri. Dari sinilah, program P2KP lebih banyak direspon oleh orang-orang yang memiliki keyakinan yang mantap yang salah satunya adalah keyakinan agama.

Banyak orang menganggap bahwa aktif di P2KP adalah merupakan amal sholih yang ada pahalanya di akhirat kelak. Bagaimana saudaraku tentang pendapat saya ini? Apakah bisa kita kembangkan diskusi Relawan ini hingga ke tingkat terdalam dari keyakinan kita? Saya tunggu tanggapannya.

(Penulis: Muhammad Hidayat, Team Leader KMW 2 P2KP 2/1, Pontianak, Kalimantan Barat; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.