Beranda Warta Artikel Mendulang Intan Kerelawanan

Mendulang Intan Kerelawanan

Comments (0) View (11204)

P

P2KP merupakan proyek yang dikemas program. Pemberdayaan dalam arti sesungguhnya terhadap warga yang selama ini terpinggirkan dilakukan melalui  tahapan-tahapan yang secara keseluruhan merupakan proses belajar. Pada tahap awal P2KP masuk di sebuah sasaran ditanyakan dulu kesediaan warga untuk bersikap menerima atau tidak. Sebuah permulaan yang hanya sedikit, atau boleh dibilang tidak ada, proyek yang menerapkan hal demikian. Sebagai konsekuensi dari penerimaan terhadap P2KP maka harus ada Relawan yang berkenan membantu proses penyelenggaraan kegiatan program yang kemudian akan digulirkan. 
 
Setelah Rembug Kesiapan Warga (RKW) dilakukan maka mendaftarlah para Relawan. Untuk KMW 6 P2KP 2/1 Sulawesi Tengah terdaftar Relawan sejumlah 1113 orang pada 32 kelurahan/desa yang tersebar di 2 kecamatan di Kota Palu dan 2 kecamatan di Kabupaten Banggai. Rasa bangga dan harapan akan lancarnya kegiatan tergambar pada Fasilitator. Motivasi menjadi Relawan yang sempat terekam dalam monitoring secara umum adalah positif yaitu karena keterpanggilan dan keinginan untuk berbuat sesuatu kepada warga masyarakat yang selama ini kurang beruntung atau miskin.

Waktu dan proses kegiatan terus berjalan, berbagai perubahan terjadi. Proses penyelenggaraan kegiatan Refleksi Kemiskinan (RK) mulai dilakukan setelah Relawan warga telah mendapatkan pelatihan dasar Relawan. Pelatihan tersebut dilakukan 33 JPL, yang untuk KMW 6 Sulteng dilakukan rata-rata 5 hari, karena hanya 6 hingga 7 JPL saja tiap hari yang dilakukan yaitu pada sore dan malam hari. Jumlah Relawan yang dilatih 604 orang atau 50% dari Relawan yang terdaftar.

Serangkaian Diskusi Kelompok Terarah dilakukan pada kegiatan RK tersebut dan ternyata beberapa fenomena muncul. Untuk mendapatkan 5 orang Relawan yang proaktif dalam membantu memfasilitasi proses RK ternyata bukan suatu yang mudah. Berbagai pendekatan dan upaya dilakukan oleh Fasilitator untuk memberikan pemahaman yang kemudian diharapkan setelah paham dapat tergerak untuk sama-sama berbuat sesuatu untuk warga. Dari sejumlah 1113 Relawan, sekitar 604 yang dilatih, yang aktif ada 137 orang di 32 kelurahan/desa, tetapi sayangnya dengan sebaran yang tidak merata. Dan ternyata beberapa Relawan yang tidak dapat kesempatan dilatih, justru lebih aktif. Kelurahan yang terletak di pusat kota ternyata jumlah Relawan aktif sangat minim. Mungkinkah kerelawanan di pusat kota telah terkontaminasi dengan budaya materialistis dan individualistis. 

Diskusi–diskusi kelompok kecil dalam kegiatan RK, 716 kali kegiatan FGD diikuti  oleh 8.888 warga di Sulteng telah dilakukan bersama dengan Relawan. Dan dirasakan oleh Fasilitator, betapa tidak mudah membangkitkan kerelawanan  seseorang. Dalam satu kesempatan, Pimpro P2KP, Ir. Arianto, Dipl. SE, MT menyatakan bahwa kerelawanan adalah karir, kerelawanan adalah suatu pencapaian, ada atau tidak adanya kerelawanan pada diri seseorang bertumpu pada mau atau tidak mau dia untuk rela berbuat sesuatu kebaikan dengan tanpa pamrih. Tetapi, juga disadari bahwa kadar kerelawanan tiap orang adalah tidak sama, berbeda-beda. Dengan dasar pemahaman inilah kita selalu masih punya harapan bahwa membangkitkan kerelawanan pada warga bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.

Proses belajar melalui diskusi RK dan dialog yang dibangun oleh Fasilitator nampaknya menjadi penyaring mana yang Relawan sejati dan mana yang motivasi sebagai Relawan tidak murni. Tahapan kegiatan Pemetaan Swadaya (PS) dilakukan, Tim PS dibentuk yang terdiri dari Relawan, Tomas (Tokoh masyarakat), Toga (Tokoh Agama), Toda (Tokoh Adat) dan Aparat Kelurahan. Dalam proses PS, berbagai kajian dengan beberapa alat kaji dilakukan bersama oleh masyarakat dan tim PS. Dan ternyata didapati dengan melalui beberapa kajian yang ada telah membangkitkan jiwa kerelawanan pada beberapa anggota masyarakat yang selama ini belum terlibat secara aktif. 

Realitas yang muncul, setelah kegiatan PS dilakukan adalah populasi Relawan yang aktif meningkat secara signifikan, muncul orang-orang baru diluar yang telah terdaftar. Apakah mungkin selama ini mereka tidak aktif dalam kegiatan dan menunjukkan sifat kerelawanan itu, karena belum faham atau karena belum tahu atau karena belum ada kesempatan? Bisa jadi ketiganya dapat sebagai alasan, tetapi yang jelas kerelawanan adalah keterpanggilan.

Ketika sebuah proses interaksi sosial berjalan sehat, realitas masalah kemasyarakatan didialogkan dengan intensif, kemudian orang yang telah memiliki benih kerelawanan, dapat tersentuh hatinya dan secara bersama berbuat sesuatu. Proses ini dapat diibaratkan mendulang intan, mendulang batu mulia dari lumpur kemasyarakat dan mengangkatnya kemudian menempatkannya dalam tempat yang terpuji. Inilah yang kita perankan bersama dalam P2KP, mendulang intan kerelawanan dalam rangka memberdayakan masyarakat miskin.

(Penulis: Ahmad Sriyanto, Team Leader KMW 6 P2KP 2/1 Sulawesi Tenggara; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.