RKM, Pernikahan Massal P2KP

Comments (0) View (2052)

M

MANUSIA hidup diciptakan untuk berpasangan untuk kemudian hidup menjadi lebih tenang dan menghasilkan keturunan. Hidup berpasangan ini harus dilalui melalui prosedur yang namanya pernikahan. Pernikahan merupakan acara ritual dan sakral serta penuh makna. Penikahan akan dikatakan sah jika memenuhi rukun nikah yang salah satunya adalah mahar dan ikrar untuk memberi nafkah lepada istrinya serta saksi-saksi. 

Memaknai pernikahan, tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis saja, namun lebih dari itu. Dengan pernikahan, hidup akan lebih bermakna, dan setiap aktivitasnya, dari yang maksiat menjadi nilai ibadah yang sangat tinggi. Memaknai memberi nafkah merupakan deklarasi seorang laki-laki kepada wanita untuk membuktikan bahwa sang laki-laki ini adalah manusia sejati yang punya moral dan tanggungjawab untuk menjaga amanah dari sebuah pernikahan. Makna pernikahan kemudian didokumentasikan menjadi surat nikah.

Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), sudah sampai pada tahapan persiapan Rembug Kesiapan Masyarakat (RKM). RKM merupakan akad/deklarasi kesanggupan masyarakat untuk menegakkan keadilan, kejujuran, kesetaraan dan kebersamaan. Ritual RKM adalah janji masyarakat kelurahan/desa, untuk memberi nafkah kepada ‘tanah harinilla’, yang merupakan ladang, bak istri dalam pernikahan, yang kelak, akan diolah untuk mencapai kesejahtaraan bersama. Janji untuk bertanggungjawab dalam mengelola ladang itu, dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen masyarakat. 

RKM yang dianalogkan dengan pernikahan ini, mas kawinnya adalah P2KP. Dengan RKM sebagai akan nikah antara warga masyarakat dengan tanah wilayahnya, maka warga masyarakat punya tanggung jawab untuk memberi nafkah kepadanya dengan mengelolanya sebaik mungkin melalui mas kawin P2KP untuk mencapai kesejahteraan bersama. 

Sebagai bentuk tanggung jawab untuk pertama kalinya, dengan cara melaksanakan siklus P2KP yang merupakan kebutuhan masyarakat untuk menegakkan nilai-nilai yang telah dijanjikan dalam akad RKM tersebut. Lembar deklarasi merupakan kontrak sosial (tanda terima) mas kawin P2KP, kemudian, warga otomatis harus/akan siap menjalankan rukun RKM-nya. Beberpapa perjanjian ini didokumentasikan dalam kain putih dan tinta emas yang nantinya akan menjadi monumen untuk mengingatkan, sekaligus sebagai ‘nasita jira’ apabila terjadi pelanggaran terhap rukun RKM-nya. 

Ini adalah sekilas gambaran tentang pernikahan masal di P2KP. Minimal di Kebumen, ada 62 pasang pengantin kelurahan, yang secara bersama-sama sedang mempersiapkan pelaksanaan pernikahannya (RKM). Semoga catatan ini, semakin memudahkan kita dalam memaknai RKM sebagai titik awal mengarungi maghligai P2KP untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawadah, warohmah atau dengan kata lain ‘hádala’ mewujudkan masyarakat madani.

(Penulis: Puji Karyanto, Subprof Korkot Kebumen, KMW 13 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar