Beranda Warta Artikel Dialog Kemiskinan, ‘In Harmonia Progression’

Dialog Kemiskinan, ‘In Harmonia Progression’

Comments (0) View (2126)

D

DALAM keselarasan bersama, menuju ke arah perubahan yang lebih baik, mungkin kalimat itu tepat untuk membuka suasana atas semangat dan empati insan kepada kemiskinan, tanpa memandang aspek insan kemiskinan sebagai objek ataupun subjek kemiskinan.

Ada semacam panggilan terdalam pada dasar hati manusia, terutama ketika kita memandang aspek kebaikan pada diri lahiriah yang pada dasarnya adalah baik, untuk menghadirkan fenomena empati terhadap ketidakberdayaan kaum miskin.

Lepas dari pengertian kita tentang makna berdaya atau tidak berdaya, kemiskinan merupakan hal yang menjadikan panggilan empati, menjadi suatu kewajiban kewajiban moral, yang dengan indah dan selaras, menjadi tanggung jawab kita bersama.

Jika kita menengok lebih dalam terutama ketika kita melakukan refleksi kemiskinan, kita pasti setuju, bahwa kemiskinan itu: (1) Relatif cenderung membuat manusia menderita; (2) Menjadikan manusia tidak dapat mengembangkan kemanusiaannya secara utuh, yang ini bertentangan dengan martabat manusia; serta (3) Kemiskinan merupakan ungkapan paling kasar dari kondisi ketidakadilan sosial.

Dalam melakukan suatu refleksi tentang keadaan kemiskinan yang sesungguhnya, sepertinya perlu mundur selangkah untuk merefleksikan kenyataan yang sesungguhnya, tentang keberadaan orang-orang kecil sebagai poros partisipatif yang bermain dan berperan di dalamnya.

Interaksi partisipatif ini menghasilkan suatu dialog tentang kemiskinan, yang mencakup pengalaman, pemahaman tentang kemiskinan yang tulus dan ikhlas, akan adanya kenyataan ketidakadilan yang terpola dan terstruktur.

Dasar beracuannya adalah: (1) Orang kecil, tidaklah kalah rasional dalam menimbang, merumuskan serta memutuskan perkara yang menyangkut hidup mereka; (2) Orang kecil adalah aktor dari sejarahnya sendiri, ketika mereka mengembangkan teknik dan metodanya sendiri, dalam memahami peristiwa-peristiwa, benda-benda serta alam di sekitar mereka; (3) Orang kecil, mampu menolak tawaran perubahan atau inovasi dalam bentuk apapun yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan riil yang mereka perlukan; (4) Orang kecil memiliki penalaran dan mekanisme mempertahankan diri yang telah teruji; (5) Orang kecil, sekali lagi adalah poros partisipatif, bukan objek.

Refleksi yang kita lakukan pada dasarnya adalah suatu analisis interaksi partisipatif, yang menghasilkan pengetahuan tentang kemiskinan, makna nyata dari kemiskinan, serta faktor penyebab kemiskinan tersebut, dengan pencurahan diri melihat dan memahami akar permasalahan yang ada.

Interaksi partisipatif ini menghasilkan suatu dialog tentang kemiskinan, yang mencakup pengalaman, pemahaman tentang kemiskinan yang tulus dan ikhlas, akan adanya kenyataan ketidakadilan yang terpola dan terstruktur.

Hal ini juga menuntut kita bukan semata-mata ‘bekerja’ bagi mereka, melainkan terjun lebih dalam, menyalurkan empati kita yang ada, untuk bekerja bersama mereka, lebih banyak belajar dari mereka tentang apa yang mereka butuhkan dan dambakan, sejauh mereka mampu mengungkapkan dengan kesederhanaan pola mereka.

Yang kemudian, ditindaklanjuti dengan berjuang melalui semangat keselarasan dan kebersamaan, menuju ke arah perubahan yang lebih baik. Dan ini bukan sebagai visi/misi semata, melainkan harapan akan adanya perubahan terhadap struktur, situasi yang melestarikan, serta membudayakan kekurangan dan ketidakberdayaan mereka.

(Penulis: Ariesandy Sanora, Fasilitator Kelurahan Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas KMW 3 P2KP 2/1 Kalimantan Tengah; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.