Beranda Warta Artikel Civil Society, Konsepsi Ideal Nangkis P2KP

Civil Society, Konsepsi Ideal Nangkis P2KP

Comments (0) View (2422)

S

SEJARAH mencatat, pola-pola pembangunan sentralistik secara sistematis, mampu mematikan inisiatif dan institusi masyarakat (lokal) yang ada. Hal ini ditandai dengan diberlakukannya penyeragaman bentuk institusi dari atas ke bawah dan dari pusat ke daerah.

Banyak institusi bermunculan dan berbeda dengan yang diberlakukan, meski memiliki basis yang kuat di tingkat masyarakat. Akar rumput, tidak mendapat pengakuan secara legal formal. Demikian pula halnya dengan segala bentuk aliansi atau jaringan (‘network’) kerja sama antar institusi masyarakat akar rumput tersebut.

Dominasi terpusat dari pihak luar atas segala aspek kehidupan masyarakat, sedemikian kuat. Hal ini memperlemah kedudukan masyarakat sebagai wadah partisipasinya dalam pelaksanaan suatu proyek pembangunan, yang pada kenyataannya, lebih mengutamakan kepentingan pemilik atau pelaksana proyek, tanpa memiliki tanggung jawab moral yang kuat terhadap kepentingan masyarakat miskin itu sendiri.

Singkatnya, institusi bentukan tersebut, baru sebatas organ proyek dan belum mewujudkan institusi yang benar-benar menjadi tumpuan aspirasi, inisiatif maupun kontrol masyarakat terhadap penanganan kemiskinan dan pembangunan di wilayahnya.

Masyarakat, akhirnya benar-benar menjadi objek dan bukan lagi pelaku utama serta pemilik kedaulatan, melainkan hanya dijadikan pengikut dari golongan-golongan atau elit-elit yang bertingkah laku sebagai pemilik kedaulatan. Perpecahan masyarakat dalam golongan menjadi makin tajam, seiring dengan makin memudarnya perekat kehidupan masyarakat dalam bentuk tatanan nilai-nilai kemanusiaan maupun nilai-nilai kemasyarakatan.

Modal pembangunan, secara sentralistis dan sistematis, berakibat pada mematikan inisiatif, memperlemah solidaritas dan menumbuhkan ketidakberdayaan warga untuk membangun masyarakat di tingkat akar rumput. Oleh karena itu, model penanggulangan kemiskinan yang sentralistis harus diganti dengan model yang menjadikan masyarakat sebagai subjek dan pemilik kedaulatan, sehingga penanggulangan kemiskinan dapat lebih terjamin keberlanjutannya.

Membangun masyarakat warga (civil society) di tingkat lokal (desa/kelurahan), merupakan upaya yang strategis untuk menumbuhkan inisiatif, solidaritas dan keberdayaan dalam membangun masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran masyarakat warga (‘civil society’), menjadi sangat penting sebagai suatu tatanan baru hidup bermasyarakat, dimana, warga masyarakat berhimpun atas prakarsa sendiri, bekerjasama dan secara damai berupaya memenuhi kebutuhan atau kepentingan bersama, memecahkan persoalan bersama dan atau menyatakan kepedulian, dengan tetap menghargai hak orang lain untuk berbuat yang sama dan tetap mempertahankan otonomi terhadap institusi pemerintah, politik militer, agama, usaha/pekerjaan dan keluarga.

Tatanan hidup bermasyarakat tersebut, mestilah tumbuh dan berkembang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Bahwa penanggulangan kemiskinan, dipandang sebagai proses yang berkelanjutan serta memerlukan peran aktif dari seluruh komponen masyarakat.

Upaya penanggulangan kemiskinan sendiri harus menjunjung tinggi prinsip demokrasi, partisipasi, transparansi dan akuntabilitas, desentralisasi, serta menjunjung pula nilai-nilai luhur kemanusiaan, yaitu dapat dipercaya atau amanah, ikhlas atau kerelawanan, kejujuran, keadilan, kesejahteraan dan kebersamaan dalam keberagaman.

Jadi, yang dimaksud dengan masyarakat warga, dalam hal ini adalah terjemahan umum dari ‘civil society’ yang secara konsepsional dapat diuraikan bahwa ‘civil society’ adalah himpunan masyarakat warga yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh warga, yang secara damai berupaya memenuhi kebutuhan atau kepentingan bersama, memecahkan persoalan bersama dan atau menyatakan kepedulian bersama dengan tetap menghargai hak orang lain untuk berbuat yang sama dan tetap mempertahankan kemerdekaannya (otonomi) terhadap institusi negara, keluarga, agama serta pasar. (Saad Eddin Ibrahim: Nurturing Civil Society at the World Bank, December 1996)

Dalam himpunan masyarakat warga, kedudukan mereka setara yaitu sesama warga. Oleh sebab itu, masyarakat warga secara keseluruhan maupun dalam arti himpunan atau paguyuban warga setempat, selalu memiliki kemerdekaan sendiri (‘independent’).

Untuk mengemukakan konsepsi himpunan warga tersebut dan agar mencapai tujuan yang diharapkan dengan tetap mempertahankan keberadaannya sebagai himpunan masyarakat warga yang otonomi, maka diperlukan pemimpin.

Selain itu, agar kepemimpinan tidak terpeleset menjadi kepemimpinan yang otoriter yang juga mampu menjadi suri tauladan tentang mengemudikan kinerja kelompok (‘team work’), maka dipilih pula kepemimpinan kolektif, yang kriterianya ditentukan oleh masyarakat sendiri, melalui rembug masyarakat warga, dan secara generik disebut (BKM). Ini untuk menghindari hilangnya kemudi dalam himpunan warga BKM, karena BKM adalah jembatan masyarakat untuk membangun solidaritas dan kesatuan sosial, berlandaskan nilai luhur kemanusiaan dan kemasyarakatan, menuju kemajuan bersama.

(Penulis: Muh. Rafi As’ad, Senior Fasilitator Tappalang Barat, Mamuju, KMW 7 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.