Beranda Warta Artikel 3M: Membangun Masyarakat Mandiri

3M: Membangun Masyarakat Mandiri

Comments (0) View (2715)

D

DI KECAMATAN GANTARANG, Bulukumba, masyarakat 2 desa, Bontoraja dan Padang, berhasil membangun seruas jalan dengan panjang kurang lebih 2 kilometer dan lebar 3 meter secara gotong royong. Jalan itu melintasi kebun dan sawah beberapa warga. Warga merelakan tanaman-tanaman di kebunnya di babat, tanah kebun diurug dan sawahnya ditimbun, meskipun harus menunggu beberapa minggu hingga padi yang telah bernas dapat dipanen, untuk pembuatan jalan tersebut.

Mengurug tanah kebun dan menimbun sawah, tentu bukan pekerjaan berat saat ini, ketika alat-alat berat seperti buldozer dan escavator sudah tersedia. Tetapi, tak terbayangkan beratnya jika pekerjaan pengurugan dan penimbunan dilakukan dengan alat sederhana seperti pacul, skop, ‘pacende’, dan gerobak dorong ‘wheel barer’. Namun, itulah yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Bontoraja dan Desa Padang. Tanaman dibabat, tanah kebun diurug dan diratakan, bongkahan batuan diangkat, sawah ditimbun, yang kesemuanya, dilakukan dengan alat sederhana. Warga 2 desa ini bekerja bersama secara gotong royong. Diperlukan waktu sekitar 3 minggu untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Menghibahkan tanah milik sendiri sebagai aset yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi, bahkan nilai sosial, secara sukarela untuk kepentingan pembangunan, telah menjadi barang langka pada zaman modern sekarang ini. Jangankan penyerahan tanah secara sukarela, pemberian ganti rugi pun sering menyisakan persoalan ketidakcocokan harga. Pemilik tanah tidak bersedia melepaskan tanahnya karena menganggap masih dihargai murah. Kita pun tidak lagi asing dengan berita tentang konflik pembebasan lahan yang terjadi di banyak proyek pembangunan, dan kerap menghiasi halaman-halaman media cetak maupun layar TV.

Entah bagaimana, Faskel bisa mempertemukan masyarakat kedua desa tersebut untuk bekerja bersama. Sebab, kajian lingkungan dalam Pemetaan Swadaya (PS) yang dilakukan di tingkat dusun di 2 desa tersebut, tidak dilakukan bersamaan. Masyarakat kedua desa itu, tidak bertemu dalam suatu Focus Group Discussion (FGD) ketika kajian lingkungan dilakukan. Yang pasti, di ujung jalan yang telah dibangun itu, terbentang sawah luas serta kebun yang dimiliki oleh penduduk kedua desa. Rupanya, kajian lingkungan telah menyadarkan mereka tentang perlunya membangun sebuah jalan untuk memudahkan akses ke sawah dan kebun, dan bahwa mereka bisa melakukannya.

Partisipasi, kini menjadi jargon pada banyak program pembangunan. Rasanya, sebuah program pembangunan, terutama yang dilakukan di tingkat desa dan kelurahan, tidak sahih jika tidak disertai dengan embel-embel kata ‘partisipasi’. Kalaupun programnya tidak memiliki kata partisipasi, maka pelaku program pasti mengklaim bahwa mereka menggunakan pendekatan partisipatif dan perencanaan program dari bawah ke atas, ‘bottom up approach’. Maka, telinga kitapun tidak lagi asing dengan istilah-istilah ‘participatory rural appraisal’, ‘participatory action research’, ‘partcipatory planning’, ‘participatory monitoring and evaluation’, dan ‘participatory technology development’.

Betulkah masyarakat berpartisipasi? Banyak program pembangunan yang berlabel partisipasi yang sesungguhnya tidak lebih dari suatu mobilisasi. Program dianggap berhasil mendorong partisipasi jika mampu mengerahkan keterlibatan masyarakat dalam jumlah besar (massal). Jika partisipasi diartikan sebagai ‘keterlibatan’ dan ‘mengambil peran’, maka mobilisasi bisa saja diartikan sebagai partisipasi. Namun, inilah kelas paling bawah dari suatu partisipasi. Dalam klasifikasi Deshler dan Sock (1985), partisipasi seperti ini dikategorikan sebagai pseudo participation (partisipasi semu), yaitu partisipasi yang melibatkan masyarakat sebagai objek untuk kepentingan orang luar atau kelompok dominan (elite masyarakat). Dua bentuk partisipasi lainnya menurut Deshler dan Sock (1985) adalah ‘technical participation’ (partisipasi teknis) dan ‘genuine participation’ (partisipasi asli).

Yang digolongkan ke dalam partisipasi teknis adalah partisipasi dimana masyarakat terlibat dalam penemu-kenalan masalah, pengumpulan dan analisis data, serta pelaksanaan kegiatatan. Pengembangan partisipasi di sini merupakan sebuah teknik atau taktik untuk melibatkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan praktis. Teknik PRA, participatory mapping, transect, FGD, diagram venn, dan semacamnya, seperti yang dipakai pada siklus Pemetaan Swadaya (PS) adalah contoh-contoh teknik yang dikembangkan untuk tujuan tersebut.

Partisipasi asli adalah partisipasi yang melibatkan masyarakat di dalam proses perubahan dengan melakukan refleksi kritis dan aksi secara bersama. Pengembangan partisipasi di sini merupakan pengembangan kekuasaan dan kontrol lebih besar terhadap suatu situasi melalui peningkatan kemampaun masyarakat dalam melakukan pilihan kegiatan dan kemampuan berotonomi.

Seluruh tool dan teknik yang dipakai untuk melakukan 16 macam kajian pada siklus PS, sesungguhnya dimaksudkan tidak hanya sebagai cara pelibatan masyarakat secara luas  untuk menangkap persoalan-persoalan disekitarnya, menemukenali potensinya, mengidentifikasi kebutuhannya, mengklasifikasi prioritasnya dan merencanakan kegiatannya, tetapi lebih dari itu dimaksudkan untuk membangun kesadaran dan menggali nilai-nilai. Jika kajian-kajian pada PS hanya dilakukan secara mekanistis mengikuti SOP (Standar Operasional Prosedur) keproyekan dan mengejar indikator kuantitatif penyelesaian kegiatan, maka kita hanya berhasil mencapai kelas kedua dari partisipasi, technical participation sesuai pengklasan di atas, meskipun dari kegiatan itu diperoleh data dan informasi tentang masalah, potensi, kebutuhan, dan keinginan dari masyarakat, dan meskipun masyarakat yang terlibat cukup  banyak, karena PS memang kita lakukan pada level grassroot, unit terkecil suatu wilayah dan komunitas (RT).

Kita menginginkan partisipasi masyarakat pada seluruh siklus kegiatan P2KP, termasuk pada siklus PS sebagai ‘genuine participatition’. Pada siklus PS, seyogyanya terjadi proses pembelajaran, penyadaran kritis dan penggalian nilai-nilai. Penyadaran akan adanya persoalan bersama, kebutuhan bersama, dan tujuan bersama. Dari sini diharapkan akan tergali dan muncul nilai-nilai kebersamaan, kesepenaggungan, toleransi, respek, memberi, memperhatikan sesama dan nilai-nilai universal bermasyarakat lainnya.

Keikhlasan menghibahkan lahan dan meluangkan waktu dan tenaga untuk bekerja secara gotong royong, seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat Bontoraja dan Padang merupakan contoh dari nilai-nilai yang tergali dari PS. Disebut tergali sebab nilai-nilai seperti itu sesungguhnya ada atau pernah ada dan merupakan fitrah manusia. Sifat dan nilai ‘memberi’ dan ‘membagi’ merupakan fitrah. Demikian juga dengan jiwa gotong royong, pernah ada di masyarkat kita. Nilai-nilai itu  tergali karena adanya penyadaran kritis atas kebutuhan dan tujuan bersama.

Karena itu, partisipasi yang dilakukan dengan benar (‘genuine participation’), tidak hanya menyebabkan masyarakat terlibat, tetapi juga sadar, belajar, berubah, dan berdaya. Selanjutnya, masyarakat memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan kegiatan dalam berbagai aspek kehidupan (politik, ekonomi, ???), dan kemampuan melakukannya sendiri, atau melakukannya di bawah otoritasnya (otonomi). Jadi, semua proses pendampingan yang kita lakukan, sesungguhnya adalah proses Membangun Masyarakat Mandiri. Begitu kan?

(Penulis: Rusnadi Padjung, Team Leader KMW 8 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.