Beranda Warta Artikel Kerelawanan versus Penindasan

Kerelawanan versus Penindasan

Comments (0) View (2302)

P

PENINDASAN-penindasan terhadap rakyat, sudah ada sejak zaman penjajahan. Di negeri kita, pada saat negara dikuasai Belanda, penindasan dan intimidasi, bukan hal yang asing lagi. Selama kurun waktu itu, rakyat ditindas, diintimidasi bahkan disiksa akibat nuansa kepentingan yang berbeda antara rakyat dengan pemerintahan Belanda.

Pada saat itu, Belanda dengan segala peralatan perangnya, menjadi sangat kuasa dan kuat, dan di sisi lain, rakyat Indonesia sangat lemah dan bodoh, sehingga penindasan itupun terjadi akibat salah satu dari interaksi dua pihak, berada pada posisi yang berseberangan. Seandainya kedua pihak itu sama, dapat dipastikan yang terjadi bukan penindasan tetapi saling menindas, tergantung pihak mana yang lebih kuat dan menang.

Dari ilustrasi di atas, seandainya kedua pihak bertujuan sama dan saling menghormati, maka, semua itu tidak akan terjadi alias damai. Atau, andai kedua belah pihak mempunyai kekuatan yang seimbang, maka penindasan tidak ada lagi, walau yang terjadi adalah saling menindas. Hikmahnya bagi bangsa kita adalah bahwa kesemuanya merupakan proses belajar dan pengalaman, agar ke depan, negara ini menjadi lebih kuat.

Tetapi, yang terjadi di negeri ini, penindasan sangat sulit dilepas, sejalan dengan arah kedewasaan bangsa kita yang tengah berupaya dan mencoba mengatasi segala permasalahannya, karena di satu sisi jelas, penindasan adalah bagian dari cara-cara untuk mendewasakan kita.

Ini berbeda dengan zaman penjajahan dulu dimana penindasan banyak dilakukan dalam bentuk fisik, pada zaman sekarang justru penindasan terhadap masyarakat, nampaknya lebih kejam karena dilakukan pada setiap lini sektor Ipoleksosbud Hankam. Masyarakat berada pada posisi yang berbeda statusnya yang ini menyebabkan penindasan zaman sekarang, lebih pada penindasan yang tidak berpegang pada kemanusiaan dan melahirkan kemiskinan.

Bila kita melihat pada sejarah peradaban manusia dan mau menjadikannya sebagai guru, tampaklah bahwa penguasaan yang berujung pada penindasan itu, disebabkan oleh kekuatan satu lapisan masyarakat terhadap lapisan masyarakat yang lain yang lebih lemah.

Dengan begitu, kita bisa membacanya sebagai guru bahwa malapetaka sosialpun, terjadi bila ada satu lapisan masyarakat tertentu, kalah, dan tertindas oleh lapisan masyarakat lain yang lebih perkasa secara finansial, sosial, budaya, politik dan kedudukan.

Pertanyaannya adalah, kapankah masyarakat dapat ‘berdaya’, apakah situasi ini tidak akan menyebabkan sebuah situasi sebagaimana zaman penjajahan dulu.

Penindasan, apapun namanya dan apapun alasannya, adalah tidak menjunjung tinggi norma dan nilai-nilai hakiki kemanusiaan. Ia adalah sesuatu yang menafikan harkat kemanusiaan, yang kemudian menyebabkan kemiskinan di negeri ini. Maka dari itu, tidak ada pilihan lain, selain ‘memberdayakan manusia’, yang diistilahkan dalam bahasa Jawa: ‘becik ketitik kolo ketoro’, artinya, segala perbuatan baik dan buruk pasti tampak. Ini semua merupakan pilihan untuk sesuatu yang mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan.

Fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku/subyek dalam menggapai tujuan, bukan penentu/obyek. Manusia sejati adalah yang mengedepankan ‘panggilan hati’, yang secara sadar bertindak sebagai pelaku dalam suatu realitas. Mampukah kita? Atau, kita biarkan saja penindasan yang ada, berlalu-lalang di hadapan kita tanpa ada kepedulian sedikitpun.

Sebagai contoh, mengapa bencana tsunami di Aceh, banyak menghasilkan Relawan? Dan mengapa kasus Ambalat menggugah masyarakat untuk mendaftar sebagai Relawan? Berkaitan dengan itu, sikap kerelawanan sebagai bentuk kepeduliaan, kadang jarang diperhatikan, padahal, yang paling menentukan keberlanjutan adalah penggalian dan pematangan solidaritas sosial sebagai tempat bermuaranya segala nilai-nilai sosial.  

Kondisi inilah yang harus disikapi dan jalani terlebih dahulu sebagai proses pemberdayaan masyarakat di tingkat basis, seperti, upacara adat di lokasi-lokasi ‘bersih desa’, tradisi tasyakuran sosial maupun pengajian setiap bulan Muharram, atau pengelolaan situs sejarah. Indikator adanya nilai ini, tidak hanya kita lihat pada proses saja, melainkan juga harus dilihat outputnya.

Proses yang demokratis tidak akan membawa makna apa-apa bila tidak menghasilkan output yang mampu merepresentasikan cita-cita masyarakat dalam rangka pengentasan kemiskinan. Dengan kata lain, proses demokratis di masyarakat, tidak boleh berhenti, sebab dalam tataran praksis, nilai-nilai yang ada tersebut, benar-benar akan dibuktikan implementasinya. Oleh karena itu, ‘kerelawanan’ yang diharapkan muncul, harus pula terinternalisasi dalam perilaku sosial yang men’tradisi’ di masyarakat. 

P2KP sebagai salah satu program yang menempatkan manusia  menjadi manusia sejati, hakekatnya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, memberikan penyadaran bagi seluruh masyarakat untuk menjadikan pemahaman, bahwa penindasan sosial yang ada, menjadi motivasi adanya ‘kerelawanan’ yang tumbuh secara sadar dalam pengentasan kemiskinan.

Keberadaan Relawan masyarakat adalah terciptanya sebuah proses transformasi P2KP kepada warga. Transformasi yang dimaksud adalah transformasi nilai-nilai yang disampaikan dalam program ini, tentang pemahaman proses pelaksanaannya, melalui mekanisme demokrasi, partisipasi, transparansi, akuntabilitas dan desentralisasi sebagai prinsip-prinsip yang mendasarinya); serta transformasi budaya, yakni Relawan mampu mengeksternalisasikan nilai-nilai P2KP ke dalam kebiasaan dan tradisi masyarakat.

Konsiderasi-konsiderasi tersebut, dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memilih, menetapkan maupun merekomendasikan Relawan-relawan sebagai seorang agen perubahan untuk melawan penindasan yang menyebabkan kemiskinan. (Amirul Hadi, M. Azis, Lulut H, Nurul, Tim Faskel Ngunut 2, KMW 15 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.