Beranda Warta Artikel Potret Lingkungan, Renungan dan Refleksi

Potret Lingkungan, Renungan dan Refleksi

Comments (0) View (21951)

K

KETIKA lensa kepekaan menemukan titik fokusnya, pancarannya membawa kesadaran akan banyaknya kenyataan yang terjadi pada kehidupan kita. Hal terkecil yang luput dari pengamatan kita adalah bagian-bagian rutinitas yang kita lakukan, yang justru kadang-kadang menjebak kita menjadi robot-robot pelaku dalam lingkaran siklus yang tak berempati. Memilih dan menjenguk lebih dalam akan kondisi dan perilaku yang terpatri dalam di masyarakat, dapatlah dengan bijak kita temukan hal-hal yang membawa kita pada nuansa semangat kebersamaan yang telah luntur.

Sejujurnya, permasalahan yang kami derita adalah sama dengan permasalahan yang kamu rasakan. Berikut, kondisi dan keadaan permasalahan kami, ternyata sama dengan kondisi permasalahan kalian, serta hubungan permasalahan yang ada, ternyata terkait dengan hubungan permasalahan yang lalu, yang sama-sama kita rasakan dulu, dan yang akan datang.

Pertanyaannya adalah mengapa tidak sama-sama kita tangani dan tanggulangi hal-hal tersebut. Ketidakadilan yang kita rasakan, membawa kita pada ‘etika kemiskinan’ yang dalam, alias yang miskin akan semakin miskin, yang kaya semakin kaya.

Kemudian, bibit-bibit empati bisa tersalurkan melalui kran-kran kepedulian yang kita galang dari perasaan yang sama akan kesadaran terhadap kondisi masalah yang sama. Kepedulian dan keberpihakan, tidak sekali-kali membawa kita untuk menjadi dan seperti yang ada pada titik fokus kepekaan kita.

Potret lingkungan yang kita laksanakan, membawa wahana baru bagi kita, dimana kita bisa memetakan segala peluang dan kekuatan kita untuk menembus tembok permasalahan yang menjadi hambatan dan kelemahan kita. Proses pemotretan antara sisi yang satu dengan yang lain, menghasilkan cetakan kenyataan yang menggugah kepedulian kita melalui perenungan analisa dan kajian yang terkait, membentuk rantai potret atau gambaran hidup ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Rantai-rantai potret yang terpetakan ini, dapat menjadi inspirasi perubahan dalam jiwa kepedulian yang dibangun dengan swadaya masyarakat.

Fatalnya, jika pondasi inspirasi ini berubah menjadi bumerang, ketika masyarakat merasakan adanya harapan yang mereka gantungkan, sayang tak bersambut. Riak-riak apatis terhadap empati dan kepedulian robot-robot pelaku ini, bisa menjadi tsunami-tsunami yang membawa mereka pada kenyataan sebagai robot-robot yang tak berempati kembali. Rasa kepedulian yang tergugah semua, membuat senyum sinis di bibir mereka. Perubahan yang datang dari luar, hanyalah gemuruh guntur di musim kemarau atas rutinitas mereka.

Untuk itu, apa dan bagaimana tanggung jawab kita sebagai pelaku-pelaku berbendera nilai-nilai luhur? Dari mana harus kita mulai dan dengan siapa? Takaran dan neraca berimbang, atas bawah atau bawah atas, apakah sama? Siapa yang dituntut berubah? Inilah potret lingkungan.

(Penulis: Ariesandy Sanora, Faskel Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, KMW 3 P2KP 2/1 Kalimantan Tengah; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.