Beranda Warta Artikel Faskel P2KP = Jarkoni?

Faskel P2KP = Jarkoni?

Comments (0) View (2532)

B

BERBEDA dengan program-program pemberdayaan masyarakat lainnya, persoalan yang ingin disentuh oleh P2KP adalah soal-soal yang menyangkut moralitas, yakni dapat dipercaya (‘trust’), kejujuran, keadilan, keikhlasan, kesetaraan, kebersamaan serta prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat yang ideal, yaitu demokratisasi, partisipasi, transparansi, akuntabilitas dan desentralisasi.

P2KP beranggapan bahwa masih adanya kemiskinan di tengah masyarakat kita saat ini, bukan semata-mata karena rendahnya kualitas penduduk miskin, ketiadaan modal, atau kebodohan, sebagaimana banyak dituduhkan selama ini, tetapi, terutama disebabkan sikap dan perilaku masyarakat yang cenderung mengabaikan moralitas, interaksi sosial, dan prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat yang ideal. Artinya, jika masyarakat mau mengedepankan moralitas dan prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat yang baik, sebenarnya, kemiskinan akan segera berkurang dan tidak perlu ada.

Dalam konteks P2KP, untuk mendesiminasikan konsep program dan langkah-langkah teknisnya di wilayah sasaran, pada tiap 10 kelurahan, didampingi oleh 1 tim Fasilitator yang terdiri dari 4 Fasilitator, yang 1 diantaranya adalah Koordinator. Seluruh Fasilitator ini, bertanggung jawab kepada konsultan wilayah atau KMW. Artinya, Fasilitator kelurahan di masyarakat, merefleksikan citra P2KP, citra KMW dan citra masing-masing perusahaan yang ada di belakang KMW. Dalam bahasa proyek, mereka adalah ujung tombak.

Dalam struktur organisasi KMW, ibarat sebuah rangkaian gerbong kereta api yang secara konseptual, Team Leader merupakan masinis, Tenaga Ahli adalah mekanik, Korkot adalah para kondektur, sedangkan Faskel adalah para awak kabin yang langsung berhubungan dengan penumpang. Sementara itu, para penumpangnya adalah Pemda, kelompok peduli dan masyarakat sekitar. Dalam implementasi di lapangan, peran masinis, mekanik, kondektur dan awak kabin, sedapat mungkin dijalankan oleh unsur Pemerintah Daerah, kelompok peduli dan masyarakat sekitar.

Lantas, bagaimanakah performance awak kabin yang ideal. Seorang Faskel, selain dituntut handal dalam pemberdayaan, ia juga harus mampu mengawal moralitas. Saya sering mengibaratkan mereka sebagai para sales promotion girl/boy parfum. Parfum akan laku, jika performance mereka sesuai dengan produk yang hendak dijual. Seorang penjual minyak wangi, selain dituntut paham tentang marketing, juga dituntut tampil bersih dan wangi pula.

Wacana ini penting sebagai bahan refleksi, terkait dengan adanya beberapa sinyalemen. Faskel yang berada di garis depan P2KP, sepatutnya bersikap rendah hati dalam hal ini. Ada sinyalemen yang perlu menjadi renungan khususnya bagi Faskel bahwa selama ini, sebagian dari Faskel tak ubahnya semacam ‘si Jarkoni’. Jarkoni adalah akronim dalam budaya masyarakat marjinal di Jawa, singkatan dari ‘iso ngujari nanging ora iso nglakoni’, yang bermakna, tidak adanya kesesuaian antara omongan dengan sikap dan perilaku alias munafik.

Jawaban atas sinyalemen ini, ada di dalam hati para Faskel. Apakah sikap dan perilaku para Faskel, telah menempatkan diri mereka sebagai orang-orang yang dapat dipercaya (trust), jujur, adil, ikhlas, tidak membeda-bedakan latar belakang, dan melaksanakan segala tugas dan tanggung jawab, atas dasar kebersamaan?

Kemudian, apakah prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat yang ideal, yaitu demokrasi, partisipasi, transparansi, akuntabilitas dan desentralisasi, telah menjadi sikap hidup para Faskel? Apakah para Faskel, juga sudah menciptakan ruang di dalam nantinya untuk proses pembelajaran dan penyadaran kritis diri? Apakah justru dengan menjadi Faskel, kita justru telah membuat diri kita menjadi sombong? Sekali lagi, jawaban atas sinyalemen ini, ada di dalam hati. Sinyalemen di atas, kiranya juga berlaku bagi semua jajaran organisasi P2KP.

(Penulis: Edhie Djatmiko, Korkot Kabupaten Wonogiri, KMW 14 P2KP 2/2; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.