Beranda Warta Artikel Fenomena Kemiskinan

Fenomena Kemiskinan

Comments (0) View (3167)

D

DEWASA ini, barangkali, konsep pembangunanlah yang paling banyak dibicarakan orang. Pembangunan dijadikan dasar berbagai kebijakan dan alasan bagi setiap tindakan pelaku. Hal ini karena adanya motivasi untuk mengejar masa depan yang lebih baik, menurut kondisi dan cara masing-masing, hingga melahirkan berbagai konsep pembangunan, antara lain: reconstruction, modernization, westernization, social change, liberation, inovation serta national building, yang implementasinya mengarah pada sebuah konsep keterbelakangan (kemiskinan).

Salah satu contoh konsep adalah modernisasi, dimana konsep ini mengedepankan tentang kemiskinan yang dilihat dari sebuah keadaan yang asli, keadaan ekonomi yang sudah ada. Dalam hal ini, untuk mencapai kemajuan, perlu dibentuk masyarakat yang modern kapital. Konsep ini juga cenderung mengesampingkan potensi dan perkembangan awal yang sedang berproses dalam masyarakat.

Adapula pandangan yang mengatakan, keterbelakngan (kemiskinan) dilihat dari kapasitas masyarakat yang tidak mampu mengumpulkan modal, dimana, ketergantungan ekonomi dapat pula menghasilkan kemiskinan. Kemiskinan dapat berasal dari karakteristik orang-orang miskin itu sendiri, artinya, ada semacam budaya kemiskinan.

Dalam hal ini, untuk kalangan liberal mengatakan, manusia adalah makhluk yang baik, namun dipengaruhi oleh lingkungan, maksudnya, ketika kondisi sosial ekonomi diperbaiki dengan menghilangkan perbedaan dan memberi peluang yang sama, maka budaya-budaya kemiskinan akan ditinggalkan. Tetapi, ada pula yang memandang bahwa orang menjadi miskin karena dieksploitasi oleh kelompok dominan elit penguasa. Dari berbagai pemikiran di atas menunjukkan, fenomena-fenomena kemiskinan belum disentuh secara persepstif konfrehensif dan terkesan belum dilaksanakan secara terpadu.

Dalam mencermati persoalan ini, intervensi pendidikan dan proses pembelajaran, sangat penting dalam menjelajahi ‘benang merah’, yaitu usaha bersikap transparan dan akuntabel, dengan mendekatkan diri pada orientasi kemajuan. Sedangkan dari tinjauan psikologis, kemajuan tidak dapat dicapai apabila pelaku pembangunan dalam kondisi internal yang laizes fair, sehingga perlu pembelajaran kritis masyarakat agar cerdas, cakap, dan bermoral, selaku subyek pembangunan.

Tetapi kenyataan sekarang, secara operasional, pemberdayaan/pembelajaran dalam rangka pembangunan sumber daya, lebih dititikberatkan pada aspek intelektual. Sedangkan aspek sikap dan moral, sering terabaikan yang mengakibatkan kelonggaran, pergeseran nilai-nilai normatif kemasyarakatan, yang ditandai dengan besarnya sifat individualistik manusia yaitu: ketidakadilan, ketidakjujuran, dsb.

Inikah hasil dari proses pendidikan kita selama ini? Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain, bahwa dalam upaya tersebut perlu mengedepankan kualitas sumber daya yang lebih terfokus pada esensi pendidikan yang sebenarnya, yaitu, menumbuhkembangkan kembali nilai-nilai universal kemanusiaan, sambil merekonstruksi kembali konsep-konsep pembangunan yang ada, ke arah konsep yang berbasis nilai dan pro-poor secara dimensional, holistik dan integratif.

Perencanaan pembangunan, haruslah menghayati benar apa yang menjadi hakekat kemiskinan melalui profil kemiskinan. Ini tidak terbatas pada pengadaan dan alokasi aset, pelayanan sosial, self respect, peningkatan pendapatan, melakukan mobilisasi sosial serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan, tetapi labih berorientasi pada pluritas dan keberadaan manusia itu sendiri, dalam rangka menumbuhkembangkan nilai-nilai universal manusia.

Salah satu strategi yang dikembangkan adalah membangun masyarakat melalui pembelajaran secara kontinyu, dengan tujuan menemukan kembali otoritas sosial, learning to do and lerning to be, yang mencakup berfikir rasional, belajar bagaimana cara belajar (self directed learning), bekerja, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masyarakat, dan lebih jauh dari itu, belajar menguasai proses penemuan diri (self discovery), kesadaran dan pemahaman atas potensi dan kemampuan diri dengan segala kekurangan dan keterbatasan.

(Penulis: Nixon J. Gerung, S. Pd, Senior Faskel Tim 14, Kota Tomohon, KMW 5 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.