Beranda Warta Artikel Membangun Banua dengan Kepedulian

Membangun Banua dengan Kepedulian

Comments (0) View (1551)

K

KEHIDUPAN masyarakat Indonesia, senantiasa dimanja dengan alam, sebagaimana tertuang dalam sebuah lagu lama: “Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”

Hal tersebut tidaklah mengherankan, mengingat bumi kita yang memang kaya dan indah, sebetulnya, sehingga, apa yang kita kerjakan hari ini, hari itu juga kita akan mendapatkan hasil. Namun, apa yang terjadi sekarang? Tanah surga itu tidak lagi seindah lagu di atas, dimana kemiskinan, telah menjadi masalah krusial dalam masyarakat kita.

Kemiskinan yang selama ini melilit masyarakat kita, sangat dirasakan sekali dampaknya, terlebih sejak adanya krisis ekonomi. Dalam hal tersebut, Pemerintah berupaya menanggulanginya dengan berbagai cara, baik dalam bentuk proyek maupun program, misalnya JPS, PDMKE, ketrampilan maupun pelatihan melalui instansi atau dinas dari kegiatan yang dilakukan kelompok, yang semuanya bertujuan agar kita mampu keluar dari kemiskinan. Namun, apa yang terjadi? Banyak program yang salah sasaran dan masyarakat miskin tidak pernah secara maksimal merasakan manfaatnya, bahkan cenderung membuat masyarakat tergantung dengan berbagai bantuan Pemerintah.  

Upaya penanggulangan kemiskinan dan pengorganisasian kehidupan ekonomi melalui pemenuhan kebutuhan dasar seluruh masyarakat, tapi, tidak menyerukan tentang pemusnahan semua ketidakadilan pendapatan dan kekayaan. Untuk menjamin kebutuhan dasar bagi semua lapisan masyarakat, maka kaum miskin berhak atas pendapatan dan kekayaan anggota masyarakat lainnya yang berlebihan (kaya).

Komponen pokok dalam penanggulangan kemiskinan adalah adanya kepedulian dari masyarakat sendiri, terutama yang kaya, sehingga jurang pemisah yang terlalu mencolok dapat dihindari serta munculnya ikatan kebersamaan. Salah satu upaya untuk membangun ikatan tersebut adalah dengan membangun keswadayaan masyarakat melalui akar budaya kegotongroyongan dan kepedulian.

Pemberian sukarela, baik dalam bentuk uang maupun barang, sangat dibutuhkan yang justru dari sinilah, cermin kepedulian dan keswadayaan masyarakat, terutama dalam upaya mendorong kepedulian pada kaum miskin. Dalam kegiatan usaha yang bertujuan utama mengatur praktek bisnis adalah untuk mencegah pengkayaan yang tidak patut dari beberapa orang, atas pengeluaran banyak orang. Di samping itu, juga untuk mengekang ketidakadilan pendapatan dan kekayaan.

Kebijakan Pemerintah Daerah terutama dalam membangun ’banua’ (daerah), diharapkan memainkan peran yang penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan serta upaya untuk mengekang ketidakadilan pendapatan dan kekayaan dalam sistem ekonomi. Kebijakan pajak, harus memiliki nilai keadilan dan berhenti dari mempertambah ketidakadilan pendapatan dan kekayaan.

Penangulangan kemiskinan dan penghilangan penderitaan yang dialami oleh kelompok yang miskin, harus diperhitungkan secara jelas dalam prioritas kegiatan. Untuk membantu mencapai tujuan-tujuan sosial dan ekonomi masyarakat, maka kebijakan pemerintah perlu digunakan untuk mengatur penggunaan sumber dana keuangan dan sistim perbankan, sehingga, secara berarti, mampu menolong ketidakadilan pendapatan dan kekayaan, terlebih demi mengamankan kepentingan kaum miskin.

Selain itu, perlu kita sadari bersama dan direnungkan, kemiskinan bukan hanya bersumber dari sistem, tapi juga akibat faktor manusia atau kita semua (human being). Satu hal yang selama ini belum tersentuh, bagaimana masyarakat miskin merasakan penderitaan mereka, ketika di sampingnya, ada tembok orang-orang kaya yang dengan berlindung dalam rumah-rumah mewah nan sejuk, nyaman, tanpa merasa kepanasan maupun kedinginan. Untuk itu, marilah kita bangun ‘banua’ kita dengan mengokohkan semangat kepedulian.

(Penulis: Muhammad Alfauzi, ST, Kru KMW 4 P2KP 2/1; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.