Beranda Warta Artikel Menjual Impian Orang Miskin?

Menjual Impian Orang Miskin?

Comments (0) View (2327)

U

UNGKAPAN mutiara tuntunan beribadah seakan besok hendak mati, dan tuntutan berusaha keras seakan diri kita akan hidup seribu tahun lagi, kerap kita dengar. Namun tak jarang, kisah-kisah itu hanya dipaparkan sepintas, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Termasuk, fenomena kaya dan miskin, bagi yang mampu mencapai kekayaan dengan usaha keras, hendaknya pantas dicontoh, bukan untuk didengkikan.

’Andai aku jadi orang kaya’. Ungkapan pengandaian dalam bentuk lagu ini, pernah ngetop di masyarakat Indonesia. Untaian nada yang menyentuh kenyataan di lapangan, menjadikan lagu ini pun cukup memasyarakat. Seandainya menjadi orang kaya, si miskin hanya mengkhayal punya rumah megah, pakaian indah, serta uang setumpuk. Padahal kenyataannya, untuk mengisi perut buat besok saja, mereka sudah pusing tujuh keliling.

Dari layar televisi kerap ditayangkan fenomena orang miskin yang mendapat rezeki dadakan. Si miskin diwajibkan menghabiskan uang dalam hitungan jam. Uang itu kemudian dibelikan kulkas, televisi dan lainnya. Waktu yang ditetapkan hampir habis, dan mereka kembali ke rumah, apa yang terjadi? Alat elektronik yang semula angan-angan, sudah berada di depan mata. Tapi kemudian, bagaimana difungsikannya aliran listrik di rumah tersebut yang ternyata belum ada?

Bukan hanya dalam tayangan televisi, gambaran itu bisa dilihat, fakta sehari-hari juga menampakkannya, misalnya atas fenomena judi toto gelap (togel) yang masih marak. Beberapa tahun lalu, seorang penambang emas tanpa izin (PETI), mendadak pingsan akibat melihat tumpukan uang yang belum pernah dipegangnya. Sekedar iseng, hasil penjualan emas yang dicarinya pada hari itu, sebagian dibelikan togel. Dua angka, tiga angka, dan tanpa disangkanya, nomor yang pasangnya tepat.

Keesokan harinya, saat berkumpul bersama teman-temannya di tempat penjualan togel, sang penambang tersebut sudah mengetahui bahwa undiannya kena. Sambil bergurau, dirinya berjanji akan membayar semua minuman yang sedang dinikmati di warung kecil itu. Ketika itu, segepok uang dalam kantong plastik, diserahkan kepada si penambang. Demi melihat tumpukan uang tersebut, penambang itu jatuh pingsan.

Cerita di atas menunjukkan tentang fenomena maraknya impian masyarakat miskin untuk menjadi kaya. Banyak cerita pada masyarakat Ketapang tentang kehidupan dan impian orang miskin semacam itu. Lalu saya berfikir, mengapa sampai saat ini, jarang ada yang berminat menciptakan lagu: ’seandainya aku anak orang miskin’. Atau, mungkin kasetnya tidak akan ada yang mau beli ya?

Upaya menuntaskan kemiskinan pun, masih terus dilakukan. Berbagai pendekatan ilmiah yang dilakukan, kemudian, penyebab kemiskinan dikategorikan dalam beberapa bagian. Ada kemiskinan harta, kemiskinan ilmu, atau kemiskinan hati nurani. Kemiskinan harta, yang dekat dengan kemiskinan ilmu pengetahuan, dianggap banyak penyebabnya. Karena itu, hanya beberapa program penanggulangan kemiskinan yang masih berjalan, salah satunya P2KP.

Masyarakat Simpang Hilir adalah salah satu contoh warga sasaran program P2KP. Asumsi P2KP adalah bahwa menanggulangi kemiskinan itu dilakukan proses pembelajaran. Tindakan yang dilakukan P2KP adalah sebuah langkah untuk mengentaskan kemiskinan, karena kemiskinan, dianggap sebagai akar masalah lambannya pembangunan yang meliputi berbagai sektor.

Pola kerja program ini, juga dilakukan untuk membangun kesadaran kritis masyarakat, baik terhadap lingkungan, kebijakan maupun dirinya sendiri. Pada akhirnya, dengan sikap kritis itu, mereka mengetahui titik kelemahan dan mengupayakan untuk mengatasi kelemahan itu.

Masyarakat pun telah mampu menyusun secara bersama-sama tentang permasalahan-permasalahan yang ada di desa mereka, baik menyangkut lingkungan yang bersifat fisik, permasalahan ekonomi, permasalahan sosial kemasyarakatan dan masalah pengembangan Sumber Daya Manusia serta potensi yang mereka miliki, dalam bentuk Renta (Rencana Tahunan) serta PJM-Pronangkis (Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan).

(Penulis: Hendra SP, Koordinator Fasilitator Kecamatan Simpang Hilir, Korkot 2 KMW 2 P2KP 2/1 Kalimantan Barat; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.