Beranda Warta Artikel The Indonesian Dream (1)

The Indonesian Dream (1)

Comments (0) View (1951)

<

“I have a dream, a dream of the time when the evil of prejudice and segregation will vanish. It is a dream deeply rooted in the American dream, a dream that my four little children will one day live in a nation, where they will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character.” (Dr. Martin Luther King, Jr)

Itulah salah satu pidato yang terkenal dari seorang pejuang Hak Asasi Manusia Amerika Serikat, pada suatu rapat raksasa kaum Afro Amerika pada tanggal 28 Agustus 1963 di Lincoln Memorial, Washington DC. Amerika pernah mempunyai sejarah hitam tentang diskriminasi ras, yang menyebabkan tertindasnya kaum Afro Amerika di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, dimana warga minoritas tersebut tidak boleh sekolah di lingkungan kaum mayoritas.

Impian seorang Dr. Martin Luther King, Jr adalah dihapuskannya segala bentuk diskriminasi terhadap warga Afro Amerika dan meningkatkan kesejahteraannya. Hal tersebut dinamakan dengan ‘American Dream’. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apa impian Bangsa Indonesia? Jawabannya, mungkin sudah tereka 60 tahun silam, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, dengan diproklamasikannya kemerdekaan Bangsa Indonesia dari cengkraman penjajah.

Lalu, apakah di usia 60 tahun ini, Bangsa Indonesia sudah mencapai impian yang sesungguhnya? Semua pasti sepakat manjawab: ‘Belum!’ Belum tercapainya impian Indonesia bisa kita analogikan dengan lingkungan sekitar kita yang bisa kita lihat sehari-hari, yang secara sederhana, dapat penulis lihat dari seorang sosok Supriyadi, siswa kelas 7 (kelas 1) SMP Islam Ar-Ridho, Desa Tarikolot, Kabupaten Bogor. Penulis kebetulan mengajar di SMP tersebut.

Pada hari pertama siswa baru tersebut sekolah, pada saat absen, dia tidak masuk. Lalu ditanya, kenapa Supriyadi tidak masuk? Teman-temannya menjawab, ”Dia belum punya seragam dan buku Pak! Malu katanya,” ujar teman-temannya kompak. Demi mendengar jawaban tersebut, bagi saya selaku seorang guru sukarelawan di SMP baru tersebut, membuat konsentrasi mengajar pun tidak penuh.

Berikutnya, di kegiatan Pramuka pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS), Supriyadi juga tidak hadir karena tidak punya seragam Pramuka. Akhirnya, setelah dibujuk untuk masuk kembali, akhirnya Supriyadi bersedia masuk pada hari ke tiga, walaupun seragamnya tidak seperti yang lain. Supriyadi memakai baju putih SD dengan celana panjang warna hitam.

SMP Islam Ar-Ridho adalah SMP yang baru saja didirikan oleh masyarakat dan BKM ‘Paguyuban Warga Desa Tarikolot’ pada tanggal 4 Juni 2005, sebagai suatu ikhtiar dari masyarakat dan BKM akan pendidikan menengah di Desa Tarikolot, akibat di desa ini, belum ada satupun Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Melalui beberapa kali Rembug Warga Desa (RWD) yang melibatkan Pemerintahan Desa, LPM, BPD dan Tokoh Masyarakat yang difasilitasi BKM, akhirnya, SMP Islam Ar-Ridho disosialisasikan pada saat peresmian gedung baru Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Raudhatussalam. Di samping itu, SMP ini juga merupakan hasil dari program channeling BKM dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam program ’block grant’ rehabilitasi gedung MI.

Rata-rata, siswa SMP Islam Ar-Ridho adalah murid dari kalangan yang tidak mampu, bahkan ada siswa yang seharusnya duduk di kelas 1 SMA, baru tahun ini bisa menikmati bangku sekolah. Totong, biasa dipanggil, dalam satu kelas, perawakannya paling tinggi dan besar, walaupun kulitnya hitam, giginya bersih kalau tersenyum.

Totong sudah lama ingin sekolah. Namun, karena ketidakberdayaan orang tuanya menyekolahkan Totong, terpaksa dia tidak sekolah selama tiga tahun ini dan membantu orang tuanya berjualan gorengan. Keberadaan SMP Islam Ar-Ridho yang terletak di dekat rumahnya, membuat Totong kembali bersemangat untuk ke sekolah, walaupun terlambat tiga tahun.

Lalu, bagaimana dengan masalah biaya bagi para siswa ini untuk belajar di SMP Islam Ar-Ridho? Para siswa hanya diwajibkan mendaftar uang pendaftaran sebesar Rp. 10.000,-, dan untuk pembiayaan lain, pihak sekolah memberikan keringanan. SMP Islam ini memang didirikan atas dasar membantu siswa dari keluarga yang tidak mampu, tapi tidak menjatuhkan harga diri (kualitas) siswa dan kredibilitas sekolah. Konsepnya lebih pada bagaimana BKM dan masyarakat, bisa membantu anak-anak Desa Tarikolot yang tidak mampu agar bisa terus bersekolah.

Walaupun jumlah murid SMP Islam Ar-Ridho hanya 20 orang, tapi semuanya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Tim pengajar di SMP Islam ini, terdiri dari 3 anggota BKM, 7 orang guru yang peduli serta 2 orang sarjana yang direkrut BKM menjadi sukarelawan. SMP Islam Ar-Ridho ini, dipimpin oleh Drs. Riyadi Alwi, yang merupakan anggota BKM. Gedung yang dipakai pun masih menumpang di Gedung MI Raudhatussalam, sehingga, SMP Islam Ar-Ridho, merupakan sekolah siang.

Apa yang dilakukan BKM ‘Paguyuban Warga Desa Tarikolot’ dan masyarakat tentang hal ini, hanya sebuah ikhtiar kecil demi mewujudkan impian dari beberapa keluarga yang ingin agar anaknya tetap sekolah. Modal utama pendirian SMP ini adalah idealisme dan tanggung jawab moral masyarakat dan BKM akan pentingnya perkembangan pendidikan di Desa Tarikolot.

Hal ini juga merupakan jawaban dari kegundahan beberapa tokoh masyarakat dan anggota BKM, bahwa masih ada diskriminasi dan ketidakberdayaan bagi keluarga yang tak mampu untuk menyekolahkan anaknya, seperti yang menimpa Supriyadi dan Totong di atas. Mereka hanya dua anak tunas bangsa yang berusaha menemukan ‘Impian Indonesianya’ di masa depan, minimal, menjadi generasi yang berguna bagi desanya, suatu saat nanti. (Bersambung)

Tulisan selanjutnya: The Indonesian Dream (2)

(Penulis: Muhamad Ridwan, Anggota Pimpinan Kolektif BKM ‘Paguyuban Warga Desa Tarikolot’, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.