Beranda Warta Artikel Betulkah Yang Kita Lakukan Itu Memberdayakan?

Betulkah Yang Kita Lakukan Itu Memberdayakan?

Comments (0) View (1845)

S

Seringkali sebagai fasilitator, kita datang ke masyarakat dengan langkah penuh keyakinan dan perasaan fasilitator adalah orang yang paling tahu, segala bisa. Sehingga masyarakat dianggap sebagai orang yang belum tahu apa-apa.

Perasaan dan keyakinan tersebut kadang berakibat kepada fasilitasi. Pendampingan di masyarakat pun menjadi lain. Masyarakat yang ada lebih digiring untuk mengikuti dan menuruti apa yang fasilitator bawa. Sehingga, dalam penerimaannya masyarakat sering beranggapan bahwa hal yang dilakukan adalah instruksi dari fasilitator. Masyarakat jadi berpikir, bila tidak melakukan (sesuai instruksi) tidak akan cair BLM-nya.

Dengan fasilitasi seperti ini masyarakat tidak melaksanakan kegiatan atas dasar kesadaran. Malahan mereka sering merasa tertekan karena beranggapan segala yang datang dari fasilitator harus ditaati. Sehingga seringkali terucap dari masyarakat, yang mereka lakukan itu sebagai ”kata fasilitator”, bukan inisiatif masyarakat sendiri. Begitukah pendampingan yang memberdayakan? Dengan cara seperti itukah kita memfasilitasi masyarakat? Lalu, apa jadinya kalau fasilitasi kita seperti itu?

Coba kita renungkan sejenak. Kita datang sebagai fasilitator. Fungsi kita hanya memfasilitasi, tidak lebih dari itu. Kita masuk ke masyarakat, mencoba mengajak masyarakat melakukan perubahan sikap dan perilaku sehingga lebih berdaya melakukan segala sesuatu untuk mereka sendiri. Tapi, pantaskah perubahan sikap dan perilaku itu bila dilandasi oleh tekanan atau  perintah, bukan dibangun atas dasar kesadaran masyarakat sendiri.

Baik buruknya fasilitasi kita akan terlihat ketika kontrak habis. BKM—yang didampingi dengan berlandaskan tekanan dan perintah—akan merasa lega dan bebas melakukan apapun sesuai dengan keinginannya, yang kadang tanpa dilandasi kesadaran. Sebaliknya, BKM—yang didampingi dengan benar—akan terus berkembang dan berdaya atas dasar kesadarannya. BKM dan masyarakat jenis terakhir ini akan mampu membedakan mana yang baik dan buruk atas dasar penilaian mereka sendiri, karena sudah memiliki kesadaran.

Demikian agar kita dapat membedakan mana fasilitator yang mengajak untuk melakukan perubahan dengan kesadaran, dan mana fasilitator yang memfasilitasi dengan penuh perintah. Hal tersebut dapat dilihat dari kata-kata atau metode fasilitasi kita.

Perlu kita sadari bersama, kita semua berada dalam rangka pembelajaran. Masyarakat melakukan pembelajaran. Kita pun sebagai fasilitator melakukan pembelajaran. Dalam hal ini tidak ada yang lebih pintar. Kita sering menyampaikan, BKM atau lingkungan masyarakat merupakan ladang amal bagi anggota BKM, begitu juga masyarakat dan BKM merupakan ladang amal bagi kita sebagai fasilitator. (Penulis: Imanudin, Koordinator Kota IV, KMW 13, P2KP 2/2;nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.