Beranda Warta Artikel Bantuan Masyarakat Miskin dan Keragaman Sikap Kita

Bantuan Masyarakat Miskin dan Keragaman Sikap Kita

Comments (0) View (2775)

K

Kata miskin, mungkin merupakan yang paling sering terdengar dalam program P2KP. Secara bahasa, kata “miskin” berasal dari Bahasa Arab “masakin”. Artinya, kelompok masyarakat yang taraf hidupnya lebih tinggi dari golongan fakir, tapi masih dibawah standar hidup layak.

Miskin tergolong secara luas dalam golongan kaum dhuafa, yaitu lemah secara sosial dan ekonomi, atau dilemahkan oleh sistem yang ada dalam suatu masyarakat atau negara. Golongan ini wajib dipenuhi kebutuhannya, sekaligus diberikan perlindungan terkait hak-haknya, baik oleh negara atau pun kelompok masyarakat yang dikatakan mampu.

Menurut Imam Ghazali, sekurang-kurangnya ada enam hak manusia atau masyarakat yang harus didapatkan dari pemerintah/negara. Pertama, hak perlindungan hidup dan keselamatan jiwa-raga, termasuk di antaranya tersedia akses secara adil terhadap sandang, pangan, dan papan. Kedua, hak beragama. Ketiga, hak mendayagunakan dan mengembangkan akal budi. Keempat, hak perlindungan atas harta benda atau kekayaan yang diperoleh secara sah. Kelima, hak berketurunan, dan keenam, hak perlindungan kehormatan.

Pemenuhan kebutuhan dan perlindungan hak kaum dhuafa sangat penting dalam kehidupan dan wajib dilaksanakan oleh negara atau pemerintahan sebagai pemegang kebijakan. Apalagi, uang negara adalah uang “wakaf” yang harus dikelola untuk kesejahteraan rakyatnya sendiri, kemudian disalurkan kepada orang yang berhak menerimanya. Sebagai anggota masyarakat, kita mempunyai kewajiban yang sama dengan pemerintah untuk membantu mereka.

Ada delapan golongan yang paling berhak menerima pengelolaan keuangan negara, ataupun berhak mendapatkan bantuan secara luas dari masyarakat. Yaitu, rakyat kecil yang penghasilannya sangat jauh dibawah standar hidup layak, serta kelompok masyarakat yang taraf hidupnya lebih tinggi dari golongan fakir tapi masih dibawah standar hidup layak (miskin). Mualaf (orang yang baru masuk Islam—red), peserta rehabilitasi sosial—seperti narapidana, pasien pecandu narkoba—dan suku terasing juga berhak dibantu.

Selain itu, budak, bangsa terjajah, buruh kecil yang tertindas, orang yang banyak dililit utang seperti petani kecil korban tengkulak atau pengusaha kecil yang mengalami kebangkrutan. Lalu, musafir, termasuk pengungsi karena bencana alam maupun bencana politik, orang yang mengumpulkan dan membagikan zakat, dan buruh pemasok kebutuhan publik. Terakhir, yang berhubungan dengan kemaslahatan umum dan bangunan milik publik seperti masjid, sekolah, musium, maupun non fisik seperti pertahanan, pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagainya. Mereka semua merupakan golongan yang berhak mendapatkan bantuan.

Indonesia, yang dikatakan orang sebagai negeri gemah ripah loh jinawi (alias makmur), ternyata menghadapi kenyataan pahit. Sebab, banyak diantara rakyat miskinnya terkena busung lapar, lumpuh layu, kekurangan gizi, serta penyakit lainnya. Kasus ini tidak hanya terjadi di daerah miskin yang memang kekurangan makanan, tapi juga di Jakarta. Sebagai bangsa yang merdeka dan dikaruniai kekayaan alam berlimpah, kita patut mempertanyakan, ke mana saja karunia yang berikan oleh Allah Yang Maha Besar kepada Bangsa Indonesia.

Apakah para pejabat menjaga amanah harta rakyat untuk disalurkan demi kesejahteraan rakyat? Sedangkan, nantinya mereka akan dimintai pertanggungjawaban amanah yang telah dititipkan kepadanya. Lalu, apa yang sudah kita lakukan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan? Baik kita sebagai pejabat, pedagang, konsultan, politisi, BKM, KSM, atau rakyat biasa. Sudah waktunya kita menengok tetangga kita, meruntuhkan tembok keangkuhan yang didasarkan pada ego individualisme. Sekali lagi, kalau kita masih ingin disebut masih mempunyai hati nurani, jangan biarkan tetangga kita kelaparan. Terlebih kita sebagai pelaku P2KP. (Sansuri, Askot I, KMW X, P2KP 2/1; nina)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.