Beranda Warta Artikel Pencegahan Banjir, Pilih (Ide) Ahok atau Anies?

Pencegahan Banjir, Pilih (Ide) Ahok atau Anies?

Comments (0) View (1447)

Oleh:
Nanang Priyana
Team Leader
KMW OSP 5 Provinsi DI Yogyakarta
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)   

Menarik, jalannya Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 ini. Khususnya ketika mereka berbicara mengenai cara mengatasi banjir—mengingat ini termasuk topik yang relevan dengan kegiatan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Semua kandidat Pilkada DKI punya kepedulian yang sama untuk mengatasi banjir. Cagub No. 3 Anies mengusulkan vertical drainage, sedangkan Cagub No. 2 Ahok bersikukuh dengan cara normalisasi (Baca: Anies Usul Vertical Drainage Atasi Banjir, Ahok Berkukuh Normalisasi). Ini menarik untuk disimak. Kedua kandidat yang maju ke putaran kedua beradu konsep mujarab mengatasi banjir. Namun, konsep kandidat mana yang paling tepat untuk mengatasi banjir di DKI Jakarta, atau mungkin juga daerah lain yang sering dilanda banjir?

Mempertentangkan antara satu konsep, metode atau cara mengatasi masalah, tidaklah tepat. Kita mungkin sudah bergeser dari ranah teknis ke ranah politis. Secara politis antara satu konsep, metode atau cara diperdebatkan, dipertentangkan atau dipertandingkan, mana yang paling jitu dalam menangangani suatu masalah. Tapi secara teknis, sebenarnya berbagai konsep, metode atau cara itu dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mendukung. Jadi tidak harus dipertentangkan dan dipertanyakan mana yang paling benar atau paling jitu mengatasisi masalah banjir.

Banjir 

Hujan dan air mengikuti hukum alam. Kita tidak bisa menyalahkan hujan atau air sebagai penyebab banjir. Secara alamiah, hujan akan turun di musim hujan. Secara alamiah pula air akan berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat rendah. Berpindahnya air dari tempat tinggi ke tempat yang rendah bisa dengan cara mengalir di atas permukaan tanah, atau meresap ke dalam tanah. Banjir terjadi akibat terjadinya genangan di suatu kawasan. Genangan banjir dapat terjadi ketika air hujan tidak dapat meresap dan mengalir secara lancar. Akibatnya air meluber dan menggenangi permukiman.

Jadi, secara umum cara mengatasi banjir adalah dengan mengelola fenomena alamiah air yang mengalir dan meresap. Semakin banyak air diresapkan ke dalam tanah, dan sisanya dialirkan sampai ke laut. Ketika pengelolaan resapan dan aliran air tidak baik, semakin besar volume air yang mengalir di permukaan tanah. Di kota besar, area tangkapan air semakin sempit, sehingga semakin kecil volume air yang bisa meresap ke dalam tanah. Akibatnya volume air yang mengalir di permukaan tanah menjadi lebih besar. Dan, ketika aliran air tidak tertampung dalam saluran drainase yang ada, air akan melimpah dan terjadi banjir. Akibat lain dari berkurangnya volume air yang meresap dalam tanah itu adalah menurunnya air tanah, sehingga kedalaman sumur bertambah.

Drainase Vertikal

Drainase vertikal adalah upaya kita untuk sebanyak mungkin meresapkan air ke dalam tanah. Seperti disebut di atas, secara alami air meresap ke dalam tanah. Semakin banyak volume air yang meresap, akan berkurang pula air yang mengalir di permukaan tanah.

Persoalan terjadi ketika permukaan lebih banyak yang tertutup bangunan, karena area resapan air akan berkurang. Fenomena ini terjadi di perkotaan, yakni semakin banyak permukaan yang tertutup bangunan—berupa jalan, rumah, perkantoran dan lain-lain. Selain mencegah terjadinya banjir, drainase vertikal dapat mendukung upaya konservasi tanah. Ketika resapan air tanah berkurang maka tanah akan semakin tandus dan berkurang kesuburannya.

Tetapi drainase vertikal tidak dapat dilakukan di semua lokasi. Drainase vertikal hanya dapat dilakukan di daerah yang memiliki ketinggian tanah di atas permukaan laut yang masih memungkinkan terjadinya resapan air. Beberapa implementasi drainase vertical, antara lain, pertama, waduk/embung/situ/kolam retensi. Yakni, menampung air hujan di suatu wilayah. Air yang mengalir adalah kelebihan dari kapasitas yang ditampung. Keberadaan waduk/embung/situ/kolam retensi, selain untuk mencegah banjr juga dapat dimanfaatkan untuk wisata, irigasi, pembangkit listrik, perikanan dan sebagainya. Guna mengatasi banjir di DKI Jakarta, bisa diperbanyak waduk/embung/situ/kolam retensi, baik di wilayah DKI maupun di wilayah hilir dari sungai yang mengalir ke DKI Jakarta, seperti Depok atau Bogor.

Kedua, Ruang Terbuka Hijau (RTH). Yakni memperbanyak ruang terbuka yang mampu menyerap air. RTH dapat dibangun di ruang public maupun di lahan pribadi atau rumah. Intinya adalah menyediakan ruang terbuka dimana air dapat meresap dalam tanah.

Ketiga, Sumur Resapan Air Hujan (SPAH). Yakni sumur yang dibuat khusus untuk tujuan meresapkan air hujan. SPAH dapat dibangun di halaman rumah, sehingga limpasan air dari atap dapat diresapkan dalam tanah. Ketika volume air hujan melebihi kapasitas SPAH, barulah air mengalir ke saluran drainase. Selain dibangun di halaman rumah, sumur resapan air hujan dapat dibangun di sepanjang saluran drainase sehingga mengurangi volume aliran air.

Lubang Biopori

Biopori adalah lubang resapan yang sengaja dibuat dengan ukuran tertentu yang telah ditentukan—biasanya berdiameter 10-30 cm dengan panjang 30-100 cm—ditutupi sampah organik yang berfungsi sebagai penyerap air ke tanah dan membuat kompos alami. Lubang biopori merupakan metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah, selain dengan sumur resapan. 

Tujuan, fungsi, manfaat dan peran Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah (1) Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah, sehingga menambah kapasitas air tanah; (2) Membuat kompos alami dari sampah organik (lebih baik daripada dibakar); (3) Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit; (4) Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut; (5) Mengurangi risiko banjir di musim hujan; (6) Memaksimalkan peran dan aktivitas flora dan fauna tanah; (7) Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

Lubang biopori dapat dibuat di halaman rumah, perkantoran atau di drainase jalan lingkungan.

Drainase Horizontal

Air hujan yang jatuh di suatu daerah dan tidak diresapkan dalam tanah harus dialirkan atau dibuang. Caranya dengan pembuatan saluran drainase horizontal yang dapat menampung air hujan yang mengaliri permukaan tanah tersebut. Sistem saluran drainase di atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar, yaitu ke badan air atau sungai, dan akhirnya terbuang ke laut.

Sesuai dengan prinsip sebagai jalur pembuangan maka pada waktu hujan air yang mengalir di permukaan diusahakan secepatnya dibuang, agar tidak menimbulkan genangan-genangan yang dapat mengganggu aktivitas di permukiman, bahkan dapat menimbulkan kerugian sosial ekonomi. Terutama yang menyangkut aspek-aspek kesehatan lingkungan pemukiman kota. Jadi volume dan kelancaran menjadi syarat utama agar bisa mencegah banjir.

Adapun fungsi drainase, antara lain: pertama, membebaskan suatu wilayah terutama pemukiman yang padat dari genangan air, erosi dan banjir. Kedua, meningkatkan kesehatan lingkungan. Jika drainase lancar maka risiko terkena penyakit yang ditransmisikan melalui air (water-borne disease) dan penyakit lainnya, akan semakin kecil. Ketiga, dengan sistem drainase yang baik tata guna lahan dapat dioptimalkan dan juga memperkecil kerusakan-kerusakan struktur tanah untuk jalan dan bangunan-bangunan lainnya. Keempat, dengan sistem drainase yang terencana maka dapat dioptimalkan pengaturan tata-air, yang berfungsi mengendalikan keberadaan air berlimpah pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Semua jaringan drainase, mulai drainase lingkungan, drainase kota, sampai sungai, harus saling terhubung dengan arah yang mengalir sampai ke laut tanpa hambatan. Genangan dan banjir dapat disebabkan karena terjadinya hambatan karena jaringan drainase tidak saling terhubung atau buntu. Solusinya adalah membuat jaringan baru untuk menghubungkan dengan jaringan lain atau memperbaiki jaringan yang ada untuk memperlancar aliran air.

Genangan atau banjir dapat terjadi ketika kapasitas saluran drainase tidak memadai. Solusinya adalah meningkatkan kapasitas saluran drainase, seperti memperdalam atau memperlebar saluran drainase lingkungan atau drainase kota. Persoalan yang sering terjadi di perkotaan justru pada kapasitas sungai yang mengalami penyempitan akibat berdirinya bangunan di bantaran sungai. Dalam hal ini, solusi normalisasi sungai merupakan pilihan yang tepat.

Tidak Cukup dengan Drainase

Beberapa wilayah permukiman yang berada di pinggir pantai sering mengalami banjir yang tidak ada hubungannya air hujan. Atau dengan kata lain, banjir yang terjadi tidak disebabkan oleh air hujan, melainkan oleh air laut, yang disebut sebagai fenomena rob. Kejadian ini terjadi di wilayah yang mempunyai ketinggian permukaan tanah berada di bawah permukaan laut, terutama pada saat air pasang. Fenomena banjir akibat rob tidak bisa diselesaikan dengan sistem drainase, melainkan dengan pembuatan tanggul penahan air laut.

Hal yang jauh lebih penting bukan soal infrastruktur semata, tetapi juga bagaimana menumbuhkan kesadaran manusianya dalam mengelola lingkungan perumahan dan permukimannya. Ada dua faktor yang berpengaruh, yakni dari sisi makro dan mikro. Dari sisi makro, bagaimana berbagai peraturan perundangan yang terkait bisa ditegakkan. Peraturan tentang sempadan sungai, Koefisien Dasar Bangunan (KDB), zonasi dalam RTRW dan lain-lain. Secara mikro, bagaimana perilaku masyarakat dalam membuang sampah, pembuangan limbah rumah tangga, mendirikan bangunan juga menjadi faktor penting dalam pencegahan banjir.

Jadi berbagai konsep, metode atau cara dapat dilakukan sesuai dengan permasalahan yang ada di masing-masing lokasi. Dan tidak ada cara yang tepat untuk semua tempat. Yang ada adalah cara yang tepat untuk suatu kawasan tertentu. Mempertentangkan berbagai konsep, metode atau cara menangani banjir, seperti mempertentangkan drainase vertikal atau normalisasi sungai, lebih merupakan perdebatan politis. Sedangkan secara teknis, sebenarnya harus dilakukan secara terintegrasi, sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. [DIY]

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.