Beranda Warta Artikel Media Relation dan Program KOTAKU

Media Relation dan Program KOTAKU

Comments (0) View (806)
Oleh:
Taufik Hidayat

OC KMW 1 Provinsi Sumatera Utara
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Sejarah pers di Indonesia menunjukkan, pada era kemerdekaan, pers sebagai alat perjuangan, membentuk opini masyarakat akan pentingnya arti kemerdekaan, persatuan dan kesatuan.

Pascamerdeka, demokrasi terpimpin hingga pecahnya G30/S-PKI ruang pers jadi sangat terbatas; (A) Pancasila sebagai landasan pers, (B) Menyuarakan Manifesto Politik 1960/UUD ’45 (Manipol/Usdek), sosialisme, demokrasi, ekonomi terpimpin, (C) Menyokong Nasionalisme, Agama, Komunisme (Nasakom); (D) Presiden Seumur Hidup (ketetapan MPRS 20 Mei 1963); (E) Mempolitisasi PWI.

Era Orde Baru, Presiden Soeharto membatasi gerak-gerak pers. Sebut saja, peristiwa Malari 1974, koran dilarang terbit seperti Abadi, Indonesia Raya, Harian Kami, Pedoman, Nusantara, Jakarta, dan lain-lain. Awal 1978, jelang sidang MPR 7, koran diberedel untuk sementara, seperti Kompas, Sinar Harapan, Tempo, dan lainnya.

Era Reformasi, kebebasan pers dijamin oleh Presiden BJ Habibie lewat UU No 40 tahun 1999. Tidak adalagi pemberedelan. Pers bekerja sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan diawasi oleh Dewan Pers.

Pers atau media relation menurut Frank Jefkins dalam buku “Public Relations” (1995: 98) dan “Periklanan” (1997: 275), fungsi media relations adalah menyiarkan atau mempublikasikan seluas-luasnya informasi public relation guna menciptakan pengetahuan dan memberi pengertian bagi publiknya.

Di sisi lain, mengingat prinsip pelaksanaan Program KOTAKU adalah (1) Partisipatif: melibatkan masyarakat dalam setiap tahapan proses kegiatan; (2) Transparan: dilaksanakan secara terbuka; (3) Akuntabel: dapat dipertanggungjawabkan; dan (4) Keberlanjutan: infrastruktur permukiman memberikan manfaat secara menerus. Dengan demikian, bagi Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), media/pers merupakan komunikasi massa. Yakni, sumber masyarakat memeroleh informasi dan ilmu pengetahuan, dengan demikian maka pers adalah mitra strategis.

Kenapa media? Karena jangkauannya yang luas. Informasi dalam media dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan, mudah diakses publik dan punya pengaruh yang kuat. Pentingnya media relation tidak terlepas dari “kekuatan” media massa yang tidak hanya mampu menyampaikan pesan kepada banyak khalayak. Lebih dari itu, media sebagaimana konsep dasar yang diusungnya memiliki fungsi mendidik, mempengaruhi, mengawasi, menginformasikan, menghibur, memobilisasi, dan sebagainya. Dari sinilah media memiliki potensi strategis untuk memberi pengertian, membangkitkan kesadaran, mengubah sikap, pendapat, dan perilaku sebagaimana tujuan yang hendak disasar oleh Program KOTAKU yang “dinakhodai” oleh Pemda.

Namun demikian, menurut Iriantara (2005), bukan berarti lembaga melihat media massa sebagai alat. Keberadaan alat hanyalah ketika ia dibutuhkan. Padahal bagi lembaga, media adalah mitra kerja. Demikian pula bagi media, lembaga adalah sumber informasi berita yang tidak pernah kering untuk dieksplorasi. Dengan kata lain, ada simbiosis mutualisme, yang terbangun di antara keduanya. Lembaga dapat menjalankan tugasnya karena ada media, sementara media pun memperoleh informasi yang diperlukan karena ada yang memasok kebutuhan informasi.

Menjalin hubungan dengan pers mengikuti prinsip, pertama, jujur, terbuka, ramah, tegas dan profesional. Kedua, memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dalam kerangka saling menghormati untuk mendapatkan hubungan timbal balik. Ketiga, memberlakukan pers sebagai mitra kerja. Keempat, selalu meng-update setiap daftar nama wartawan, surat kabar, alamat dan nomer telepon redaksi. Kelima, saling mengenal baik, cukup akrab. Keenam, saling memahami.

Adapun bentuk pers/media relation adalah: (1) Konferensi/jumpa pers: Pertemuan dengan pihak pers yang besifat resmi; (2) Wisata pers: sejumlah wartawan diajak ke suatu event khusus (ke luar kota) guna meliput secara langsung; (3) Resepsi pers: jamuan pers yang bersifat sosial, seperti kumpul bersama dalam acara ulang tahun, acara keagamaan, dan sebagainya; (4) Taklimat pers: Jumpa pers secara periodik, guna berdiskusi, sumbang saran, dan sebagainya; (5) keterangan/wawancara pers.

Hindari kesalahan dalam membina hubungan dengan pers, antara lain, mendikte, tidak akurat/disinformatif, tertutup, tidak profesional, lamban, tidak menghargai dan saling memahami, serta tidak komunikatif dan saling curiga.

Program KOTAKU adalah lembaga yang bersinggungan langsung dengan masyarakat harus membangun hubungan baik dengan media. Dengan hubungan simbiosis mutualisme, diharapkan Program KOTAKU dapat tersosialisasi dengan baik, serta dapat mempercepat mencapai tujuan dari dibentuknya program itu sendiri. [Sumut]

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.