Beranda Warta Artikel Trik Melengkapi Formulir Uji Kompetensi

Trik Melengkapi Formulir Uji Kompetensi

Comments (0) View (3921)
Oleh:
Wigih Anggono Putro
TA Monev
KMW/OC 2 Bengkulu
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Uji kompetensi bagi pelaku Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) – National Slum Upgrading Program (NSUP), yang akan dilakukan dan wajib diikuti oleh Tim Fasilitator hingga Tim Korkot di bulan Maret 2016 ini menjadi isu hangat dan menarik untuk dicermati. Menarik, karena ini suatu terobosan baru yang dilakukan oleh Tim Pusat dalam rangka memastikan tim konsutan yang mendampingi masyarakat dan pemerintah daerah adalah “fasilitator“ yang memiliki kompetensi di bidangnya. Jika fasilitatornya dinyatakan kompeten di bidangnya, tentu hasil akhir dari fasilitasi pendampingan akan lebih baik. Menarik, karena hal baru, siap diterapkan, tapi tidak melalui proses sosialisasi yang cukup.

Guna memberikan pemahaman kepada semua pihak mengenai “hal baru” diperlukan suatu sosialisasi, sehingga hal baru tersebut dapat dipahami semua pihak, terutama bagi para fasilitator yang akan mengikuti uji kompetensi. Ketidakpahaman dalam melengkapi berkas formulir membuat peserta uji kompetensi kesulitan dalam mengajukan barang bukti yang relevan dengan unit kompetensi yang diajukan. Hasil akhirnya, tentu formulir uji kompetensi yang tidak tepat, bukti tidak relevan atau bahkan salah sama sekali. Kalau ini yang terjadi, akan sangat menyulitkan bagi penguji untuk menelusuri apakah benar peserta uji kompetensi memang kompeten di bidang yang akan diujikan, karena barang bukti yang diajukan tidak valid, relevan, dan sebagainya.

Belajar dari pengalaman sewaktu mengikuti sertifikasi uji kompetensi untuk fasilitator pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi-Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat (LSP-FPM) 3 tahun lalu, betapa sulitnya, tapi ternyata menjadi mudah jika kita sudah memahaminya. Hal tersebut mendorong saya untuk berbagi pengalaman dalam urusan menyiapkan formulir uji kompetensi.

Pertama, memahami bagaimana proses/skema uji kompetensi. Skema uji kompetensi mengambarkan tahapan/rangkaian yang harus dijalani mulai dari tahap awal hingga selesai. Tahap awal biasanya calon peserta melengkapi beberapa syarat administrasi dan mengisi beberapa formulir, termasuk formulir uji kompetensi. Setelah lengkap, disampaikan ke Tempat Uji Kompetensi (TUK) dan akan diverifikasi oleh pihak TUK, apakah sudah lengkap dan benar. Jika lengkap dan benar, baru kita dinyatakan sebagai peserta. Jika tidak, diminta melengkapi.

Dari skema yang akan dilaksanakan oleh program KOTAKU-NSUP, calon peserta langsung mengajukan permohonan dan menyerahkan berkas langsung ke Satker. Kemudian Satker membentuk tim penguji, kemudian tim penguji melakukan proses uji kompetensi.

Yang perlu dicermati adalah peserta uji kompetensi langsung menyerahkan ke Satker. Kita berharap saja di pihak Satker, ada yang berperan sebagai TUK. Tidak hanya sekedar menerima berkas, tetapi juga melihat apakah cara pengisiannya sudah benar. Pertanyaannya, adakah petugas yang melakukan verifikasi? Mampukah petugas tersebut memverifikasi?

Proses verifikasi awal ini sangat penting agar proses sertifikasi dapat berjalan dengan lancar. Karena, mencari dan mengumpulkan barang bukti membutuhkan waktu. Ini adalah bagian dari proses seleksi. Bisa jadi, bagaimana cara mengisi fomat uji kompetensi merupakan bagian dari proses, sehingga tidak ada kesempatan untuk memperbaiki jika ada kesalahan. Kesalahan fatal yang bisa terjadi adalah dari beberapa unit kompetensi. Bisa saja karena tidak percaya ada beberapa unit yang oleh peserta diisi dengan Belum Kompeten (BK).

Semoga saja di skema KOTAKU-NSUP tidak mensyaratkan bahwa fasilitator dinyatakan kompeten jika memiliki kompetensi di semua unit kompetensi yang akan diujikan. Jika tidak bagaimana penguji menyatakan peserta kompeten bila peserta sendiri menyatakan dirinya belum kompeten.

Kedua, memahami unit kompetensi yang diajukan. Memahami unit kompetensi sebelum melengkapi form uji kompetensi sangatlah penting. Karena pemahaman terhadap unit kompetensi berhubungan langsung dengan bukti apa yang akan diajukan. Bukti yang diajukan hendaknya memenuhi beberapa aturan bukti yang biasanya diterapkan dalam proses sertifikasi.

Aturan bukti yang kita ajukan sangat erat kaitannya dengan prinsip-prinsip asesmen (valid, reliable, flexible, fair), dilengkapi dengan panduan pengumpulan bukti untuk memastikan bahwa bukti tersebut: (1) valid: Semua bukti yang terkumpul memenuhi kriteria yang terdapat pada acuan pembanding (benchmark), (2) terkini: mendemonstrasikan keterampilan dan pengetahuan terkini dan memenuhi standar keterkinian, (3) kecukupan: cukup bukti untuk memenuhi seluruh bagian acuan pembanding, (4) otentik: bukti yang dikumpulkan merupakan pekerjaan kandidat sendiri, bila bukti hasil dari tim masih dapat diverifikasi ketelusurannya

Contoh salah satu unit kompetensi yang diujikan adalah “Membangun visi dan kepemimpinan”. Sebelum melengkapi bukti apa yang akan diajukan, seorang peserta uji kompetensi (asesi) tentu harus paham apa maksud dari unit ini. Salah memahami unit kompetensi tentu akan salah juga bukti yang diajukan.

Dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia-Tenaga Pendamping Masyarakat (SKKNI-TPM) Kepmen Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 81 Tahun 2012 unit kompetensi “Membangun Visi dan Kepemimpinan” merupakah salah satu fungsi dasar yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator. Dalam SKKNI tersebut dijabarkan kriteria ujuk kerja apa saja yang harus dilakukan. Setelah paham ternyata unjuk kerja itu ada dalam siklus atau tahapan yang selama ini dilakukan oleh fasilitator P2KP/PNPM Perkotaan/KOTAKU, yaitu memfasilitasi penyusunan RPLP—menggali visi misi, dan fasilitasi pembentukan/penguatan BKM (kepemimpinan). Jika seorang fasilitator memang pernah memfasilitasi kedua kegiatan tersebut, tentu tidak sulit untuk melengkapi alat bukti, BA kegiatan, dokumentasi, logbook, atau laporan singkat mengenai kegiatan tersebut bisa dijadikan salah satu alat bukti.

Sekali lagi, jika dicermati unit kompetensi yang diujikan, maka saya yakin fasilitator yang baik, dan selama ini melaksanakan tugas memfasilitasi dengan baik, disertai bukti-bukti atau dokumentasi hasil kegiatan yang baik, tidak akan kesulitan untuk memenuhi semua bukti unit kompetensi yang akan diujikan.

Guna menyusun dokumen RPLP yang diwajibkan ada di semua lokasi KOTAKU-NSUP dan didampingi oleh fasilitator ada tahapan, di semua tahapannya bisa dijadikan alat bukti. Di antaranya: (1) Fasilitator mengikuti pelatihan KOTAKU—unit kompetensi mengembangkan kapasitas sebagai pendamping; (2) Fasilitator melakukan fasilitasi pembentukan TIPP, pelatihan/OJT kepada TIPP—unit kompetensi mengembangkan kapasitas masyarakat dan Pemda; (3) Memfasilitasi RKM, membangun visi/misi, dan seterusnya.

Jadi, jika kita memahami unit kompetensi maka dengan mudah kita akan mampu melengkapi bukti yang akan diajukan. Semoga tulisan ini, bermanfaat bagi rekan-rekan yang sedang melengkapi fomulir uji kompetensi. Selamat bertugas. Berani berubah! Sukses KOTAKU. [Bengkulu]

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.