Beranda Warta Artikel Memahami Tugas dan Fungsi Faskel Community Development

Memahami Tugas dan Fungsi Faskel Community Development

Comments (0) View (2216)

Oleh:
Deden Mashudi
Faskel CD
Tim 11 Kota Serang
KMW OC 3 Provinsi Banten
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Fasilitator dalam makna sederhana adalah ia atau mereka yang memfasilitasi tentang suatu hal. Fasilitator bertugas untuk memastikah bahwa kehadirannya betul-betul membantu masyarakat dalam menyusun agenda bersama di lingkungan itu sendiri. Fasilitator sosial atau Community Development (CD) erat kaitannya dengan suasana kehidupan warga di wilayah dampingan itu sendiri. Ia harus mampu beradaptasi dengan bijak dan lugas saat menjumpai masyarakat yang memiliki keragaman corak berpikir dan bertingkah laku. Dalam visinya menangani kawasan kumuh dan melakukan pencegahan di titik yang tidak terdelineasi kumuh, fasilitator CD bersama tim sangat perlu berkoordinasi dan berkomunikasi intens dengan seluruh elemen masyarakat ataupun pemerintahan, dalam hal ini lurah atau kepala desa, hingga camat di wilayah dampingan masing-masing.

Target pada “community, a good of the change” seyogiyanya menjadi pedoman baku untuk terus berupaya secara maksimal melakukan pendampingan kepada masyarakat. Paling tidak saya melihat ada beberapa hal yang harus dikuasai oleh fasilitator misalnya, seperti pertama, ia harus mampu menjadi seseorang yang dapat mendorong daya tarik dan minat masyarakat agar senantiasa bersama-sama berkontribusi untuk melakukan peningkatan kualitas permukiman di lingkungannya. Atau kita bisa disebut bahwa fasilitator itu harus memilikin gelora “motivation”.

Kedua, seorang fasilitator, dalam hal ini khususnya bidang sosial atau CD selain menjadi motivator, ia juga harus menjadi ”provokator”. Maksudnya, penting kiranya fasilitator CD memiliki daya pikir yang mengarah agar bagaimana mampu menjadi daya gedor, manakala warga merasa jenuh dengan program-program terkait. Misal hal tersebut terjadi, kita mesti jadi pembangkit agar suasana itu tidak berlangsung larut, sehingga menyebabkan program pemberdayaan tidak berjalan efektif.

Ketiga, fasilitator CD harus mampu menjadi playmaker. Istilah itu memang sangat erat dengan olahraga sepak bola. Kita tahu bahwa dari sekian posisi yang ada dalam permainan sepak bola terdapat, di antaranya, striker, back, gelandang, dan lain-lain. Namun, manakala kita cermati bahwa di antara posisi-posisi di atas, playmaker lah yang membuat irama permainan menarik. Ia secara khusus ditugaskan oleh pelatih agar mampu menyerang ke gawang lawan dengan efisien, dan menjaga pertahanan dengan kokoh. Artinya analogi tersebut, jika diibaratkan dengan tim pendampingan, Faskel CD harus berani melakukan hal tersebut jika di kalangan tim dan masyarakat mengalami penurunan gairah pendampingan dan kolaborasi tidak terjalin.

Berbicara mengenai sosial, Faskel CD diharapkan mampu menumbuhkan bibit-bibit relawan yang kompeten dan sungguh-sungguh. Harus diingat, yang kita hadapi ini adalah masyarakat lapisan paling bawah, tingkat basis RT/RW. Oleh karenanya, pendekatan yang mesti dilakukan adalah pendekatan “keibuan”. Kepada anak-anaknya, seorang ibu tidak pernah membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Seorang ibu juga mampu mengayomi dan memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Seorang ibu juga selalu hadir dengan kelembutan dan kesejukan.

Terkadang, persoalan yang sering terjadi di wilayah dampingan adalah tidak terjalinnya hubungan yang baik dan harmonis antara masyarakat dan wilayah dampingannya. Jika ini terjadi tentu akan repot, bahkan bisa-bisa celaka. Saya mengibaratkan antara fasilitator dan masyarakat dampingan itu seperti struktur organ tubuh kita. Tubuh kita terdiri dari bermiliar-miliar sel kemudian dilengkapi dengan saraf, daging tulang belulang, bulu dan lain-lain. Setiap organ tubuh masing-masing memiliki tugas dan fungsi berbeda. Setiap saraf memiliki koneksi yang berbeda.

Sekarang coba bayangkan jika seandainya saraf BAB dan BAK kita “ngambek” kepada anus, apa yang akan terjadi? Kotoran di dalam perut akan menumpuk, badan lemas, kepala pusing, susah berjalan, dan seabreg persoalan lainnya akan terjadi. Ini hanya satu saraf saja bagaimana jika saraf yang lain juga melakukan hal yang sama—ngambek semua, bisa repot, jadi kacau, dan akhirnya bisa menyebabkan kematian. Padahal jika ditelisik ke atas, saraf tersebut hanya bermasalah terhadap organ tubuh bernama anus saja. Apa yang terjadi? Semua terkena dampak atas persoalan itu.

Inilah yang mesti kita jaga. Kita harus memastikan bahwa kehadiran kita sebagai fasilitator tidak boleh menambah beban warga dengan segudang permintaan yang harus ia siapkan. Tetapi bukan juga kita semua yang harus memfasilitasinya. Inilah yang dimaksud pemberdayaan kita harus pintar dan cerdik melihat situasi dan membagi peran. Memberdayakan bukan berarti menganiaya dan bisa tunjuk sana-sini seenaknya. Memberdayakan bukan berarti bisa datang semaunya, dan memberdayakan bukan berarti memberikan semua beban tugas kita kepada masyarakat.

Fasilitator CD dituntut memiliki seni dan jiwa sosial komunikasi yang baik. Ia harus bisa hadir di semua kalangan. Berbicara sederhana dengan penuh makna berbicara dengan santun dan harus dimengerti semua golongan. Sehingga, jangan sampai hanya karena perbedaan persepsi tentang pola bahasa dan tutur kata, terjadi miskomunikasi antarsesama.

Tugas dan fungsi fasilitator tidak hanya terhadap masyarakat. Di atas mereka, kita juga perlu membina hubungan yang baik dengan aparatur pemerintahan. Kita harus memastikan bahwa kehadiran kita di wilayah dampingan adalah membantu dan menjalankan pemerintahan yang baik. Artinya netralitas kita terhadap semua ras, suku dan agama mesti dipelihara. Saya berpikir sangat tidak dianjurkan jika fasilitator terlibat aktif dalam partai politik, sehingga kemudian menyebabkan ada kecenderungan yang justru bisa membawa malapetaka. Kalaupun setiap warga negara adalah pengguna demokrasi, tetapi kita tidak tergolong sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), jadi rasanya tidak perlu para Faskel gembor sana-sini dalam hal kepentingan politik agar tidak menimbulkan kegaduhan di kalangan masyarakat.

Fasilitator adalah tugas yang mulia. Sebuah pekerjaan yang secara tidak langsung turut terlibat aktif dalam memajukan dan menyejahterakan kemajemukan republik ini. Menikmati pekerjaan ini adalah sebuah keniscayaan. Saya rasa tidak ada masyarakat yang tidak bangga ketika kita hadir di tengah-tengahnya dan bercengkrama dengannya.

Alhasil, mudah-mudahan tulisan ini dapat membantu kita semua khususnya saya sebagai fasilitator di Kota Serang, Banten, untuk beritikad baik menjalankan amanat program. Dan, mudah-mudahan bagi teman-teman semua pembaca yang baik hatinya, semoga rezeki dalam kesempatan di kemudian hari kita bisa bercengkarama bersama tanpa ada jarak dan batas penghalang yang menghadang wajah berseri kita. Aamiin.. [Banten]

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.