Beranda Warta Artikel Fasilitator Sebaiknya Bangun Sense of Belonging Masyarakat Dampingan

Fasilitator Sebaiknya Bangun Sense of Belonging Masyarakat Dampingan

Comments (0) View (844)

Oleh:
Abdul Hakam
Kasatker Tanggap Darurat Permukiman
Direktorat Jenderal Cipta Karya

Kehadiran Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) memberi harapan kebutuhan masyarakat (basic needs) dapat terpenuhi, tertangani dan teratasi dengan baik. Terutama dalam bidang pemenuhan air bersih. Planologi atau tata kotanya sudah harus rapi, sesuai dengan kebutuhan perencanaan yang ada, disesuaikan dengan perencanaan, dimulai dari tingkat gampong sebagaimana karakter masing-masing gampong.

KOTAKU tetap mengedepankan proses yang dijalankan melalui pemberdayaan masyarakat. Program ini seharusnya dapat memberikan nilai pembelajaran yang tinggi bagi masyarakat, walau sejatinya pemberdayaan tidak jauh berbeda dengan program-program lainnya. Keberhasilan dari sebuah pemberdayaan akan sangat berbeda dengan kontraktor, misalnya, atau yang lainnya, karena sense of belonging masyarakat akan lebih besar, karena mereka yang membangun, mereka yang merencanakan. Keberhasilannya juga langsung bisa dirasakan. Berbeda dengan kontraktor.

Dengan pemberdayaan, pastinya ada fasilitator membantu menangani wilayah yang dianggap kumuh saat ini, tentunya akan mengarahkan agar masyarakat lebih arif terhadap kondisi lokalnya. Sehingga, apa yang mereka inginkan, dengan yang direncanakan lebih membumi. Bukan sekadar rencana yang kadang sangat tidak mungkin diwujudkan. Dengan pemberdayaan, sense of belonging bisa lebih besar. Bisa jadi angka anggaran yang ada lebih besar nilai swadayanya daripada anggaran yang dialokasikan.

Harapan saya kepada para pendamping KOTAKU, pendamping harus lebih pintar dalam mendekati masyarakat. Belajar dari masyarakat. Tidak egosentris, “Ini ilmu saya”. Harusnya bisa melihat dan menyesuaikan. Jangan terlalu men-judge maunya masyarakat. Harus bisa menstrategikan atau “mengawinkan” maunya masyarakat dengan maunya mereka.

Seringnya, cita-cita kearifan masyarakat “diambil” oleh fasilitator, hingga sense of belonging dari masyarakat hilang. Contohnya, yang biasa memakai kloset jongkok tiba-tiba dijadikan kloset duduk. Fasilitator harus cerdas mempelajari kearifan lokal yang ada. Fasilitator juga harus pandai meramu kombinasi antara kebutuhan masyarakat dengan keilmuan yang dimiliki. Bukan lantas karena memiliki keilmuan yang lebih tinggi daripada masyarakat, lantas bisa sesuka hati melakukan intervensi, karena itu bisa menjadi sesuatu yang di luar kewajaran bagi masyrakat.

Fasilitator hanya berfungsi sebagai pengarah saat ada kekeliruan perencanaan atau pemahaman, tapi tidak sampai melakukan pemaksaan keinginan dari si fasilitator terhadap kebutuhan masyarakat. Jika tidak, sense of belonging masyarakat terhadap pembangunan di gampongnya bisa hilang. [PL-Aceh]

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.