Beranda Warta Artikel Keuangan Inklusi bukan Ilusi

Keuangan Inklusi bukan Ilusi

Comments (0) View (830)
Oleh:
Tomy Risqi
Sub Specialist Institutional and Collaboration
NMC ICDD/KMP Wilayah I
Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Problem Statement dan Visi

FinTechStage adalah konferensi dengan format tidak biasa (unconventional) yang membangun jaringan kebersamaan secara unik dari para inovator yang obsesif yang mengendalikan enterpreneurship dan investasi dalam FinTechStage. Tujuannya adalah terkoneksi dengan tiga komunitas yaitu Fintech Startups, investor dan lembaga finansial (financial institutions) dan mengirimkan substansi dan jaringannya secara spesifik didesain sesuai kebutuhan mereka.

Kali ini pokok bahasan forum FintechStage adalah keuangan inklusif. Keuangan inklusif telah menjadi salah satu tujuan utama kebijakan keuangan di sejumlah negara; kurang lebih 60 negara telah berkomitmen untuk menjadikan tujuan eksplisit keuangan nasional masing-masing. Forum keuangan inklusif ini bertujuan untuk mempercepat gerakan kolaborasi dan berjaringan untuk menanggulangi kebijakan keuangan eksklusif (financial exclusion). Bagaimanapun inovasi dibutuhkan untuk membangun komitmen yang sering berbenturan dengan kerangka kerja yang telah ada (eksisting).

Disponsori oleh Gate Foundation dan Omidyar Network dan didukung oleh FinTechStage, Forum Keuangan Inklusif yang diagendakan selama 3 hari berorientasi untuk, pertama, mempercepat gerakan kolaborasi dan jejaring internasional untuk menanggulangi keuangan eksklusif dan membina dialog konstruktif diantara para inovator dengan para pengambil kebijakan (regulators). Kedua, membuat dan memotret best practices regulasi dalam pelaksanaan keuangan inklusif. Ketiga, membina dan memberikan dukungan program nasional dan pelaksanaannya yang memungkinkan peraturan berperan untuk mengelola keuangan inklusif di tingkat lokal. Keempat, meningkatkan investasi dan pembangunan pelayanan inovatif sebagai solusi yang mendukung keuangan inklusif. Kelima, membuka jalan (paving the way) bagi implementasi level satu di negara-negara sasaran

Proceeding Forum

Keynote 1 - Imperative for Financial Inclucion; perencanaan rasional untuk keuangan inklusif di Indonesia dalam konteks mereduksi sistem keuangan ekslusif. Komponen kunci perencanaan keuangan inklusif.

Dibuka oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai Keynote Speaker; Forum FintechStage pada hari kedua, 23 Maret 2017, di Jakarta Convention Centre Jakarta merumuskan gambaran targetnya. Hadir dalam Acara ini Tim dari KMP 1 KOTAKU, Advisory dan Tim Proyek, yaitu Team Leader (TL) KMP KOTAKU/NSUP wil.1 Ahmad Sriyanto, TA Manajemen Keuangan KMP KOTAKU wil.1 Ahmad Firdaus, Sub TA LG KMP KOTAKU wil.1 Tomy Risqi, Advisory Dikdik Herdiana dan Staf PPK KOTAKU wil.1 Hari Pratama Putra.

Adapun acara yang berhasil diikuti adalah acara pada hari ketiga, karena pada saat bersamaan, sedang dilaksanakan uji kompetensi di masing-masing provinsi, yang juga difasilitasi oleh pihak KMP dan Proyek.

Menurut Darmin, Indonesia akan mencapai target positif melalui keuangan inklusif untuk memperbaiki akses keuangan informal dan tradisional masyarakat terhadap fasilitas kredit (virtual). Keuangan inklusif berhubungan dengan sertifikasi tanah dan pelayanan pemerintah. Tantangannya adalah mengelola (managing) 36% penduduk Indonesia yang memiliki rekening di bank dalam konteks Digital Financial services. Forum FintechStage kali ini adalah putaran yang kedua setelah Fintech Festival tahun lalu yang dibuka oleh Presiden Jokowi.

Darmin optimis dapat menumbuhkan keuangan inklusif secara cepat. Tantangannya adalah membuat Keuangan inklusif untuk kepentingan pembangunan sosial dan ekonomi dalam waktu singkat untuk 36 % penduduk dan 74 % penduduk yang belum bankable.

Sementara itu sebagai Keynote speaker berikutnya Sri Mulyani mengatakan bahwa FinTech tidak hanya dapat meningkatkan akses ke keuangan, tapi juga dapat menciptakan kesamaan kesempatan terutama untuk kelompok vulnerable seperti perempuan, anak muda, ataupun orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran atau terpencil. Pada tahun 2011-2012, tercatat 6.31% perusahaan yang memulai usaha di bidang Fintech. Angka ini kemudian meningkat pada tahun 2015-2016, yaitu 77.84%. Ini bukan meningkat tetapi lompat.

Dengan jumlah pengguna internet yang lebih dari 100 juta di Indonesia, maka kami memiliki potensi yang sangat besar. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mampu menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi. Namun, pemerintah masih memiliki beberapa tantangan ke depannya. FinTech dapat menjadi salah satu sektor potensial untuk membantu pemerintah mengurangi hambatan-hambatan tersebut. Untuk meningkatkan pertumbuhan yang inklusif, Fintech dapat menghubungkan orang-orang dengan keterbatasan akses ke keuangan, melalui teknologi.

Diharapkan keuangan inklusif juga dapat mereduksi kemiskinan, memperbaiki kesetaraan, memperbaiki produktivitas, meningkatkan pendidikan, membuka akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan sosial (social protection). Salah satu contoh keuangan inklusif yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan layanan adalah Program Keluarga Harapan (Family Hope Program) yang menargetkan bagaimana memperbaiki kehidupan melalui pengurangan biaya tinggi (reduce cost) untuk memperbaiki pendapatan (income generating). Diharapkan nantinya diperoleh penngkatan pendapatan negara hingga 5 juta di Tahun 2017?

Setidaknya sektor Informal harus memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki bisnis mereka melalui payment system, teknologi informasi,  Peer to Peer (P2P) lending, dan fasilitasi pencapaian teknologi finansial. Semua itu dapat dilakukan dengan mempertemukan inovator dengan pemegang kebijakan (regulator) untuk memecahkan masalah bersama. Bahkan ada keinginan untuk mendorong keuangan inklusif di Indonesia hingga mencapai 23 miliar Dolar AS, melalui retail lending platform.

Ada 3 alasan yang mendasari dicanangkannya target tersebut, yaitu (1) mengubah pencapaian kebiasaan consumer di tahun 2016, (2) pembiayaan sektor domestik khususnya untuk kelas menengah ke bawah, (3) meningkatkan solusi pembiayaan (payment solution) dan pinjaman retail (retail lending) untuk merawat keberlanjutan upaya penanggulangan kemiskinan.

Tahun 2019, sesuai dengan arahan RPJMN, 75 % dari masyarakat Indonesia diharapkan mempunyai akses keuangan ke bank secara inklusif (bankable access) melalui beragam pola, salah satunya adalah peer to peer lending. Targetnya adalah untuk memperluas akses keuangan virtual rakyat Indonesia, mensinergikan isu-isu dan mencari model yang paling efektif menuju implementasi keuangan inklusif.

Opportunities and Enablers for Financial Inclusion. Pelaku ekonomi global dengan “akar lokal” Apa keuangan inklusif menurut mereka dan mengapa mereka percaya pada sistem itu?

Chairman of The Board of Commissioners, Indonesia Financial Services Authority (OJK) Muliaman Haddad mengatakan bahwa Fintech adalah model yang unik karena menggunakan pendekatan regulasi (regulatory send), FinTech industry untuk keberlanjutan, pencegahan terhadap kegagalan pasar (tidak hanya kepada consumer tetapi juga investor). Peraturan yang dibuat diharapkan terdiri atas peningkatan akses keuangan dan upaya perbaikan penghidupan rakyat (livelihood people).

Ketika teknologi bertemu dengan bisnis maka terhubunglah semua negara. Keuangan inklusif menyuntikkan kekuatan jaringan untuk mempercepat pencapaian SDGs. Financial inclusive terkait dengan peningkatan entrepreneurship, skill bisnis dan melek finansial (financial literacy), terutama anak-anak muda berpendidikan. Tercatat 25.171 enterpreneur terlibat dalam sistem keuangan inklusif ini.

Sementara itu, CEO HSBC Summit Duttamengatakan bahwa Trust adalah sesuatu yang mendasar (fundamental) dalam pengelolaan financial inclusive. Menurutnya kunci sukses untuk membuat pola perbankan digital adalah adanya internet, mobile banking, Voice ID security, Touch ID, dan Digital Signature.

Mengamini Dutta, Global Head, Digitisation and Client Access, Standard Chartered Bank Gautam Jain mengatakan, yang memengaruhi keuangan inklusif adalah hasrat (financial Inclusion is passion). Uang cash bisa diubah menjadi digital tanpa perlu regulasi. Itu fakta. Coba saja sekarang dicek, berapa jumlah regulasi yang meminta untuk mentransformasikan kebiasaan masyarakat dari bertransaksi secara cash menjadi virtual money? Tidak ada satupun. Nothing. Zero. Karena transformasi keuangan inklusif itu digerakkan oleh passion, bukan peraturan.

Keuangan inklusif mempromosikan perdagangan (trade and commerce), meningkatkan pertumbuhan secara bertahap (gradually), dan menggairahkan digital financial. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana digital financing bekerja untuk memperbaiki sistem ekonomi dan sosial?

Sebagai founder dan CEO Matchmove Enterpreneur Sailesh Naik, bersama Ecosystem Director Kabir Kumar, dan kebijakan memercayakan teknologi dan trust sebagai kunci dalam membangun perubahan. Sebuah momentum besar untuk menggerakkan keuangan inklusif.

Perbedaan individu, bisnis dan pemerintah dalam mengelola keuangan inklusif adalah pada dua pertanyaan mendasar mengapa dan bagaimana. Jika individu beralasan bahwa transparansi pengelolaan akan meningkatkan kesejahteraan, pengusaha berkepentingan untuk menggerakkan pengelolaan keuangan inklusif untuk meningkatkan efisiensi dalam kompetisi global, maka Pemerintah berkepentingan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui integrasi dan akuntabilitas.

Manfaat Keuangan Inklusif bagi individu, Swasta, dan Pemerintah

Aspect Individu Business Government
Why Access to prosperity
Efficiency in global competitiveness Integrity and Accountability
How Earning, saving, spending, investing, borrowing, managing, gifting Enabling tech Interoperable, ubiquitous

Mengapa Perlu Keuangan Inklusif? 

Berbagai alasan menyebabkan masyarakat menjadi unbanked, baik dari sisi supply (penyedia jasa) maupun demand (masyarakat), yaitu karena price barrier (mahal), information barrier (tidak mengetahui), design produk barrier (produk yang cocok) dan channel barrier (sarana yang sesuai). Keuangan inklusif mampu menjawab alasan tersebut dengan memberikan banyak manfaat yang dapat dinikmati oleh masyarakat, regulator, pemerintah dan pihak swasta, antara lain sebagai berikut:

  1. Meningkatkan efisiensi ekonomi.
  2. Mendukung stabilitas sistem keuangan.
  3. Mengurangi shadow banking atau irresponsible finance.
  4. Mendukung pendalaman pasar keuangan.
  5. Memberikan potensi pasar baru bagi perbankan.
  6. Mendukung peningkatan Human Development Index (HDI) dan SDGs.
  7. Berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional yang sustain dan berkelanjutan.
  8. Mengurangi kesenjangan (inequality) dan rigiditas low income trap, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya berujung pada penurunan tingkat kemiskinan.

Apa yang bisa dikembangkan dalam NSUP (KOTAKU)

Menurut Ahmad Sriyanto dan Ahmad Firdaus, aspek-aspek yang dapat dikembangkan oleh KOTAKU (NSUP) sebelum pengembangan layanan keuangan digital maka harus meningkatkan kapasitas: (1) Edukasi finansial pada masyarakat untuk mendorong peningkatan literasi financial; (2) Sambungan komunikasi mobile, operator telekomunikasi; (3) Intermediasi keuangan; (4) Sektor pemerintah sebagai regulator; (5) Perlindungan nasabah. Sedangkan beberapa faktor yang harus dipersiapkan bagi masyarakat dalam menyongsong layanan keuangan digital ini adalah Llterasi tentang keuangan, literasi tentang transaksi digital, kecakapan berbisnis dan jiwa kewirausahaan. [KMP-1]

Bahan bacaan terkait:

  • DFS, Peluang dan Kemungkinan Penerapannya di Program KOTAKU

Dokumentasi lainnya:

Grafis Financial Inclusion Framework dalam FinTechStage Forum
yang digambarkan oleh Artis selama Forum berlangsung

Lampiran Jadwal FinTech Stage Hari kedua; 23 Maret 2017

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.