Beranda Warta Artikel P2BM Media Bangun Kemandirian Warga

P2BM Media Bangun Kemandirian Warga

Comments (0) View (904)

Oleh:
Ellyn Citra Putranti
Askot MK
Korkot 1 Kabupaten Jombang
OSP 6 Jawa Timur
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Menata kota yang asri, bersih dan nyaman tak cukup hanya dikaitkan dengan persoalan infrastrukturnya saja. Perilaku sosial dan ekonomi juga memiliki peran di dalamnya. Penataan yang berdimensi fisik lebih mudah ketimbang penataan Sumber Daya Manusia (SDM). Semuanya menjadi kesatuan yang tak terpisahkan.

Meminjam bahasanya Max Wertheimer (1880-1943), hal tersebut di atas, dalam teori psikologi dikenal dengan istilah “Gestalt”. Kita membicarakan jari hubungannya dengan tangan. Kita membicarakan jari hubungannya dengan badan. Membicarakan satu berarti membicarakan semuanya.

Pertanyaannya adalah apakah uang bisa menyelesaikan lingkungan yang kumuh? Apakah uang bisa mengubah perilaku seseorang dengan lingkungannya? Apakah uang bisa menuntaskan aneka ragam permasalahan, baik dari sisi lingkungan maupun orang yang hidup di sekitarnya?

Semuanya butuh uang, tetapi uang bukan segalanya untuk melahirkan lingkungan yang sehat dan teratur. Infrastruktur beserta warga penghuninya adalah sama pentingnya dalam penataan lingkungan yang sehat. Keduanya berkelindan seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Tentunya butuh perjuangan yang lebih, dalam konteks Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Karena kreasi dalam berkolaborasi menjadi titik pangkal mewujudkan penataan kota yang apik. Berbeda dengan PNPM, dimana masyarakat sudah “terbiasa” menerima sejumlah dana yang diberikan oleh program.

Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kita, sebagai pelaku program. Tantangan agar kreasi tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Tidak hanya mengandalkan dana bantuan dari pemerintah. Menjadi peluang, karena ruang gerak dalam melakukan sinergi dan kolaborasi semakin terbuka lebar. Tinggal kita bagaimana menyikapi keberadaan ini.

Dalam Program KOTAKU, peningkatan dan pencegahan menjadi dua tangga yang sama-sama dibutuhkan. Keduanya harus berdiri tegak dan tidak boleh panjang sebelah ataupun pendek sebelah, agar ketimpangan tidak terjadi. Substansinya adalah pengurangan luasan kumuh harus berimbang dengan pencegahan, agar tidak tumbuh kawasan kumuh baru. Dalam hal ini, keberdayaan, kreasi dan kemandirian warga mutlak diperlukan. Maka Pengembangan Penghidupan Berbasis Masyarakat (P2BM) menjadi salah satu langkah agar Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) bisa mandiri dan sejahtera.

Implementasi dan orientasi P2BM tak semudah membalikkan telapak tangan. Sejarah kelam masa lalu mengenai KSM ekonomi bergulir menjadi alasan logis yang seringkali disampaikan oleh warga bahwa berkelompok yang ada kaitannya dengan uang ternyata sulit. Warga lebih leluasa dan tak ada beban saat meminjam kepada rentenir dengan bunga melangit ketimbang meminjam ke UPK dengan jasa 1,5%, tetapi harus berkelompok. Alasan inilah yang sering kita dengar dan kita jumpai saat menghadiri sosialisasi P2BM.

Lantas apakah kita menyerah, mengamini dengan alasan warga tadi? Tentu kegagalan KSM masa lalu menjadi spirit pembelajaran bagi kita. Bahwa sejatinya yang kita gagas, sosialisasikan tidak hanya “gerombolan” yang semata-mata meminjam uang. Yang kita cari dan sosialisasikan adalah bagaimana warga sebagai sumber potensial bisa diajak menggali potensi dirinya, desanya, lingkungannya, serta peluang yang ada. Sehingga, visi untuk menjadi semakin baik lahir dengan sendirinya.

Jika uang dan kelompok menjadi penyakit akut yang menembus pori-pori masyarakat. Pendekatan yang kita lakukan adalah menumbuh-kembangkan kreasi. Kapasitas masyarakat yang berkaitan dengan jenis usaha produktif sesuai dengan kearifan lokal yang ada.

Berkelompok bukan semata-mata untuk meminjam uang. Berkelompok karena ingin bertemu dengan sahabat, teman, tetangga, sebab ada kegiatan yang dinilai bermanfaat bagi dirinya, tentu berdampak pada pendapatannya nanti. Mungkin banyak model alternatif lain melakukan rekayasa sosial lain, yang memungkinkan mengubah masyarakat yang awalnya pasif menjadi aktif. Masyarakat yang reaktif menjadi responsif. Masyarakat yang konsumtif menjadi produktif.

Salah satu media yang kita sediakan adalah P2BM. Dengan media ini masyarakat mampu berpikir jauh ke depan. Masyarakat lebih kreatif dan inovatif dalam menyikapi potensi yang ada. Jika harus meminjam uang, uang tersebut bukan untuk keperluan konsumtif melainka sebagai tambahan modal dalam meningkatkan usahanya.

P2BM akan menguap ditelan waktu jika rekayasa sosial dan pendekatan yang kita lakukan tidak cocok, bahkan tidak mendapatkan respon positif dari masyarakat. Beberapa syarat, misalnya SDM (human capital), sumberdaya sosial (social capital), SDA (natural capital), sumber daya fisik (phisical capital) dan sumber daya keuangan (financial capital) sejatinya menjadi salah satu penyangga kesadaran masyarakat untuk bisa terlibat dalam kelompok sebagai bibit lahirnya KSM sejati, yang berorietasi pada penghidupan (livelihood) jangka panjang dan berkelanjutan.

Berbicara livelihood, tentu tidak sekadar persoalan orang miskin dan pendapatan secara individual semata. Lebih dari itu, berbicara livelihood berarti menjadikan P2BM panggung bersama bagi masyarakat MBR, agar jerat kemiskinan bisa segera berakhir.

Adalah Robert Chamber dan Gordon Conway yang mengatakan tentang penghidupan yang berkelanjutan adalah mata pencaharian yang terdiri atas kemampuan, aset (toko, sumber daya, klaim dan akses) serta kegiatan yang dibutuhkan untuk sarana hidup; Penghidupan berkelanjutan yang dapat mengatasi dari pulih dan stres dan guncangan, mempertahankan atau meningkatkan kemampuannya dan aset, dan memberikan peluang mata pencaharian yang berkelanjutan bagi generasi penerus; dan yang memberikan kontribusi manfaat bersih bagi mata pencaharian lainnya di tingkat lokal dan global dan dalam jangka pendek dan panjang.

Merujuk pada fakta tersebut, P2BM adalah media, sarana belajar dalam meningkatkan kapasitas warga, utamanya MBR. Belajar menggali potensi dan sumberdaya penghidupannya, belajar mengelola lingkungannya, belajar menemukenali persoalan kritis yang ada, belajar menumbuh-kembangkan tradisi menabung, dan belajar bahwa berkelompok (berorganisasi) merupakan salah satu cara yang efektif untuk mempercepat kemandirian warga. [Jatim]

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.