Beranda Warta Artikel Menelisik Struktur Kota Kuno Mahenjo Daro vs Indikator Kumuh KOTAKU

Menelisik Struktur Kota Kuno Mahenjo Daro vs Indikator Kumuh KOTAKU

Comments (0) View (780)

Oleh:
Untari
Subprof Capacity Building
KMW/OC 2 Provinsi Jambi
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Pemerintah Indonesia saat ini sedang membangun gerakan nol kawasan kumuh di seluruh Indonesia. Mengacu pada Surat Edaran Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 40/SE/DC/2016 tentang Pedoman Umum Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) bahwa pada tahun 2016 masih terdapat 35.291 Ha permukiman kumuh perkotaan yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia, sesuai hasil perhitungan pengurangan luasan permukiman kumuh perkotaan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Angka luasan kumuh tersebut telah ditetapkan dalam RPJMN dan menjadi sasaran RPJMN untuk mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh (nol kawasan kumuh) di seluruh Indonesia di tahun 2019. Penanganan kawasan kumuh tersebut salah satunya dilaksanakan melalui Program National Slum Upgrading Program (NSUP) atau Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU).

Definisi Kumuh

Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman dijelaskan bahwa permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat, sedangkan Perumahan Kumuh adalah perumahan yang mengalami kualitas fungsi sebagai tempat hunian.

Dari pengertian tersebut dapat dirumuskan karakteristik perumahan kumuh dan permukiman kumuh dari aspek fisik, sebagai berikut, pertama, merupakan satuan entitas perumahan dan permukiman. Kedua, kondisi bangunan tidak memenuhi syarat, tidak teratur dan memiliki kepadatan tinggi. Ketiga, kondisi sarana dan prasarana tidak memenuhi syarat. Khusus untuk bidang keciptakaryaan, batasan sarana dan prasarana adalah (a) Jalan Lingkungan, (b) Drainase Lingkungan, (c) Penyediaan Air Bersih/Minum, (d) Pengelolaan Persampahan, (e) Pengelolaan Air Limbah, (f) Pengamanan Kebakaran, dan (g) Ruang Terbuka Publik.

Karakteristik tersebut menjadi dasar perumusan kriteria dan indikator dari gejala kumuh dalam proses identifikasi lokasi perumahan kumuh dan permukiman kumuh. Dengan kata lain terdapat 7 (plus 1) indikator kumuh yang akan “disentuh” dalam menangani perumahan dan permukiman kumuh. Hasil akhir yang ingin dicapai dalam penanganan perumahan dan permukiman kumuh adalah meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di permukiman kumuh perkotaan untuk mendukung terwujudnya permukiman kota yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.

Ratusan tahun yang lampau sebelum penanganan kumuh digaungkan, tepatnya sekitar 2600 Sebelum Masehi (SM), berdiri sebuah kota kuno, yang struktur kotanya memiliki penataan dan perencanaan baik, serta sangat didasarkan pada kebutuhan masyarakat (warga kota). Para ahli mengklaim, kota kuno ini merupakan kota yang telah mempunyai peradaban tinggi pada masa itu.

Kota kuno tersebut bernama Mohenjo-daro. Kota ini merupakan salah satu situs dari sisa-sisa permukiman terbesar dari Kebudayaan Lembah Sungai Indus yang terletak di Provinsi Sind Pakistan. Diyakini, Mohenjo-daro adalah salah satu permukiman kota pertama di dunia, bersamaan dengan peradaban Mesir Kuno, Mesopotamia dan Yunani Kuno. Reruntuhan bersejarah ini dimasukkan oleh UNESCO ke dalam Situs Warisan Dunia. Mohenjo-daro, yang berarti "bukit orang mati", disebut-sebut sebagai "Metropolis Kuno di Lembah Indus".

Pada puncak kejayaannya, Mohenjo-daro adalah kota yang terbangun paling maju di Asia Selatan, bahkan mungkin juga di dunia. Perencanaan dan tekniknya menunjukkan kepentingan kota ini terhadap masyarakat Lembah Indus. Peradaban Lembah Indus (c. 3300-1700 SM, f. 2600-1900 SM) merupakan sebuah peradaban sungai kuno yang berkembang di Lembah Sungai Indus di India Kuno (kini di Pakistan dan India Barat Laut). Peradaban ini juga dikenal sebagai "Peradaban Harappa."

Pemukiman Peradaban Indus tersebar sejauh pantai Laut Arab di Gujarat (di Selatan), perbatasan Iran di Barat dengan kota perbatasan di Bactria. Di antara permukiman-permukiman itu pusat kota utama berada di Harappa dan Mohenjo-daro dan Lothal.

Miniatur rumah masa Mohenjo-daro

Struktur Kota Mahenjo-daro

Tata Bangunan

Mohenjo-daro memiliki bangunan yang luar biasa karena memiliki tata letak terencana dan tersusun secara rapi, berbasis grid jalanan yang tersusun menurut pola sempurna. Pada puncak kejayaannya kota ini dihuni sekitar 35.000 orang. Bangunan-bangunan di kota ini begitu maju dengan struktur-struktur yang terdiri dari batu-bata buatan lumpur dan kayu bakar terjemur matahari yang merata ukurannya.

Bangunan Publik

Bangunan-bangunan publik di kota ini adalah lambang masyarakat yang sangat terencana. Bangunan yang bergelar Lumbung Besar di Mohenjo-daro, menurut interpretasi Sir Mortimer Wheeler pada tahun 1950, dirancang dengan ruang-ruang untuk menyambut gerobak yang mengirim hasil tanaman dari desa. Ada juga saluran-saluran pendistribusian udara untuk mengeringkannya. Akan tetapi, Jonathan Mark Kenoyer memerhatikan, tidak ada catatan mengenai keberadaan hasil panen dalam lumbung ini. Maka dari itu, Kenoyer mengatakan lebih tepat untuk menjulukinya sebagai "Balai Besar".

Permandian Umum

Di dekat “lumbung” tersebut ada sebuah bangunan publik yang pernah berfungsi sebagai permandian umum besar, yaitu sebuah kolam kedap air yang disebut “Great Bath”, dengan tangga turun ke arah kolam berlapis bata, di dalam lapangan berderetan tiang. Wilayah permandian berhias ini dibangun dengan baik, dengan lapisan tar alami yang menghambat kebocoran di samping kolam di tengah-tengah. Kolam berukuran 12 m x 7 m dengan kedalaman 2,4 m ini mungkin digunakan untuk upacara keagamaan atau kerohanian.

Drainase, Sanitasi dan Air Bersih

Jaringan jalan dan sistem drainase yang terencana dan rumit mengisyaratkan bahwa penghuni kota telah menata dengan baik untuk mengontrol air. Sumur ditemukan di seluruh kota, dan hampir setiap rumah terdapat area mandi dan sistem drainase. Di dalam kota, air dari sumur disalurkan ke rumah-rumah. Beberapa rumah dilengkapi dengan kamar yang terlihat ditetapkan sebagai tempat untuk mandi. Air buangan disalurkan ke selokan tertutup yang membarisi jalan-jalan utama. Pintu masuk rumah hanya menghadap lapangan dalam dan lorong-lorong kecil. Ada berbagai bangunan yang hanya setinggi satu dua tingkat.

Saluran pembuangan limbah dari kamar mandi dan jamban dihubungkan langsung dengan saluran umum yang dibangun dan dialirkan ke bawah jalan, dimana setiap lorong terdapat saluran air yang mengalir ke sungai. Sebagai kota pertanian, Mohenjo-daro juga bercirikan sumur besar dan pasar pusat. Kota ini juga memiliki sebuah bangunan yang memiliki hypocaust (semacam alat pemanas air seperti tungku) yang kemungkinan digunakan untuk memanaskan air mandi.

Tata Ruang dan Banjir

Mohenjo-daro adalah sebuah kota yang cukup terlindungi. Walau tak ada tembok, tapi terdapat menara di sebelah barat pemukiman utama dan benteng pertahanan di selatan. Perbentengan tersebut dan struktur kota-kota lain di Lembah Indus seperti Harappa, menimbulkan pertanyaan apakah Mohenjo-daro memang pusat administrasi.

Harappa dan Mohenjo-daro memiliki arsitektur yang mirip dan tidak berbenteng kuat seperti situs-situs lain di Lembah Indus. Jelas sekali dari tata ruang di semua situs-situs Indus, bahwa ada suatu pusat politik atau administrasi hanya saja tidak jelas lagi sejauh mana jangkauan dan fungsi pusat administrasi tersebut.

Mohenjo-daro telah dimusnahkan dan dibangun kembali setidaknya tujuh kali. Setiap kali, kota baru dibangun terus di atas kota lama. Banjir dari Sungai Indus diduga menjadi penyebab utama kerusakan. Kota ini terbagi atas dua bagian, yaitu Benteng Kota dan Kota Hilir.

Kebanyakan wilayah Kota Hilir masih belum ditemukan. Di Benteng Kota terdapat sebuah permandian umum, struktur perumahan besar yang dirancang untuk menempatkan 5.000 warga dan dua dewan perhimpunan besar. Mohenjo-daro, Harappa dan peradaban masing-masing lenyap tanpa jejak dari sejarah sampai ditemukan kembali pada 1920-an. Penggalian besar-besaran dilakukan di situ pada 1920-an, namun tidak ada penggalian secara mendalam yang dilakukan lagi sejak tahun 1960-an.

Jika melihat struktur kota Mahenjo-daro, kota yang diakui telah mempunyai peradaban tinggi, sebagian besar indikator-indikator kumuh yang akan ditangani oleh pemerintah Indonesia telah diwujudkan dalam pembangunan kota. Mulai dari penataan bangunan, drainase, air, pembuangan limbah, bangunan publik.

Saya tidak sedang membandingkan persamaan dan perbedaan indikator dalam konsep kota layak huni tujuan pemerintah Indonesia dan struktur kota Mahenjo-daro. Masing-masing menyusun konsep tata kota sesuai kebutuhan masyarakatnya di masanya. Setidaknya kita bisa belajar bahwa kota kuno Mahenjo-daro yang telah diakui oleh para ahli mempunyai peradaban tinggi, menyusun struktur dan perencanaan kota dengan membangun infrastruktur yang hampir sama dengan indikator-indikator kumuh yang akan ditangani oleh pemerintah Indonesia saat ini melalui Program KOTAKU. [Jambi]

Catatan sumber:

  1. Surat Edaran Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 40/SE/DC/2016 Tentang Pedoman Umum Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
  2. Blog byutisweet , 24 JANUARI 2013; Kehancuran Peradaban Mohenjo Daro – Harappa, India Karena Banjir?
  3. Blog marizkaaghs.wordpress.com; Mohenjo-daro dan Harappa
  4. Blog fariable.blogspot.co.id; Reruntuhan Kota Mohenjo-daro Sejarah Peradaban Sungai Indus
  5. Website nationalgeographic.co.id; 11 juli 2014; Sistem Drainase Tertata di Peradaban Kuno Mohenjo-daro
  6. Blog hafidzalafaf.blogspot.co.id; Mohenjo-daro dan Harappa
  7. Blog arsitekturis.blogspot.co.id; Peradaban Mohenjo-daro
  8. Website id.m.wikipedia.org; Mohenjo-daro

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.