Beranda Warta Cerita Perjalanan ke Pulau Putri (1): Impian Janda di tengah Ombak Ganas

Perjalanan ke Pulau Putri (1): Impian Janda di tengah Ombak Ganas

Comments (0) View (2940)

P

PULAU RAAS, menurut banyak cerita yang saya terima dari masyarakat, dikenal sebagai ‘Pulau Putri’. Hal ini disebabkan karena banyaknya janda-janda yang ditinggal mati suaminya akibat keganasan gelombang laut, saat sang suami mengarungi samudra luas guna menghidupi keluarga. Begitu pula, banyak istri-istri muda yang harus menunggu berbulan-berbulan atas kedatangan suami, yang pergi mencari nafkah di tengah laut.

Cerita ini membuat saya tertarik, penasaran, sekaligus susah tidur pada saat malam menjelang keberangkatan mengunjungi Pulau Raas. Duduk melingkar diselingi senda tawa, minum kopi dan merokok, sembari mengingat cerita tentang Pulau Raas, membuat saya dan teman-teman Faskel berkesimpulan bahwa Pulau Raas adalah surga di tengah gelombang samudra yang dahsyat. Semuanya pun lantas berangan-angan yang indah-indah, untuk dapat tinggal lama di Pulau Raas, khususnya selama proyek.

Namun, angan-angan itu berganti kecemasan dan kekhawatiran tatkala ombrolan kecil itu mengarah pada besarnya gelombang laut yang harus dilalui dalam perjalanan dari Sumenep ke Pulau Raas. Di tengah kekalauan itu, saya mengambil peta Kabupaten Sumenep untuk melihat titik-titik rawan. Kebetulan siangnya, saya dan teman-teman Faskel menyempatkan diri ke kantor BMG guna meminta petunjuk prakiraan cuaca laut demi keselamatan perjalanan ke Pulau Raas.

Menurut keterangan pihak BMG, gelombang laut antara Sumenep dan Pulau Raas mencapai 2,5 meter serta ada 2 titik yang harus di waspadai yaitu antara Dungkek dan Pulau Giliyan, antara Giliyan dan Pulau Sepudi, antara Sepudi dan Pulau Raas. Menanti keberangkatan, tak terasa, malam pun larut dan tanpa disadari, satu persatu obrolan lenyap berganti suasana nyenyaknya tidur.

Sekitar pukul 06.00 WIB, saya bergegas bangun tidur, mandi untuk bersiap-bersiap berangkat ke Pulau Raas. Pukul 07.00, kami bersama dengan rombongan Bappeda Kabupaten Sumenep yang akan menghadiri Lokakarya P2KP Kecamatan Raas, tengah menuju pelabuhan Dungkek. Tidak seperti pelabuhan-pelabuhan lain yang saya bayangkan, pelabuhan Dungkek sangat tradisional. Semua yang bersandar adalah perahu-perahu rakyat tradisional yang serba manual.

Saya sempat membayangkan, betapa menakutkannya perjalanan ini. Laut yang luas, tekanan ombaknya yang tergolong besar, bahkan menurut BMG, perjalanan ke Raas harus melewati jalur-jalur berbahaya karena tekanan 2 samudra yang membuat pusaran berbahaya di tengah laut. Sementara, ini hanya dilalui dengan perahu tradisional yang apa adanya.

Masyarakat dan pekerja yang berlalu-lalang di pelabuhan, terlihat sibuk menaikkan barangnya ke atas perahu. Mereka nampak ceria seakan-akan lalu lintas ke Pulau Raas sebagai hal yang biasa. Mungkin mereka telah terbiasa, tidak seperti rombongan P2KP yang kala itu nampak gelisah karena kekhawatirannya sendiri.

Menurut salah satu pemilik toko pracangan di sekitar lokasi, pelabuhan Dungkek memang merupakan lalu-lintas masyarakat antara Sumenep Pulau Raas, Pulau Gilian dan Pulau Sapudi. Kebutuhan sehari-hari masyarakat Raas, Sapudi dan Gilian seperti sembako, diangkut dari pelabuhan ini oleh para pedagang. Sehingga, pelabuhan Dungkek otomatis menjadi pusat lalu lintas laut antara Sumenep, Raas, Sapudi dan Gilian.

Selain itu juga, saya kerap melihat lalu-lalang masyarakat dan kendaraan yang mengangkut barang-barang dagangan dalam jumlah sangat besar, bahkan hampir tidak seimbang dengan kondisi pelabuhan dan perahu tradisional yang ditumpangi. Saya sempat bertanya kepada salah seorang personil Bappeda, apakah ada upaya pemerintah Kabupaten Sumenep untuk membangun pelabuhan Dungkek serta menyediakan kapal yang lebih representatif.

Atas pertanyaan saya tersebut, sang personil Bappeda menjawab bahwa upaya ke arah itu sebenarnya ada mengingat semakin tingginya kebutuhan transportasi ke Raas. Namun, lanjutnya, kendala Pemerintah Daerah adalah masalah anggaran. Pembicaraan tentang ini lantas terputus karena pemilik perahu yang akan berangkat ke Raas, telah memanggil kami untuk segera naik perahu. Dengan perasaan setengah khawatir, saya menuju perahu sembari berharap, perjalanan ini akan lancar dan menyenangkan. (Bersambung)

(Penulis: Abdussalam, Asisten Korkot 3 Pamekasan-Sumenep KMW 16 (2/2); Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.