Beranda Warta Cerita Perjalanan ke Pulau Putri (3-habis): Tak Terlupakan

Perjalanan ke Pulau Putri (3-habis): Tak Terlupakan

Comments (0) View (1299)

L

LOKAKARYA Kecamatan Raas berakhir sekitar pukul 15.00 WIB, yang dilanjutkan dengan berjalan-jalan untuk mengamati langsung kondisi masyarakat Raas. Saya melihat bahwa penduduk Raas lebih banyak wanita daripada laki-lakinya. Banyak rumah-rumah yang isinya hanya kaum perempuan. Kemudian saya menyempatkan diri masuk ke salah satu rumah di Desa Alasmalang.

Dalam rumah tersebut tinggal hanya seorang ibu dan ketiga anaknya. Saya mencoba bertanya, ”Bapak dek kimmah Buk? (Bapak kemana Bu--red). “Bapak entar ka tasek nyareh pesse (Bapak ke laut mencari uang--red),” jawab sang ibu. “Bileh deteng? (kapan datang?--red),” tanya saya lagi. “Biasanah samenggu Pak, manabi jeu dubulan tapeh sateah amit paleng abit samenggu (biasanya seminggu baru datang, tapi kalau jauh, bisa 2 bulan, Bapak kemarin pamitnya 1 minggu--red),” jawabnya. Rumah tangga ini salah satu gambaran masyarakat raas yang rela meninggalkan keuarganya demi keluarganya.

Selasa, 1 Februari 2005. Setelah makan pagi di rumah Kepala Desa Karopoh, saya dan rombongan menuju pelabuhan Karopoh untuk pulang ke Sumenep. Perjalanan pulang menyisakan 5 orang dari 10 orang saat keberangkatan. Ini disebabkan karena 5 orang Tim Faskel, harus tinggal disana.

Angin berhembus dengan kecepatan 70 km/jam, membuat saya agak khawatir karena tidak seperti biasanya, angin begitu kencang. Namun, perjalanan tetap harus dilanjutkan karena Rabu, 2 Februari 2005, saya dan Korkot harus menghadiri lokakarya Kecamatan Pamekasan.        

Pukul 09.30 WIB, perahu yang saya tumpangi, perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan Karopoh dengan melintasi batu-batu karang. Setengah jam perjalanan, sekitar 7 km dari pelabuhan Karopoh, gelombang laut mulai terasa menggoyang perahu. Tidak seperti perjalanan saat berangkat, kali ini cuaca buruk. Angin disertai awan hitam dan petir. Arah angin ke timur, sementara arah perjalanan ke Sumenep berlawanan yakni arah barat. Kondisi sedemikian menyebabkan perahu berhadapan dengan angin dan gelombang laut.

Dua jam kemudian, pada posisi diantara Pulau Raas dan Sapudi, gelombang air laut mencapai 3 meter. Di tengah gelombang yang menggunung, tiba-tiba mesin perahu mati karena bolang-balingnya tersangkut sesuatu. Selama 20 menit, perahu terombang-ambing gelombang. Saya dan kawan-kawan hanya saling berpandangan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Beberapa saat dilanda kekhawatiran, saya sempat agak lega karena mesin perahu sudah bisa hidup lagi, perjalanan pun kembali dilanjutkan.

Namun, kembali kami harus menunduk dan pasrah karena gelombang kemudian datang dan bertambah keras. Saya mencoba mendekati nahkoda dan mencoba mengajak untuk kembali apabila gelombang bertambah besar. Jawaban sang nahkoda mencengangkan saya, “Kita sudah di tengah-tengah laut, maju kena mundur kena, lebih baik tenang saja semuanya akan baik-baik saja.” Saya naik lagi dan mencoba untuk memenangkan diri.

Setengah jam kemudian, tiba-tiba perahu diserang gelombang dari kiri kanan, depan dan belakang. Ini mengakibatkan perahu meninggi sekitar 4 meter kemudian miring dengan sekitar 50° kemiringan. Gelombang semacam itu terus berlangsung sepanjang perjalanan antara Pulau Raas dan Sapudi serta antara Sapudi dan Gilian, dengan memakan waktu sekitar 3 jam.

Setelah posisi berada di daerah Gilian dan Dungkek Sumenep, gelombang mulai agak tenang. Berkali-kali saya mengucapkan Alhamdulillah karena Allah telah melindungi perjalanan kami hingga selamat, meski jantung sempat terpacu ketakutan. Sekitar pukul 16.30 WIB, perahu merapat di pelabuhan Dungkek. Kami melanjutkan perjalanan menuju Kantor dan tiba sekitar pukul 17.00 WIB. Sungguh, pengalaman perjalanan yang tak terlupakan. (Selesai)

(Penulis: Abdussalam, Asisten Korkot 3 Pamekasan-Sumenep KMW 16 (2/2); Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.