Beranda Warta Cerita Bertandang ke ‘Hawai’

Bertandang ke ‘Hawai’

Comments (0) View (1203)

“SEMUA Senior Faskel di KMW 14, kini telah mempunyai alamat e-mail. Itu terjadi setelah mereka semua berkunjung ke Hawai, pada hari Jum’at, 11 Maret 2005, dengan dipandu oleh Pak Revanisa dari KMP”.

Begitu bunyi pesan ringkas yang masuk ke e-mail KMW 14. Hawai? Memangnya, Fasilitator pada piknik ke Hawai? Lalu, Pak Revanisa dari KMP. Siapa itu? Yah, mohon dicatat, pernyataan itu akurat dan benar, asal dipahami sesuai konteksnya. Dan, konteksnya, akan disajikan komplit dalam catatan di bawah ini.

Memang, pada Jumat itu, semua Senior Faskel KMW 14 (2/1), dikumpulkan di sebuah tempat di depan Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, untuk  mengikuti Pelatihan SIM P2KP. Sehari penuh, ke-40 orang itu, berkutat di depan komputer, sesuatu yang tidak asing lagi, dan kemudian, diteruskan esoknya di KMW.

Lho, jadi tidak ada yang melancong ke Hawai, ya? Jangan silap, tempat pelatihan SIM P2KP di wilayah ini bernama Hawai Internet Café, yang terletak di Jalan Sutami, Solo! Ooh, begitu..

Bagi sebagian teman, ada pengalaman yang 100% baru, dan itu, diperoleh pada hari itu, yakni membuka internet secara mandiri, masuk ke situs P2KP, menulis tanggapan di Mimbar Bebas, mampir ke situs Bank Dunia, men’download’ buku tentang partisipasi dan kemiskinan, nongkrong sebentar di ‘mailing-list’, khusus bagi pemerhati serius P2KP, yakni yang disebut ‘kompak-p2kp’, lalu, juga ‘berselancar’ ke sana-sini.

East-West Centre di Hawai, juga diselancari lewat dunia maya internet. Seorang teman sempat juga melongok situs Illuminati. Di Indonesia, bahkan juga di seluruh dunia, situs itu amat populer setelah penulis jenius Dan Brown menerbitkan ‘The DaVinci Code’, sebuah buku ‘pengguncang iman’, yang juga sudah diindonesiakan (dan sudah cetak ulang 10 kali).

Sempat muncul juga kegundahan diantara beberapa rekan. Menjelang acara dimulai, beberapa teman sempat skeptis. “Bukankah kita sudah tiap bulan mengisi SIM? Untuk  apa lagi pelatihan diadakan?” ujar beberapa teman.

Ternyata ada hal penting dan bersifat darurat kali ini. Yakni, adanya ‘tenggat’ yang diberikan Bank Dunia, mengingat banyaknya data kosong pada P2KP, misalnya, pada item informasi umum mengenai cakupan wilayah, penduduk, warga miskin di desa/kelurahan penerima P2KP. Jika pada 17 Maret 2005 data tersebut masih kosong, maka sanksi akan dijatuhkan ‘tanpa kompromi lagi’, yakni penundaan pemberian gaji.

Pak Adi Revanisa, SIM maintenance KMP, menegaskan bahwa kekosongan data itu, berlaku secara umum untuk seluruh SWK penerima P2KP di Indonesia. Para Senior Fasilitator menimpali, di SWK 14, data-data tersebut sudah beres (ada) sejak lama. Yang jelas, kita semua maklum, soal data memang begitu repotnya, sehingga ada wilayah sasaran P2KP, yang untuk informasi umum saja, belum dientri atau dientri secara kurang akurat. Sampai-sampai, Bank Dunia pun harus bersikap sedemikian tegas.

Untuk bulan-bulan mendatang, desain SIM P2KP yang baru, sudah harus dilaksanakan. Dalam desain ini, Fasilitator ditempatkan sebagai pelaku utama, yang langsung memasok data ke lumbung data pusat (server) secara online (lewat internet). Hal itu dilakukan tiap 2 minggu sekali, tepatnya pada tanggal 14 hingga 15 dan 28 hingga 29 setiap bulannya. Jadwal ini tidak dapat ditawar, mengingat kebutuhan urgensi pemutakhiran data secara periodik. Bahkan, seandainya pun data yang harus diinput hanya sebaris saja, yang terdiri dari 2-3 angka, Fasilitator tetap harus melakukannya sendiri.

Sebagai bentuk konfirmasi atas data yang diinput Fasilitator tadi, Asmandat (Asisten Manajemen Data) di tiap Korkot, juga mengelola data secara sistem offline. Data offline ini adalah data utama dan pendukung, bisa berbentuk hardcopy, softcopy atau foto-foto yang mengabsahkan input data Fasilitator. Itulah sebabnya, semua Asmandat juga hadir di ‘Hawai’ hari itu. Bahkan, pada Kamis dan juga Sabtu esoknya, Asmandat wajib berlatih serta di’briefing’ khusus di kantor KMW 14 serta disyaratkan membawa laptop. Untungnya, ini tidak berlaku pada Fasilitator.

Pak Zul (TL KMP), Pak Seno (RM 2) dan Pak Antok, sekitar jam 10, pun telah hadir di ‘Hawai’, malah betah sampai setelah waktu Ashar. Tentu, mereka tidak disuguhi tarian hula-hula, melainkan sebotol teh dingin. Beliau semua mengaku puas dengan pelatihan SIM di KMW 14 ini, baik terhadap fasilitas yang disediakan (semua kursi di ruangan ber-AC itu diboking) maupun terhadap keaktifan para Fasilitator yang semula ‘gatek’ (gagap teknologi), menjadi kelihatan pada suntuk lagi piawai berinternet.

Para Fasilitator juga harus maklum bahwa kini mereka perlu menghapalkan ‘password’ (kode/sandi) baru selain kode PIN dari ATM masing-masing. Yakni, password untuk login sebelum entri data ke server P2KP. Pak Revanisa (ini memang nama putra-putra Pak Adi yang dijadikan nama e-mailnya), memberi tugas kepada peserta untuk berlatih simulasi menginput data langsung ke server.

Setelah semua diberi nomor login dan password untuk mengakses, Faskel pun memasukkan angka-angka ke wilayah-wilayah sasaran UPP 2-1 yang dijadikan medan percobaan. Angkanya tentu saja sembarang, karena ini memang percobaan. Wilayah yang dicoba pun, sayangnya bukan wilayahnya sendiri di Jawa Tengah, melainkan wilayah P2KP di Sanggau, Bange, Tabalong (Kalimantan) dan Tomohon atau Kendari (Sulawesi). Tak ayal, Pak Seno sempat menyatakan rasa gelo atau kecewanya, dengan pernyataan mengapa justru di saat seperti ini, SIM UPP 2-2, di pusat sendiri belum siap.

Sedikit kekurangan ini memang menjadi catatan pelatihan SIM KMW 14 ini. Sebab, kita mengkhawatirkan bahwa hal tersebut merupakan indikasi ketidaksiapan, yang justru terjadi pada lini pusat. Niscaya, kita semua akan puas betul jika SIM UPP 2-2 sendiri sudah siap. Dengan demikian, ‘trial and error’ yang ditemui Fasilitator, juga atas dasar pengalaman nyata, meskipun hal itu masih dalam konteks simulasi. Semoga ini menjadi bahan perbaikan diri, agar esok lebih baik daripada hari ini.

(Klaten, 13 Maret 2005, Farid B. Siswantoro, Peserta Pelatihan SIM, Fasilitator P2KP di SWK 14 (2/1) Jawa Tengah; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.