Beranda Warta Cerita Potret Relawan Petani Karet (1): Kerja Keras Tanpa Banyak Bicara

Potret Relawan Petani Karet (1): Kerja Keras Tanpa Banyak Bicara

Comments (0) View (1915)

B

BERBINCANG dengan Sunardi (42 tahun), Koordinator BKM Budi Luhur, Desa Kambitin Raya, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, terasa menyenangkan. Ramah, teratur dalam gaya bicara, perawakan kurus kecil, merupakan gambaran penangkapan awal sosok Sunardi, seorang petani penyadap karet. Sunardi juga akrab dipanggil Pak Carik, lantaran pernah menjabat sekretaris desa dari tahun 1980 hingga 1999.

Sunardi yang mengantongi ijazah SMA (jurusan IPA) ini, saat ini dikarunia 2 orang putra. Si bungsu duduk di bangku kelas 3 SD, sedang si sulung, tengah menuntut ilmu di Pesantren Al Zaitun, Indramayu, Jawa Barat. ”Saya sendiri asli dari Jawa Timur, tepatnya Ngawi,” ujar Sunardi.

Datang ke Kalimantan tahun 1985 yang bermula dari keikutsertaannya dalam program transmigrasi. “Saya tidak punya apa-apa di Jawa, hanya sebidang tanah yang sangat kecil,” tuturnya. “Kami 7 bersaudara, kebetulan saya anak yang kedua. Awalnya, layaknya transmigrasi lain, saya mendapatkan sebuah rumah, tanah dan pekarangan. Saya dulunya menanam palawija,” lanjut Sunardi.

Sejak duduk di bangku SMP, Sunardi pernah menjadi Ketua OSIS dan menjadi Wakil Ketua OSIS di SMA. Sunardi juga aktif di Karang Taruna desanya, bahkan pernah aktif mengajarkan tentang P-4 kepada anak-anak muda desa.

Ketika P2KP 2/1 masuk ke desanya, tepatnya pada tahap awal sosialisasi, Sunardi mengaku sempat agak bingung dengan sebutan dan kepanjangan P2KP. Baginya, singkatan dari Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan, tidak cocok dengan kondisi daerahnya yang masih sangat desa. Tapi kepusingan dan kebingungan itu, tidak terlalu lama ia pikirkan. Bagi Sunardi saat itu, apalah namanya, mungkin desa tempatnya hidup, memang sesuai sebagai sasaran P2KP.

Desa yang dihuni oleh seluruh pendatang transmigrasi dari pulau Jawa ini, sebelumnya pernah pula menerima bantuan Raskin, HR (Hutan Rakyat), dan program P2D. Sunardi melihat bahwa selama ini, program tersebut kurang melibatkan masyarakat. Kalaupun ada, keterlibatannya hanya pada elit-elit tertentu di desa, sehingga sasarannya tidak tercapai, serta bukan dinikmati masyarakat yang betul-betul miskin.

Sunardi bercerita, bagaimana dirinya juga belajar banyak dari desa tempat tinggalnya kini, terutama tentang bagaimana susahnya membangun sebuah desa transmigrasi. ”Setelah saya mengundurkan diri dari tugas sebagai Carik, karena saya juga tidak terpilih lagi, saya melihat dari teman-teman aparat/perangkat desa yang lain, kurang memberikan perhatian pada mereka yang miskin,” ujarnya.

Masyarakat, dengan mengganti dirinya sebagai Carik, rupanya ingin pembaharuan di wilayahnya, tapi ternyata, yang terjadi malah lebih parah. “Masyarakat malah mendatangi saya kembali dan meminta saya menjadi Carik. Tapi, saya tidak menerima tawaran itu. Saya merasa, sebenarnya berat sekali menjadi aparat, kalau ada yang tidak beres sedikit, mereka (masyarakat--red) mencaci maki tidak karuan,” ujar Sunardi.

Dalam posisinya sebagai kepala keluarga, Sunardi mempunyai harapan bagi kedua anaknya. Meski harapannya bersahaja, ia hanya mencoba mengajarkan dan menanamkan sejak dini akan nilai-nilai agama sebagai pondasi. “Kami hanya berharap agar nantinya, mereka (anak-anaknya--red) bisa mengabdi pada masyarakat. Maka, anak tertua saya, masuk yayasan/pesantren Al Zaitun di Jawa Barat,” ungkapnya. “Waktu itu, biaya masuknya saja sebesar 3000 U$. Saat mendaftar saya ingat, ketika ditanya apa pekerjaan orang tuanya, anak saya menjawab petani. Mereka (pihak pesantren--red) tidak percaya, bagaimana mungkin anak seorang petani penyadap karet bisa menyekolahkan anaknya ke pesantren Al Zaitun. Tapi, uang pendaftaran itu, memang saya kumpulkan dari hasil jerih payah dan keringat kerja saya, kemudian saya tabung sedikit demi sedikit,” paparnya.

Karena cita-citanya untuk menjadi dokter dan tentara, kandas, di tengah rasa putus asanya, Sunardi membawa keluarganya merantau ke Kalimantan. Sebagai peserta transmigrasi, ia mendapat tanah di awal transmigrasinya sebesar 2 hektar, 1 ha untuk usaha, seperempatnya untuk pekarangan, dan 3/4 lahan untuk usaha, termasuk rumah. Kini, Sunardi bisa panen, dari semula lahannya yang 1 hektar perkebunan karet, menjadi 8 hektar tanah, yang dibelinya sedikit-demi sedikit.

Dari hasil panen 1 ha saja, Sunardi bisa mendapatkan 50 kilogram karet, yang dijualnya sekitar 3 ribu rupiah perkilonya. Artinya, ketika panen, ia bisa mendapat sekitar 150 ribu rupiah perhari (bayangkan saja, jika 8 hektar kebun karetnya kelak panen semua, berapa penghasilan Sunardi), dan ini adalah buah perjuangan yang keras atas keuletan Sunardi. Sementara, banyak transmigran lainnya, yang diawal-awal saja, sudah menjual tanah garapannya. Ironisnya, pada saat uang tersebut telah habis, mereka malah menjadi buruh tani di bekas tanah garapannya.

Usaha yang dilakukan Sunardi bukan tanpa kegigihan dan kemudahan. Bertahun-tahun, Sunardi telah memulai rutinitasnya, dimana dirinya harus senantiasa bangun pukul 4 dinihari, kemudian bersama isterinya, berangkat ke kebun karet. Ia juga mengajak anaknya untuk ikut bekerja agar dapat melihat langsung serta merasakan bagaimana kerja ayahnya, terutama tentang bagaimana arti sebuah kerja keras. Dari sini, dirinya yakin dalam mengajarkan anaknya untuk menjadi pekerja keras, tanpa banyak bicara. (Bersambung)

(Penulis: Luki Wicaksono, Korkot 2 KMW 4 P2KP 2/1 Kalimantan Selatan; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.