Beranda Warta Cerita Potret Relawan Petani Karet (2-habis): Berjuang Dunia Akhirat Lewat P2KP

Potret Relawan Petani Karet (2-habis): Berjuang Dunia Akhirat Lewat P2KP

Comments (0) View (1007)

S

SEJAK P2KP masuk di desanya, Sunardi melihat ada sebuah bentuk perjuangan lain. Menurutnya, P2KP bukan hanya menyangkut masalah dunia saja, tapi juga masalah akhirat. “Artinya, lewat P2KP, seseorang bisa mendapat sesuatu yang lain, kita berjuang untuk dunia dan juga akhirat,” tegas Sunardi.

Begitu kentalnya pemahaman kerelawanan dalam diri Sunardi, yang telah mengaitkan siklus dalam proses program ini, pada tataran makna subtansinya. “Siklus yang ada, mulai dari pemetaan, termasuk mendata siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak mendapat dana bantuan nantinya, yang terpenting sebenarnya adalah, bahwa semua hendaknya ditentukan sendiri oleh masyarakat lewat musyawarah, dirembukkan bersama, yang itu berlangsung secara transparan,” paparnya.

Pemahaman makna semacam ini, membuat Sunardi yang bercita-cita menjadi tentara walau akhirnya kandas ini, seakan terbayar sejak dirinya terpilih sebagai Koordinator BKM. Baginya, keinginannya menjadi tentara sebagai pengabdian, sama bangganya dengan menjadi Koordinator BKM. “Sebuah kehormatan dan kebanggaan, walau tidak menjadi tentara, saya tetap bisa berjuang lewat Badan Keswadayaan Masyarakat ini, yakni berjuang bersama mengatasi kemiskinan,” tuturnya.

Sunardi teringat saat berlangsungnya pemilihan BKM di desanya. “Waktu itu, kami mewakili 3 hingga 5 orang dari RT, termasuk saya, untuk pemilihan di tingkat desa. Pemilihan berlangsung dari jam 14.00 hingga pukul 19.00 WIT di Balai Desa. Saat pemilihan, proses yang berlangsung sangat transparan dan tidak ada kampanye sedikitpun. Akhirnya terpilih 13 orang yang duduk di BKM, yang kami beri nama BKM Budi Luhur. Alhamdullillah, saya dipercaya untuk menjadi Koordinator BKM Budi Luhur,” papar Sunardi.

Perasaan pribadi Sunardi yang telah dipercaya sebagai Koordinator BKM, selain sangat bersyukur karena masyarakat memberikan kepercayaan, juga bersyukur karena dirinya masih diberi kesempatan bisa berbuat sesuatu untuk orang banyak. Baginya, semua ini ibarat orang menanam kebaikan, yang tidak harus dipanen sekarang. Sunardi yakin, suatu saat, buah yang ia tanam sekarang, bisa dipetik oleh anak dan keturunannya kelak.

Cerita lain mengalir dari laki-laki yang juga bercita-cita ingin menjadi dokter ini, tentang bagaimana ia menanggapi kegelisahan masyarakat. Tanpa ada yang disembunyikan, ia berusaha menjelaskan bahwa proses P2KP ini, semuanya berlangsung dengan sangat transparan, walau konsekuensinya membutuhkan waktu yang lama untuk itu, karena yang diutamakan adalah proses. Kemudian, lanjutnya, semua masalah yang muncul tersebut, dibahas berdasarkan rapat dan keputusan bersama. Pengertian sedemikian terus diberikan pada masyarakat yang lain, bahwa proses P2KP, begini adanya. Dan Sunardi bersyukur, hingga kini, masyarakat bisa menerimanya.

Sambil tersipu kecil, Sunardi juga tidak tahu alasan pasti bagaimana akhirnya ia bisa terpilih sebagai Koordinator BKM. Sunardi hanya mengira-mengira, mungkin, saat menjadi sekretaris desa/kelurahan, warga telah bisa menilai bagaimana kerjanya, dimana, ia selalu menekankan, bila ada permasalahan, baik ataupun buruk, harus dibicarakan serta dihadapi bersama. “Seberat apapun masalah itu, usahakan tidak membiarkannya bertumpuk,” ujar Sunardi mengungkapkan prinsip hidupnya.

Masih menurut Sunardi, dirinya tertarik dengan bagaimana P2KP mengangkat harkat manusia pada fitrahnya, yang memang tidak ada perbedaan. “P2KP mengangkat nilai-nilai ini kembali. P2KP tidak membedakan status sosial, ekonomi, budaya, miskin, kaya. Mereka sama-sama menjunjung hak masing-masing individu,” jelas Sunardi tentang P2KP.

Sunardi juga bersyukur bahwa dalam BKM-nya, semua golongan bisa terwakili. “Dari golongan miskin, mampu, lebih mampu, semua keputusan kami junjung tinggi sesuai dengan nurani, tidak mementingkan kelompok A atau B atau C. Dengan tetap memperhatikan harkat individu sebagai manusia, hak asasi mereka dijunjung sama-sama,” jelas laki-laki yang selalu berfikiran positif ini.

Meski begitu, ada satu hal mengganjal yang ia rasakan di P2KP (entah, apakah ini disebut kritik, menurutnya). Sunardi melihat, jadwal dengan kondisi-kondisi yang sudah direncanakan di proses ini, kerap mundur (berubah-ubah). Ketika ditanyakan pada Faskel, ini disebabkan akibat keterlambatan dari Pusat. Hingga, sempat terbersit pada pikirannya, bahwa bagaimanapun, proses pemberdayaan di P2KP ini, masih sangat tergantung atas keputusan dari Jakarta. (Selesai)

(Penulis: Luki Wicaksono, Korkot 2 KMW 4 P2KP 2/1 Kalimantan Selatan; Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.