Beranda Warta Cerita Berjuang ke Sekolah Siswa SD Ilangata

Berjuang ke Sekolah Siswa SD Ilangata

Comments (0) View (1190)

S

SENGATAN terik matahari, tetap saja mengiringi perjalanan Tim Pemetaan Swadaya (PS) dan rombongan. Namun, kondisi ini tidak pernah menyurutkan semangat juang mereka dalam mengemban tugas mulia. Ada sekian kajian yang harus dilakukan oleh Tim PS. Diharapkan pula, perencanaan ke depan dibuat sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan di desa ini.

Dusun Lomuli, kali ini sebagai sasaran kajian dan transek (penelusuran lingkungan) untuk merumuskan dan menemukenali permasalahan, potensi dan kebutuhan, dalam penanggulangan kemiskinan di Desa Ilangata, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo umumnya, serta Dusun Lomuli khususnya.

Sekitar 3 km, jarak antara posko Tim Fasilitator yang terletak di pusat desa menuju ke Dusun Lomuli, perjalanan panjang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki menyeberangi beberapa sungai  dan melewati jalan yang berbukit bukit dengan melibatkan para Tim PS, Relawan, pemuda dan tokoh masyarakat sebagai orang–orang yang peduli akan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, terutama masyarakat lemah/miskin di desanya.

Dalam perjalanan itu, terlihat seorang siswa SD duduk termenung dan berteduh di bawah rindangnya pepohonan hutan Lomuli. Suasana ini dimanfaatkan oleh Tim PS dan rombongan, untuk juga istirahat sejenak melepas lelah, setelah mengarungi bukit terjal menurun, mendaki dan menyeberangi beberapa sungai.

“Tidak sekolah, Adik?” sapa salah seorang Tim PS pada siswa tersebut, “Tidak Pak, saya istirahat di sini, setelah itu melanjutkan perjalanan ke sekolah,” dijawabnya sambil malu-malu. “Jam begini baru melanjutkan perjalanan ke sekolah, dari rumah berangkat jam berapa?” tanya Tim PS sembari melirik jam yang telah menunjukan hampir pukul 10 siang. “Ya Pak, saya berangkat ke sekolah, mulai dari rumah jam 5 pagi,” sahut siswa tersebut sambil mengusap keringat di dahinya.

Memang, ini adalah salah satu dari sekian banyak siswa SD Ilangata, terutama siswa Dusun Lomuli yang dihadapkan pada masalah jauhnya akses pendidikan mereka. Bahkan, beberapa siswa berangkat sekolah subuh-subuh, dan ketika sampai sekolah, sudah terlambat. Jarak yang harus ditempuh siswa dari rumah ke sekolah mereka, memang cukup jauh serta memakan waktu cukup lama. Dan susahnya lagi, perjalanan ini hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Orang tua umumnya berangkat ke kebun, sedang anak-anaknya pergi ke sekolah. Walau, sesampainya di sekolah, hanya 1 atau 2 jam saja untuk bisa menerima materi pelajaran. Belum lagi, ruangan kelas yang tidak memadai, dimana dalam 1 kelas diisi sekitar 90 hingga 100 siswa, dengan tempat duduk yang kurang, hingga ada sebagian siswa yang harus rela berdiri. “Bahkan yang lebih memprihatinkan, dari sekian banyak siswa, hanya ditangani oleh 1 atau 2 orang tenaga pengajar saja,” ungkap salah seorang Relawan Dusun Lomuli.

Seperti biasanya, setibanya di Lomuli, sambutan dan keramahan masyarakat cukup dirasakan oleh Tim PS bersama rombongannya. Acara segera dilanjutkan dengan pemetaan dusun, disusul dengam beberapa kajian yang dihadiri oleh tokoh-tokoh serta masyarakat setempat.

Pada kajian pendidikan, terungkap permasalahan yang dialami oleh siswa tadi sebagai wakil dari sekian banyak siswa yang ada di Dusun Lomuli khususnya. Selain itu, juga ada masalah tentang jalan dusun menuju pusat desa yang mempunyai kondisi buruk, terutama di musim hujan. Pertanian hanya mengandalkan tadah hujan dengan jarak antar rumah penduduk saling berjauhan, demikian pula kondisi listrik desa yang minim.

Setelah beberapa kajian dilaksanakan secara bergantian oleh Relawan, acara segera ditutup. Tetapi, ada hal yang disampaikan Kepala Dusun yang intinya mengharapkan kepada para pengambil kebijakan agar masalah pendidikan menjadi perhatian utama di wilayah ini, selain juga masalah-masalah lain yang telah dirumuskan berdasarkan hasil Pemetaan Swadaya warga.

(Sebagaimana dituturkan oleh Samian Henga, SH, Tim Fasilitaor 6 KMW 5 P2KP 2/1, Ilangata, 22 Maret 2005, Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.